Ketika pulang naik kereta ekonomi, saya agak kesal, karena jadwal terganggu, keretanya mogok di stasiun Pasar Minggu. Pengumuman itu berulang-ulang disampaikan. Makin lama, bikin ngga nyaman.

“Mohon maaf kepada para penumpang, kereta ekonomi tujuan Bogor, saat ini sedang mengalami perbaikan di stasiun Pasar Minggu…”

pengumuman itu kemudian disusul dengan pengumuman lain

“Mohon maaf kepada para penumpang, kereta ekonomi tujuan Bogor, akan diberangkatkan berikutnya, menunggu kereta Pakuan Ekspress dan Ekonomi AC”

Jadi, kereta yang tiketnya lebih murah menungggu kereta yang tiketnya lebih mahal.

Dari semula, saya terjadwal pulang dengan kereta jam 17.12, akhirnya kereta yang ditunggu muncul jam 19.20. Itu pun dilewati oleh kereta AC tiga kali. Ketika kereta AC Ekonomi yang harga tiketnya Rp 6.000 berhenti di stasiun Depok Baru, maka penumpang pun berhamburan keluar.

Saya melihat ada perbedaan dari penumpang kereta AC Ekonomi dengan kereta Ekonomi. Mereka agak lebih rapih, wajahnya lebih tenang. Sementara yang di kereta ekonomi (termasuk saya), terpaksa harus kusut bajunya, wajahnya penuh perjuangan, ketika masuk atau keluar. Kelihatan berdesak-desakan, tapi masih bisa menampilkan wajah yang santai.

Padahal beda harga tiketnya hanya Rp. 4.000. Padahal di kereta AC, tidak boleh merokok, sementara di kereta ekonomi, banyak orang merokok, yang kalau dihitung harganya sebenarnya sama dengan harga tiket AC Ekonomi (dihitung harga rokok plus harga akibat merokok).

Memang, selisih Rp 4.000 itu berarti banyak. Bukan hanya masalah AC dan non AC, tapi cara bercanda-nya, kesumpekannya, interaksinya, perjuangannya pun sangat berbeda. Di AC Ekonomi, kebanyakan duduk tenang, kalau pun duduk di bawah, menggunakan koran dan santai saja. Selisih harga Rp 4.000 itu untuk membeli kenyamanan.

Bagaimana dengan kelas ekonomi? Kalau lagi penuh, ngga mungkin bisa duduk. Tas ditaruh di depan, dipeluk. Badan harus miring kalau mau keluar. Obrolannya? hmmm, kebanyakan obrolan pasar. Desak-desakan buat yang mau keluar dan mau masuk. Sangat tidak nyaman.

Pagi ini pun, Sabtu, saya kira lengang. Ternyata, masih penuh. Jadilah saya tetap berjuang untuk keluar dari kereta ekonomi. Harganya memang hanya beda Rp 4.000 dengan kelas AC. Tapi, bisa merepresentasi bagaimana interaksi antar penumpangnya. Itulah kenapa beberapa orang rela mengeluarkan lebih, karena ingin membeli kenyamanan.

Saya baca koran Media Indonesia, saya baca juga ada artikel tentang harga BBM premium dari harga ekonomi yang Rp 3.900 dengan harga jual yang Rp 4.500. Bedanya memang cuma Rp. 600; tapi, karena itulah pemerintah dituduh melanggar 2 undang-undang karena mengambil keuntungan yang bisa mencapai 1.2 triliun – 1.4 triliun per bulan. Pemerintah dituduh berdagang dengan bangsanya.

Bedanya memang hanya Rp 600, tapi urusannya ngga cuma selisih harga. Urusannya merembet masalah motif, politik dan tentu saja komitmen untuk menjadi pemerintah yang ingin rakyatnya sejahtera.

Selisih harga Rp 4.000 kereta AC dengan kereta ekonomi menjadi representasi interaksi. Representasi bagaimana orang mengeluarkan harga lebih untuk membeli kenyamanan.

Selisih harga Rp 600 harga jual dan harga ekonomi BBM, representasi motif pemerintah dalam mengelola rakyatnya. Mungkin sama dengan motif ingin membeli kenyamanan pada tiket kereta AC. Selisih harga BBM ini juga untuk membeli kenyamanan agar kekuasaannya langgeng.

One thought on “Membeli Kenyamanan

  1. beda Rp 4.000 bagi yang berduit memang tidak seberapa, tapi untuk orang kecil itu cukup untuk membeli beras 1 kg, itupun jenis beras yang banyak kutunya……itu bedanya……….

  2. di luar negeri sekarang ini pada berlomba2 memberi servis di segala yang di jual, terutama kenyamanan. tapi di sini, jangankan kenyamanan, keamanan aja masih belum terpenuhi.

    nice comment…

  3. Lilis ga pernah naik kereta api jadi ga tau dech situasinya

    sekali-kali deh kalau ada di Jakarta.. naik yang rute Jakarta – Bogor, pas jam kerja…hmmmm, seru….!

  4. Wah inget waktu kuliah dulu..rumah masih dijakarta..kuliah di baranangsiang tingkat 1, seru banget tuh naik kereta ekonomi, positifnya…kita jadi punya banyak teman…saling jaga kalau-kalau ada copet merapat….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *