Mencintai yang Dicintai (Catatan Maulid Nabi)

Catatan Maulid Nabi

Adalah seorang mulia yang layak untuk dicintai, karena dialah yang sangat dicintai-Nya. Kemuliaannya sebagai hamba Allah swt. adalah kemuliaan di semua sisi kehidupan. Sebagai suami, kepala negara, pemimpin perang, sahabat, ayah, guru, mitra usaha. Semua sisi yang menunjukkan sisi paling sempurna dari semua bidang kehidupan.

Pribadi mulia yang dijamin sebagai kekasih-Nya. Pun tak lepas dari permusuhan, perlawanan, hasutan, rekayasa, penghinaan. Itulah ujian menjadi kekasih-Nya. Itulah indicator menjadi penyampai risalah-Nya.

Pribadi mulia yang mendapat julukan Al-Amin, bahkan ketika belum resmi ‘dilantik’ menjadi Rasul; karena baru 15 tahun kemudian, kerasulan menjadi bagian dari kehidupannya yang penuh dengan tinta emas dan berlian.

Pribadi mulia yang diperintahkan untuk dicontoh, karena memang super layak untuk dicontoh. Disebut di setiap sholat; sayangnya tak semua muslim sholat, atau bahkan yang sholat pun tak sadar dengan apa yang diucapkannya.

Padahal syahadat; pengakuan akan ke-MahaTunggal-an Allah swt. dan kesempurnaan akhlak Rasul, terucap 9 kali dalam shalat wajib. Belum lagi dalam shalat-shalat sunat lainnya.

Padahal syahadat adalah sebuah sumpah yang menghujam dalam hati, bahwa Tiada Tuhan selain Allah swt.. Kenapa masih ada rujukan pertolongan selain kepada Allah swt.? Kenapa masih ada perbuatan yang seolah tak akan diawasi oleh Allah swt.? Mengapa masih ada sembahan semu selain Allah swt.?

Padahal syahadat adalah sebuah sumpah yang menghujam dalam hati, bahwa Muhammad saw. adalah Utusan Allah swt.. Bahwa Muhammad saw. adalah rujukan dalam bagaimana menjalani hidup. Kenapa masih ada manusia yang merujuk pada contoh-contoh yang tak ada dalam diri Muhammad saw.? Kenapa masih ada manusia yang menjadikan Muhammad saw. sebagai sanjungan yang hanya sebatas ritual belaka, tidak sampai esensi konseptualnya?

Ada manusia yang mengaku Tiada Tuhan Selain Allah swt., tapi tak mengakui Muhammad saw. sebagai Rasulullah. Jadinya, dia murni beribadah kepada Allah swt., tapi lupa cara Muhammad saw. menjadi bagian dari masyarakat, bagaimana Muhammad saw. memimpin negara, melawan kemunkaran?

Ada manusia yang mengidolakan Muhammad saw. sebagai rujukan hidup, tapi memiliki Tuhan selain Allah swt. Jadilah dia mengadopsi cara hidup Muhammad saw. dan memperoleh kesuksesan hidup (sebenarnya semu), tapi tak menjadi berkah, tak membuatnya mendekat kepada Allah swt.

Padahal, Allah swt. Menyaratkan takwa untuk berada di samping-Nya. Takwa itu adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Bagaimana mungkin bisa ada di samping-Nya, jika tak memenuhi persyarata-Nya?

Padahal, kelak di kemudian hari, di hari yang kekal abadi, setiap umat akan dipimpin oleh Rasulnya; dan bagaimana mungkin seseorang akan menjadi bagian dari yang dipimpin seorang Rasul jika ketika di dunia tak mengikuti konsep hidupnya?

Syahadat adalah paket. Tentang Tiada Tuhan selain Allah swt. DAN Muhammad adalah Utusan Allah swt. Sekali lagi DAN, bukan ATAU.

Mencintai yang Dicintai-Nya adalah sebagai dari Mencintai yang Tercinta

2 comments to “Mencintai yang Dicintai (Catatan Maulid Nabi)”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. Dahulu pada zaman Rasulullah, kaum musyrikin tidak mau mengucap syahadat karena takut akan konsekuensi bahwa jika syahadat diucapkan, mereka harus meninggalkan sesembahan-sesembahan mereka. Tapi pada zaman sekarang betapa banyak orang mengucap syahadat tetapi masih berlumur dalam kesyirikan. Mari kita murnikan peribadatan kita hanya untuk Allah dengan cara yang telah Allah ajarkan melalui Rasul-Nya.

  2. abiy awliyaa says: March 10, 2009 at 4:07 am

    Learning from the FAST leader.
    F = fatonah
    A = amanah
    S = siddiq
    T = tabligh

    allahumma solli ‘ala muhammad,
    yaa robbiy solli wasallim wabaarik alaih.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.