Ini cerita dari seseorang; yang hidupnya kini sangat disyukuri. Cerita ini terjadi puluhan tahun lalu, ketika dirinya masih duduk di kelas 2 SMP.

Di Sebuah mesjid sederhana, di tengah kampung. Di malam itu, adalah salah satu malam ganjil di bulan Ramadhan; bulan mulia yang segala amalan berlipat ganda pahalanya. Saya, bersama dengan 2 teman, duduk berdzikir di mesjid dekat rumah. Sepi sekali suasana saat itu.

Sengaja kami duduk bersila agak berjauhan. Saya di sisi kanan, teman saya di tengah dan satu lagi di sisi kiri. Semuanya memegang tasbih, berdzikir, mengumandangkan kalimat memuji dan meminta; memuji dan meminta….Karena Allah Maha Terpuji dan Maha Pemurah.

Saya memejamkan mata, tangan bergerak teratur, seiring bergeraknya tasbih; bersama itu pula mulut dan hati saya mengucap..

Subhanallah.. wal hamdulillah.. wala’ilah ha ilallah… hu allahu akbar…

Berulang-ulang, sampai mata saya agak terpejam, nyaris tertidur. Tiba-tiba, dalam keadaan duduk bersila, terasa badan seperti agak mengangkat, melayang tepatnya.

Saya, yang saat itu masih usia 15 tahun, mendengar kabar, memang banyak kejadian aneh-aneh dan kalau ke-aneh-an itu diikuti, bisa berdampak yang tidak baik.

Saya pun langsung merebahkan diri, meletakkan tangan di sisi kiri kepala dan berusaha untuk tidur. Terlelaplah saya dalam waktu singkat.

Tibalah mimpi itu; yang sampai saat ini tak pernah saya lupakan.

Saya berjalan dari luar mesjid, usai mengambil air wudhu, dan menuju shaf depan masjid; hendak melakukan shalat witir.

Saya terhenyak, karena di dekat mimbar, di tempat imam, ada seseorang berpakaian putih, bersorban putih, sekelilingnya diliputi cahaya. Mimbar yang didiaminya, tak seperti mimbar yang di mesjid sesungguhnya, tapi lebih indah lagi.

Seperti ada sesuatu yang menyusup langsung ke dalam hati saya. Rasa yang nyaman, lega, dan hati ini bak terlepas dari segala beban yang ada. Tak terlukiskan keindahan rasanya.

Saya memberanikan diri mendekat; tiba-tiba salah seorang dari makmum yang ada di shaf tersebut, berkata kepada saya..

“Nabi Muhammad Salallahu’alaihi wassalam…” memberi tahu bahwa yang di dekat mimbar itu adalah Yang Mulia, Teladan Segala Jaman.

Bertambahlah rasa nyaman di hati saya, bertambahlah rasa syukur di hati saya, dipertemukan dengan seseorang yang setiap umat Islam sebut dalam setiap shalat.

Saya hanya terpaku menatap, sebelum kemudian terbangun dari mimpi.

Segera saya ke tempat wudlu, berwudlu dan melakukan shalat witir. Suasana sangat senyap.. Senyap sekali. Indah.. indah sekali. Terasa sampai ke hati.

Mimpi itu tak pernah saya lupa. Mimpi itu sungguh memberi sugesti kepada diri saya untuk selalu bersyukur dan percaya, bahwa selama ikhlas dalam niat, maka apa pun kesulitan akan teratasi. Memang ada yang berkata, bahwa bermimpi bertemu Nabi adalah keberkahan yang akan membuat hidup menjadi berkah; akan tetapi bagi saya, apa pun yang dilakukan adalah bagian dari usaha untuk bersyukur kepada Allah.

Saya memang sangat ingin bertemu dengan Nabi, sehingga setiap shalata, pujian tak sekedar ucapan, tapi sungguh sepenuh hati saya ucapkan. Dan, alhamdulillah Allah memenuhi permohonan hamba-Nya. Tak semua orang bisa bermimpi bertemu Nabi, oleh karena itu, pengalaman dalam mimpi itu seperti tak akan hilang di hati saya, bahkan ketika usia saya menjelang 60 tahun sekali pun.

Sekali lagi, ini cerita dari seseorang yang hidup dengan senantiasa bersyukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *