Hidup manusia tak lepas dari upaya untuk tetap dicintai Allah. Allah Maha Mencintai semua orang; akan tetapi, kadang orang tak tahu, tak mau atau bahkan tak mau berusaha untuk menjadi manusia yang layak dicintai-Nya.

Berikut, oret-oretan saja, tentang kuadran dari kesenangan dan kebencian manusia terhadap kesenangan dan kebencian-Nya. Ada 4 kondisi Senang Benci, saya coba tuliskan. Ini hanya opini saja, jadi bisa betul bisa salah.

1. Membenci yang Disenangi-Nya.

Ini adalah orang-orang yang kecil peluangnya untuk dicintai Allah; karena apa yang disenangi Allah, malah dibencinya. Misal, berbagi rezeki, bersedekah adalah bagian dari tindakan yang disenangi-Nya; eh, malah menganggap bahwa bersedekah akan mengurangi rezekinya. Berbuat baik kepada orang tua, walaupun orang tua itu melakukan tindakan yang tidak menyenangkan adalah tindakan yang disenangi-Nya; eh malah, menghitung-hitung dulu, kapan harus berbakti dan kapan tidak berbakti. Kalau orang tua-nya ngerepotin, tak mau dia berbakti. Berbaktinya pilih-pilih.

Orang yang membenci sesuatu yang disenangi-Nya, punya peluang untuk tidak disenangi-Nya. Ngeri bener kalau kita tidak disenangi-Nya.

2. Menyenangi yang dibenci-Nya.

Nah, yang satu ini, adalah orang-orang yang tertipu dengan keindahan duniawi. Segala sesuatu yang dibenci-Nya, biasanya nampak menyenangkan di kasat mata, nikmat sesaat saja, memberikan kesenangan sesaat saja. Orang-orang ini menyenangi barang yang diharamkan, terlibat dalam aktivitas yang  merugikan banyak orang dan tentu saja bahagia di atas penderitaan orang lain. Orang-orang yang menyenangi yang dibenci-Nya, biasanya adalah orang-orang yang berpikiran pendek, mementingkan diri sendiri dan tentu saja tak percaya bahwa ada balasan untuk setiap tindakan di akhir hayat kelak.

3. Membenci yang Dibenci-Nya

Ini bagian dari nahi munkar; mencegah kemunkaran. Orang-orang seperti ini punya kekuatan untuk membela apa yang disenangi-Nya sekaligus membenci apa yang dibenci-Nya. Ada kejahatan, dia lawan; ada yang mendzalimi, dia bela. Membenci yang disenangi-Nya membuat hidupnya memang berada di tengah risiko, karena membenci yang disenangi-Nya, membuat dia bisa dibenci oleh orang-orang yang menyenangi yang dibenci-Nya.

Butuh kekuatan untuk bisa membenci apa yang dibenci-Nya.

4. Menyenangi yang disenangi-Nya.

Orang-orang ini adalah agen amar ma’ruf. Menngajak orang untuk berbuat baik, mendekatkan diri kepada Allah. Hidupnya damai, lurus dan menginspirasi banyak orang. Senang bersedekah dan senang mengajak orang bersedekah; senang berdo’a dan mendoakan orang lain. Ibadah baginya, bukan untuk diri sendiri, tapi untuk banyak orang, karena di surga tak ada kuota jumlah penghuninya. Dia yakin, Allah Maha Pengampun, makanya, ketika berbuat salah, dia segera bertobat, karena Allah senang dengan hamba-Nya yang bertobat. Dia senang menangis, bukan di hadapan manusia, tapi di hadapan Allah, di tengah malam sunyi; karena dia tahu, bahwa Allah Maha Pencemburu, sehingga tak ada ruang di hatinya untuk Tuhan yang lain, kecuali Allah.

Begitu. Saya sedang berusaha untuk berada di kuadran 3 dan 4; semoga tak ada di kuadran 1 dan 2.

Semoga manfaat.

One thought on “Menyenangi yang Dibenci-Nya

  1. Jadi kuadran 3 banyak resikonya..termasuk di fitnah media,lingkungan bahkan sahabat..kadang penjara dan kehilangan nyawa adalah resiko yg harus di tanggung..dan kami mewakili laskar FPI siap menanggung semuanya. .bila membela ALLOH adalah perbuatan terorisme.. Maka dengan bangga kami mengaku bahwa KAMI ADALAH TERORIS!! Terima kasih ya akhiul kaarim atas dukungan kpd kuadran 3..semoga ALLOH menolong kita semua. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *