Suatu kali saya makan di warung makan sederhana. Di samping saya seorang tukang becak, duduk dengan mengangkat kaki kanan dan menginjakannya di bangku. Saya memesan nasi setengah dan lauk seadanya. Dia memesan satu telur dadar dan segunung nasi. Beneran. Nasinya banyak banget. Saya lihat dia makan dengan sangat lahap. Nikmat betul.

Saya membayangkan tetangga saya di rumah, orang kaya, yang beli makanan apa saja bisa. Tetapi kalau makan hati-hati sekali, garamnya jangan kebanyakan, minum ngga boleh mengandung gula. Pokoknya serba terbatas.

Tukang becak udah pasti tidak sekaya tetangga saya, tapi dia menikmati betul makanannya. Tetangga saya sudah pasti tidak semiskin tukang becak, tetapi dia tidak bias menikmati kemampuannya untuk bias membeli makanan apa pun yang dimilikinya.

Keduanya menghadapi kenyataan yang berbeda, yang satu miskin, satu lagi kaya. Keduanya akan menjadi manusia yang selamat, jika bias tukang becak bias menikmati kemiskinannya dan tetangga saya juga bias menikmati kekayaannya.

Kaya-miskin adalah sebuah kondisi dan menjadi masalah ketika seseorang tidak bias menghadapinya dengan nikmat. Kondisi idealnya adalah si Tukang becak jadi orang kaya, dan tetangga saya bias menikmati apa pun makanan yang bias dibelinya. Akan tetapi hidup tidak selamanya ideal. Itulan namanya cobaan.

Kita tidak bisa melihat indahnya hutan jika berada di dalam hutan. Masalah harus dilihat dari tempat yang lebih tinggi, karena tempat yang lebih tinggi memungkinkan kita melihat dengan lebih luas. Keluasan pandangan itulah yang membuat seseorang bias mendefinisikan masalah untuk kemudian menemukan solusinya.

Masalah harus diselesaikan dengan ilmu. Ilmu seperti kunci pas yang memungkinkan setiap masalah bias diselesaikan. Semua masalah ada kuncinya. Ilmu adalah kunci menyelesaikan masalah. Masalah membuat sesak di dada sebenarnya karena dadanya kekurangan ilmu. Ilmu bias melapangkan dada, sehingga masalah bias lebih jernih dicerna.

Masalah sebenenarnya sederhana, selisih antara harapan dengan kenyataan. Jadi, kuncinya adalah memperkecil selisihh tersebut, bias harapannya diturunkan atau kenyataannya di push untuk mendekati harapan.

Yang perlu kita lakukan untuk menghadapi masalah adalah mensyukuri kenyataan yang kita hadapi. Kalau kita saat ini belum bias menjadi mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang diidam-idamkan, dan ‘terpaksa’ kuliah di kampus yang sekarang, bersyukurlah kita bias kuliah. Temukan celah untuk bersyukur di setiap kenyataan yang kita hadapi. Karena salah satu kunci bersyukur adalah menghargai apa yang kita miliki daripada mengeluh dengan apa yang tidak kita miliki.

Masalah adalah bagian dari kehidupan. Hadapi dan nikmati. Sesungguhnya kualitas seseseorang diuji dari bagaimana dia berpindah dari satu masalah ke masalah lainnya tanpa kehilangan gairah untuk memperbaiki diri.

 

One thought on “Masalah dan Kualitas Hidup

  1. bicara masalah, kadang justru tidak baik kalo “melupakan” masalah. karena dng melupakan masalah, sama dengan menumpuk masalah hingga berlarut2. intinya selesaikan masalah bukan melupakan. karena melupakan bukan suatu penyelesaian, tapi penundaan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *