Ini cerita dari seorang teman, yang baru ditinggalkan selama-lamanya oleh Ketua RW-nya. 

Pak Ketua RW sudah 3 periode memimpin, masing-masing 3 tahun. Total, dia menjabat 9 tahun. Minggu kemarin, diadakan pemilihan ulang, karena Wakil RW yang seharusnya menggantikan sudah pindah dari kampung itu. Ketika pemilihan, utamanya pada saat serah terima laporan keuangan, ada selisih hingga 6 juta rupiah dari yang seharusnya disetorkan.

Total yang harus dikembalikan kepada warga untuk dikelola pejabat RW berikutnya adalah 16 juta rupiah, akan tetapi yang tersisa hanya 10 juta rupiah. Uang sebesar itu adalah akumulasi dari pengumpulan uang kebersihan, yang kematian dan uang keamanan warga yang dicicil, sebulan 5.000 hingga 10.000. Termasuk juga uang pengelolaan raskin yang pendapatannya 250.000 per bulan. 

Ibu RW (sebenarnya tak menjabat ketua RW, akan tetapi otomatis mendapat julukan itu, karena suaminya adalah RW), yang tak bisa berkata apa-apa, malahan menangis. Tak bisa menjelaskan kemana uang 6 juta itu habisnya. Warga yang masih berdugaan baik, tak curiga ketika Pak RW membangun rumahnya, dan dikatakan Bu RW, uang renovasi rumah pribadinya itu dibiayai oleh anak laki-lakinya yang bekerja di Kalimantan. Warga juga tak bertanya, ketika salah satu anak Pak RW dibelikan motor baru. Beruntung keluarga Pak RW dikelilingi oleh warga yang menahan diri untuk mengeksekusi.

Rupanya, skenario pengelolaan keuangan warga yang dikelola Pak RW itu dikendalikan isterinya. Pantas saja, jika pengelolaan beras miskin yang seharusnya ditangani ketua Posyandu, ngotot diminta oleh isteri Pak RW untuk dikelola dia saja. Rupanya, itu adalah kedok untuk mengeruk uang yang seharusnya milik warga. 

Pak RW sudah tiada, isterinya masih hidup. Beberapa harta yang dimiliki, diantaranya dibiayai oleh ‘uang korupsi’ sudah menjadi bagian dari hidup keluarga yang ditinggalkan Pak RW. Kini isteri Pak RW tak punya lagi sumber penghasilan; karena jabatan RW tak bisa diwariskan. Kesabaran warga sudah habis, kini warga menunjuk RW baru yang punya karakter baik dan berjanji tak akan menilap uang warga.

Tak tahu bagaimana isteri Pak RW menjalani hidupnya kini. Kemana-mana, warga sudah tahu kalau dialah sumber penyimpangan pengelolaan keuangan warga yang membuat Pak RW tak bisa menolak. Temannya makin berkurang, simpati pun tak ada lagi.

Tak tahu bagaimana Pak RW di alam barzakh sana beragumen dengan malaikat, ketika ditanya tentang apa yang telah dilakukannya terhadap uang warga. Apakah Pak RW menyalahkan isterinya? Yang jelas, di alam barzakh sana, bukan hanya mulut yang bisa bicara, tapi semua bagian tubuh akan menjawab, ketika mulut berkata tak sesuai dengan kenyataan. 

Tak tahu, apakah ketika isteri Pak RW menyusul suaminya, akankah mereka bertemu kembali di tempat yang sama? Entah tempat yang mana…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *