19

Feb 2009

Lazim tapi Zalim

“Wah.. HP gua hilang…Mas, lihat HP gua nggak?”

Kalimat itu diucapkan oleh seorang laki-laki yang berada di depan saya. Tangan kirinya memeluk pasangannya, sementara tangan kanannya merogoh kantong depan celananya sendiri. Saat itu, kereta menjelang masuk ke stasiun Bojong Gede.

“Ngga mas… mungkin tadi waktu di Depok Baru, pas desak-desakan…” jawab saya, malah tambah memeluk erat tas yang didalamnya berisi laptop dan HP. Mas yang kehilangan HP itu kemudian melepaskan pelukan ke pasangannya dan mulai menggunakan kedua tangannya untuk memeriksa kantong celana. Dia kemudian meminjam HP pasangannya dan mulai menelpon ke HP-nya yang hilang. Nihil. Tidak ada jawaban.

“Mas.. udah lazim di kereta banyak copet. Makanya hati-hati, jangan naruh HP sembarangan” suara dari belakang saya, asalnya dari seorang bapak, berkumis, mengenakan seragam PNS.

Mas yang kehilangan HP melihat ke arah saya. Suudzon tatapannya. Saya melihat dia juga. Suudzon juga kalau dia suudzon sama saya. Seolah saya yang mencuri HP dia, karena saya yang paling dekat saat itu.

Kereta terus berjalan dan berhenti di stasiun Bojong Dede. Kedua orang di depan saya turun. Yang perempuan berbicara seperti menasihati supaya lain kali hati-hati, sementara Mas yang kehilangan HP itu tetap merogoh-rogoh kantongnya, mencari HP yang hilang.

Saya jadi ingat kepada ucapan bapak PNS yang ada di belakang saya tadi…

“Mas.. udah lazim di kereta banyak copet. Makanya hati-hati, jangan naruh HP sembarangan”

Kelaziman yang menzalimi. Para copet itu seolah menemukan kesulitan sebagai kesempatan. Mencuri disela desak-desakan. Dan itu dianggap sebagai sebuah kelaziman, padahal ada yang dizalimi. Sementara para copet itu melihat kanan kiri, para penumpang lain malah mendekap erat barang-barang miliknya. Yang takut malah yang tidak jahat. Sementara yang jahat, karena banyak orang menganggap itu kelaziman, leluasa saja memanfaatkan kesempatan.

Memang, saking lazimnya, sesuatu yang menzalimi saat ini dianggap menjadi sesuatu yang biasa. Ketika ada musibah, maka dengan mudah orang menganggap bahwa itu adalah sebuah pelajaran, tanpa menelusuri dan mencari saripati dari peristiwa itu.

Menjelang pemilu pun, banyak kelaziman yang menzalimi. Pemasangan poster caleg yang sembarangan, saat ini dianggap lazim, padahal menzalimi lingkungan, baik dari sisi estetika maupun kehidupan lingkungan. Lihat saja, banyak tempelan poster caleg yang serampangan, di pohon, di jalan-jalan yang seharusnya bersih dari poster-poster itu. Saat ini, yang seperti itu dianggap lazim, padahal menzalimi. Sama halnya dengan jadwal kereta ekonomi yang kadang mulur hingga melar dari jadwal yang seharusnya. Saat ini dianggap sebagai sebuah kelaziman; padahal bisa menzalimi. Sama juga dengan anak-anak yang naik di atap kereta, dianggap lazim, padahal zalim.

Zalim itu ketika tidak menempatkan sesuai dengan proporsinya dan merugikan orang lain. Menurut saya, zalim itu mungkin maknanya berlawanan dengan adil. Masalahnya, ketidakadilan sudah dianggap kelaziman, padahal secara substansial malah menzalimi.

Wallahu’alam

One thought on “Lazim tapi Zalim

  1. Memang mas..yang namanya “lazim” itu sudah melekat di masyarakat kita… mengenai copet & kecopetan..saya pribadi sudah pernah merasakan dua situasi di atas… kecopetan dan melihat aksi pencopetan… semuanya di dalam bis kota… ketika posisi saya kecopetan yang fight hanya saya sendiri, tidak ada penumpang lain yang berani menolong… ketika … Read Moresaya melihat aksi pencopetan..ternyata saya sendiri juga tidak berani untuk menolong yang sedang kecopetan…maklum..berdasarkan pengalaman mereka pasti berkelompok…dan benar… ketika lampu merah..komplotan ini turun… kalau saya tidak salah hitung ada sekitar 7 orang… ampiuuuuuun dueeeh…!!

  2. karena sudah seringnya,maka sesuatu itu dianggap lumrah atau lazim atau wajar/biasa aja. jaman sekarang. Hanya kita perlu hati-hati dan mawas diri dan memupuk rasa kepedulian terhadap lingkungan. Kejahatan ada dimana-mana kalo ada kesempatan.Jadi Waspadalah waspadalah (pinjam kt-kt bang napi) 🙂

  3. itulah sebabnya dasar berpikir kita harus jelas… nilai2 yang dianut juga mesti kuat. jika nilai2 kita sendiri jelas dan kuat, maka tak perduli “sudah biasa”, maka kita akan tetap tahu dan bisa katakan yang salah adalah salah, yang benar adalah benar, dan tidak terjebak menganggap yang salah karena sudah biasa menjadi benar.

    salam,

    d.~

  4. Kesalahan sekecil apapun tetaplah kesalahan, jangan jadikan kesalahan adalah kewajaran apalagi dijadikan alasan. Mulailah dari diri sendiri. Insya Allah dapat menjadi contoh yang baik bagi sekitarnya. Sesama manusia harus saling mengingatkan. Terima kasih ya telah menyadarkan… Wassalam.

    hatur nuhun kalau ada manfaat..saling mengingatkan saja…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *