Miris mendengar berita pagi ini dari RCTI yang mengabarkan tentang pemotongan 5% honor para pelipat kertas yang dilakukan oleh KPUD Kota Tanjung Pinang. Saya membayangkan, tentu saja, orang-orang yang menjadi pelipat kertas itu, beberapa diantaranya, mungkin orang-orang yang juga ikut antri ketika ada pembagian BLT. Itupun honornya masih dilipat. Teganya KPUD kota itu melipat honor melipat.

Berita ini membuat carut marut menjelang penyelenggaraan pemilu kali ini seperti mesin waktu, tapi dengan arah terbalik. Gencarnya ‘instruksi’ untuk tidak golput dan berpartisipasi dalam pemilu tak disertai oleh kinerja penyelenggara pemilu itu sendiri.

Pilihan kepada partai yang banyak, caleg yang sumir jejak rekamnya, dan tata cara pemilu yang ‘biar kelihatan cerdas’, berubah dari cara mencoblos menjadi mencontreng; jangan lupa pula perubahan perhitungan suara menjadi suara terbanyak yang belum juga diukur secara akurat dampaknya untuk internal partai maupun eksternal partai.

Saya yang tinggal di kampung, mendengar banyak kebingungan dengan pemilu yang akan mereka ikuti nanti. Sementara, di sekeliling kampung kami, sudah banyak baliho dari para caleg yang terus terang saja masih asing bagi banyak orang di kampung saya. Caleg yang masih asing dan tata cara yang masih sumir tentu saja menjadi kombinasi yang ‘lumayan aneh’ bagi undangan partisipasi rakyat untuk ikut pemilu. Beberapa dari mereka mungkin akan datang ke kotak suara penuh dengan tanda tanya. Masih bagus kalau warga berinisiatif datang ke tempat pemilihan.

Memang, cara cerdas memilih (dengan mencontreng) itu diterapkan kepada masyarakat yang masih banyak yang belum cerdas, bukan karena bodoh permanen, tapi ‘dibuat bodoh’ dengan sosialisasi yang minim, perubahan yang terlalu banyak dan tentu saja kinerja KPU yang bikin miris; entah surat suara yang salah cetak atau salah kirim. Kesalahan yang tentu saja berdampak pada cost yang tinggi.

Maka televisi pun berlomba menjadi ‘duta pemilu’, entah dengan nama TV Pemilu atau Referensi Pemilu, gencar melakukan sosialisasi.

Tak heran, (semoga tak terjadi), di salah satu surat kabar nasional dikemukakan, di ujung pemilu ini pemenangnya secara berurutan adalah pemilih yang salah pilih, golput dan caleg dengan suara terbanyak. Semoga saja ini tak terjadi.

Pemilu katanya pesta demokrasi. Layaknya pesta, seharusnya bisa menyenangkan, karena disiapkan dengan skenario yang matang dengan mempertimbangkan segala aspek yang bisa membuat pesta tersebut dinikmati oleh semua orang.

One thought on “Melipat “Honor Melipat”

  1. Hasil pemilu kayaknya udah bisa ditebak ya mas? Dan hasilnya nanti juga pemerintahan yang prioritas utamanya adalah memperkaya diri dan golongan sendiri. Lagu lama.

  2. seperti yg diprediksikan, banyak orang bingung bagaimana pemilu sekarang ini, kertasnya yg segede koran, banyaknya nama-nama caleg yg tidak mereka kenal serta banyaknya partai. Suara yg tidak sah akan rawan terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *