Baban Sarbana

Social Business Coach

Melibatkan Tuhan dalam Pengambilan Keputusan

Suatu hari, akhir Minggu, week-end, di sebuah hotel di Jawa Timur.

Tak biasanya, ‘guru’ saya dalam salah satu dimensi kehidupan, intens betul berkomunikasi dengan Tuhan. Doanya tambah khusyu. Saya belum tahu apa yang terjadi. Menduga, bahwa ada perubahan besar yang akan terjadi.

Intensitas berkomunikasi dengan Tuhan itu pun berlanjut, ketika di dini hari, ada tayangan televisi, diisi oleh seorang ustadzah muda, bagus banget, menasihati tanpa menyakiti. Saya dibangunkan, saat itu pukul 03.30.

“Nonton Ban.. bagus nih…” kata ‘guru’ saya.

“Acara apa…?” saya menjawab, masih ngantuk sebenarnya. Tapi, memang harus berangkat pagi banget untuk ngejar pesawat jam 07.00.

“Nonton aja.. keren juga nih ustadzahnya..” katanya lagi

Saya juga jadi intens melihat tayangan tersebut. Di televisi dibahas tentang kisah kehidupan yang sebenernya rumit, akan tetapi dengan penjelasan dari Sang Ustadzah yang mengembalikan semuanya kepada Al Qur’an, masalah rumit itu menjadi terlihat sederhana.

Sang Ustadzah memberikan solusi, bahwa dalam mengambil setiap keputusan yang berimbas pada kehidupan, libatkanlah Tuhan di dalamnya, karena apa pun hasilnya, akan membuat hati lapang.

‘Guru’ saya itu juga intens melihat. Saya tak tahu apa yang ada di benaknya. Saya menimpali saja, ketika sesekali dia bertanya dan berdiskusi tentang tema yang dibahas.

Tepat pukul 04.00 acara di televisi itu selesai, kami pun bergegas ke bandara. Terburu-buru sekali ‘guru’ saya itu. Ada kegelisahan yang nyata tampak di wajahnya.

Sampai di bandara, kami menuju lounge. ‘Guru’ saya, langsung ke musholla, intens berkomunikasi lagi dengan Tuhan. Cukup lama. Saya menunggu di luar.

‘Guru’ saya keluar dan menelpon beberapa orang. Tak lama dia bercerita tentang keputusan yang akan diambilnya. Berat, besar, dengan risiko dunia yang besar. Saya kaget, sedih, pilu.

Kemudian, baru saya sadar, bahwa pelibatan Tuhan secara intensif itu memang dibutuhkan ketika akan mengambil keputusan yang cukup berat. Saya memandang ‘guru’ saya, melihat di wajahnya, letih tapi agak cerah.

Semoga saja, apa pun keputusan yang diambil, selama Tuhan dilibatkan, risikonya masih bisa dikendalikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *