Meninggalkan Kemapanan Kota untuk Membangun Desa

Merantau ke kota besar seperti Jakarta dan mendapatkan pekerjaan yang mapan membuat sebagian orang tentu enggan kembali ke kampung halaman. Baban Sarbana, putra asli Desa Tamansari, Ciapus, Kabupaten Bogor ini, berhasil membangun karier yang mapan di ibukota. Tetapi ketika ia kembali untuk berlibur, ia melihat desa tempat kelahirannya itu masih tetap terbelakang dan miskin. Ia lalu berpikir untuk mengubah wajah muram saudara-saudaranya di Tamansari. Apa dan bagaimana sepak terjangnya? SWA Online berkesempatan mewawancarainya saat mengikuti acara Bina Desa yang diadakan PPM Management School, di Desa Tamansari tersebut.

 

 

 

Awalnya bagaimana Anda membangun Yatim Online ini ?

 

Jadi saya ini putra asli dari kampung Desa Tamansari. Masih keturunan dari sesepuh yang membangun kampung ini dari awal. Alhamdulillah, berkat usaha orang tua saya dapat kesempatan kuliah, S1 Ilmu Komputer di Institut Pertanian Bogor (IPB) 1992 – 1997, kemudian saya mendapat beasiswa dari Kementerian Pemuda dan Olah Raga sehingga saya bisa melanjutkan ke pascasarjana, di Magister Ekonomi, Universitas Indonesia.

 

Saya sempat bekerja di sebuah rumah produksi, Triwarsana, saya ikut beberapa program produksinya sebagai Creative Producer seperti Kuis Siapa Berani, Uang Kaget, Penghuni Terakhir, beberapa reality show. Saya bergabung di sana selama 7 tahun. Saya kemudian pindah bekerja sebagai asisten salah satu komisaris di Bakrie Group, tugas saya membuat naskah pidato komisaris.

 

Kemudian tahun 2010 saya pulang kampung, saya melihat kampung saya kok masih begini saja, masih miskin. Menurut saya kemiskinan itu bisa menular ke mana-mana. Jadi tekad saya adalah minimal membangun semangat masyarakat di kampung ini untuk keluar dari kemiskinan, semangat mau berubah lebih baik.

 

 

 

Persisnya seperti apa gambaran kemiskinan di Desa Tamansari saat itu ?

 

Umumnya mereka bekerja sebagai buruh tani atau ke kota jadi buruh kasar. Selain itu para orang tua tidk ada yang memotivasi anak-anaknya agar tidak lagi mengikuti jejak orang tua. Anak-anak tidak dimotvasi agar mau sekolah, berjuang supaya bisa terus sekolah, tidak ada motivasi seperti itu. Ketika anak-anaknya memutuskan berhenti sekolah dan bekerja, orang tua seperti pasrah saja, sudah nasib. Ini yang membuat saya berpikir, anak-anak itu punya potensi dan bakat. Saya yakin mereka bisa dapat masa depan lebih baik kalau didorong.

 

Lalu apa yang pertama kali Anda lakukan untuk memulai gerakan perubahan itu ?

 

Awalnya di tahun 2010 itu saya coba dengan crowdfunding, saya kumpulkan dana untuk santunan anak yatim lewat Facebook, ternyata santunan tidak menyelesaikan masalah, karena santunan banyak yang dipakai untuk konsumtif, jadi ternyata tidak berkesinambungan. Sekali dikasih, habis terpakai, tidak produktif. Akhirnya saya ubah ke pendanaan mikro (microfinance). Modal ini awalnya saya ambil dari kantong sendiri, tetapi kemudian saya publikasikan lewat fFcebook dan beberapa organisasi yang saya ikut, kemudian ada juga kenalanan dan teman-teman yang mau ikut sebagai angel investor.

 

 

 

Masyarakat yang ikut dalam program microfinance itu berapa banyak ?

 

Awalnya ada 20 orang ikut, semuanya ibu-ibu, umumnya single parent dengan pendidikan rata-rata lulusan SD dan SMP. Mereka masing-masing dapat pinjaman modal Rp 500 ribu, nah, itu cicilannya kami sebut Cilawi (cicilan awi) karena dia menabung cicilan dalam celengan bambu, nanti setiap seminggu sekali dia setor, jadi di akhir minggu dia menyetor Rp 25 ribu. Selama 25 minggu. Nah, modal yang sudah kembali itu kami pinjamkan lagi ke anggota baru. Sekarang mereka yang sudah jalan, menambah lagi modal, dengan pinjaman rata-rata Rp 1 – 2 juta per orang.

 

Nah, anak-anak dari para ibu itu juga ketika sudah selesai SMU, mereka mau bekerja, saya kemudian ajak untuk bangun usaha, kami sama-sama bangun CV Sukses Berkah Mandiri. Selain itu ada juga kami ikutkan kursus Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak (PGTK) untuk dapat sertifikat jadi guru PAUD/TK, mereka kemudian mengajar di PAUD An Nahlya yang kami bangun.

 

 

 

Apa lagi kegiatan yang dibangun Yatim Online ?

 

Kami juga mengajak anak-anak yatim yang tergabung dalam yatim Online ini membuat produk-produk kreatif yang bisa di jual. Misalnya membuat mainan puzzle, lalu dijual ke perusahaan – perusahaan, hasilnya bisa terkumpul dana lebih dari Rp 20 juta ditambah juga dana dari donatur, hasilnya mereka bisa bangun bangunan PAUD. Kemudian kami juga mengajak mereka membuat tanaman hias hidrogel, hasilnya mereka bisa meraup untung lebiha dari Rp 25 juta dan dananya digunakan untuk bangun kumbung jamur untuk budidaya jamur tiram. Jadi uangnya terus berproduksi.

 

Ke depan, rencana dan target yang akan dilakukan untuk Yatim Online ini ?

 

Kami akan bangun koperasi yang kelak akan jadi cikal bakal operator kampung wisata Zimba (Gizi Seimbang). Jadi Zimba itu adalah sebuah konsep wisata edukasi dan budaya. Di dalamnya pengunjung belajar mengenai bahan pangan dan kandungan gizinya. Serta bagaimana mengolahnya agar jadi makanan yang enak dan bergizi seimbang. Jadi nanti wisatawan, targetnya anak usia 5 – 12 tahun, mereka belajar mengenai bahan pangan, misalnya memanen sayuran atau ikan di kolam. Lalu sayuran dan ikannya mereka oleh sendiri, hasil olahannya bisa dijadikan oleh-olehnya.

 

Nah, untuk itu kan perlu wahana, seperti di pusat permainan anak-anak yang ada di mal – mal besar. Jadi setiap wahana jadi tempat anak bermain dan belajar membuat sesuatu atau berperan jadi siapa. Nanti di kampung ini, ada 15 rumah yang akan dipakai jadi wahana. Rumah-rumah itu adalah rumah para ibu yang tergabung dalam kelompok microfinance itu tadi. Jadi nanti rumahnya jadi wahana buat anak-anak belajar membuat kripik jamur, itu namanya rumah jamur. Lalu ada rumah cincau, rumah pohpohan, dan lainnya.

 

Jadi nanti kami mau bangun di depan kampung kami ini, sebuah gerbang selamat datang di kampung Zimba, wisata edukasi gizi seimbang. Pengunjung akan beli tiket terusan dan diberi gelang tanda masuk serta sebuah peta berisi jalur ke masing-masing wahana. Nanti disetiap wahana ada games dan petualangannya. Kira-kira seperti itu gambarannya kampung Zimba nantinya.

 

Apa tujuan Anda membangun kampung Wisata Zimba ?

 

Saya ingin mereka jadi tuan di rumahnya sendiri. Sebab begini, di sekitar kampung kami ini banyak berkembang obyek-obyek wisata besar tetapi pengelolanya itu orang dari kota, nah, penduduk disini kalau dilibatkan ya hanya sebatas jadi petugas parkir atau petugas kebersihan. Dengan konsep kampung Zimba ini saya mau mereka jadi “tuan” pengusaha dari aset yang sudah ada.

 

Ada obyek wisata apa saja di sini ?

 

Di sini ada beberapa air terjun, ada Curug Luhur, Curug Cigamea, Curug Nangka, Curug Seribu, sekitar ada 40an air terjun di daerah sini. Kemudian kalau terus ke atas ada Kawah Ratu. Jadi konsep kampung gizi seimbang ini sebenarnya konsep mengembangkan dari yang sudah ada. Jadi sebelumnya kan ibu-ibu di kampung ini sudah memproduksi makanan ringan dan lainnya tetapi maish jalan sendiri, tanpa supervisi. Produknya pun tanpa merek dan kemasan yang baik, lalu mereka juga berusaha memasarkan sendiri. Jadi dari kampung wisata gizi seimbang itu kami sasar targetnya adalah para wisatawan alias orang-orang kota yang berwisata ke sekitar kaki Gunung Salak ini, khususnya di Desa Tamansari ini. Karena desa Tamansari ini oleh pemerintah Kabupaten Bogor ditetapkan sebagai desa wisata.

 

Lalu nanti bagaimana caranya memasarkan paket wisata Kampung Zimba itu ?

 

Saya niatnya akan dipasarkan lewat media sosial, lalu akan ada aplikasi game online Kampung Zimba juga. Kami juga nantinya akan buka showroom mini di Kebun Raya Bogor. Jadi dari show room itu calon pengunjung bisa bereksperimen jika bermain di Kampung Zimba, dari situ jika tertarik mereka bisa memesan paket untuk datang ke Kampung Zimba. (EVA)

 

Sumber: http://swa.co.id/profile/baban-sarbana-tingggalkan-kemapanan-kota-demi-bangun-kampung-halaman

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.