Pemilu kali ini tak beda dengan infotainment. Tak henti berita seputarnya. Setelah usai hasil pemilihan presiden, kini berita seputar biaya pelantikan yang setara gaji per pekan pesepakbola Lionel Messi di Barcelona, yang lebih dari Rp 3 Miliar.

Mungkin Barcelona mau membayar setinggi itu kepada Messi, karena Messi mendatangkan keuntungan berlipat bagi kas klubnya. Keuntungan tak hanya finansial, tapi juga keuntungan ‘nama baik’, brand dari Barcelona yang makin mendunia.

Tak masalah, jika semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Tak masalah, jika semuanya punya niat dan motif yang baik. Indonesian Corruption Watch pun protes dengan biaya pelantikan itu.

Jika Lionel Messi dipastikan bisa mendatangkan keuntungan materil dan non materil bagi klubnya, maka banyak pihak bertanya-tanya, apakah alokasi sedemikian besar bagi pelantikan anggota legislatif itu berkorelasi positif terhadap keuntungan non materiil bagi Indonesia? Apa benefit yang bisa dihasilkan? Disela sisi positif yang juga banyak, terus terang saja, Indonesia banyak disuguhi juga oleh pemberitaan negatif seputar perilaku anggota legislatif.

Sekedar informasi, saya dihubungi secara mendadak, dua kali, untuk ikut menjadi bagian dari pembahasan naskah akademik sebuah Rancangan Undang-Undang yang akan disahkan tanggal 15 September ini. Padahal, RUU itu sudah lama ada, tapi karena harus ditetapkan segera, maka cara urgent ini pun ditempuh. Saya kebetulan, tak bisa mengikuti kegiatan tersebut.

Apa yang bisa dihasilkan oleh sebuah ketergesaan?

Mengapa tak ada perencanaan jangka panjang?

Belum usai berita pelantikan, muncul lagi 6 anggota legislatif terpilih yang kini ‘plin plan’ memilih karirnya. Kebetulan mereka masih menjabat sebagai menteri. Kebetulan mereka lebih ingin menjadi menteri. Kebetulan mereka dicontreng oleh ribuan rakyat, yang berharap diwakili dalam majelis rakyat.

Tapi, apa mau dikata, politisi Indonesia, lebih menganggap penting sebuah posisi daripada pengabdiannya. Lebih memilih menjadi pembantu presiden daripada menjadi wakil rakyat. Kemana larinya suara dari ribuan rakyat kecil yang mencontreng nama mereka?

Jadi, apa motif mereka mencalonkan diri ketika menjadi legislatif? Apakah hanya untuk mendulang suara bagi partainya? apakah sekedar mencari cadangan posisi? supaya tak menjadi pengangguran politik?

Duh.. seandainya para politisi itu belajar dari Nelson Madela yang mengatakan bahwa

“Menjadi Presiden yang baik sama nilainya dengan menjadi warga negara yang baik…”

Sebuah mindset, bahwa apa pun posisi hidup yang dimiliki, selama kita berbuat yang terbaik di posisi itu, maka Allah akan memberikan nilai terbaik.

Politisi Indonesia, banyak yang masih berorientasi posisi, dan bergerak sesuai dengan tiupan angin kekuasaan, dan tentu saja, ketika kekuasaan masih menjadi panglima, maka definisi pun menjadi hak prerogatif kekuasaan.

Lihatlah, seorang menteri yang bertanggung jawab mengucurkan 6.7 trililun, seolah tak tersentuh, karena menguasai ilmu silat, alias silat lidah. Ada seorang anggota DPR yang protes, mengatakan:

“Kalau anggota DPR diduga melakukan kesalahan, dikejar-kejar; tapi kalau menjadi menteri, dibiarkan saja….”

Hmmm.. mungkin itu juga yang menjadi pertimbangan para menteri yang memilih tetap jadi menteri walaupun sudah dipilih rakyat untuk menjadi wakil mereka. Terlindungi.

Rupanya lebih berharga dipilih oleh presiden dibanding dipilih rakyat. Rupanya lebih berharga menjadi pembantu (presiden) dibanding menjadi wakil rakyat. Padahal, banyak yang ketika mencontreng, mereka mengucap basmallah, berharap suaranya menjadi satu suara yang berkah.

Saya pastikan, masih banyak orang baik yang terpilih menjadi wakil rakyat, tapi tentu saja mereka harus bekerja lebih berat.

Pemilu ke pemilu, presiden ke presiden; inilah yang dipertontonkan oleh para politisi di hadapan rakyatnya. Banyak diantara mereka yang menjadikan posisi sebagai prioritas; dengan silat lidah atas nama apa pun.

One thought on “Lionel Messi, Wakil Rakyat atau Pembantu (Presiden)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *