Kreativitas yang (Mungkin) Dibajak

Hari Sabtu ini, Naya, puteri saya mengikuti lomba senam dan menggambar antar PAUD di Semper Timur. Ketika lomba senam, memang tak seragam gerakan yang dipergakan oleh teman-teman Naya. Apalagi Naya yang kebagian mengenakan nomor 05 sebagai symbol kelompok itu, kadang temannya bergerak ke kiri, Naya bergerak ke kanan. Beberapa orang Ibu agak ‘panik’ dan berteriak-teriak supaya anaknya bergerak sesuai music dan sesuai aturan.

Gara-gara diteriakin ibunya, beberapa anak malah stress, dan tak bisa memperagakan gerakan senam sesuai dengan aturan. Saya, yang sekaligus menjadi seksi dokumentasi, malah menikmati saja gerakan Naya yang aneh dan tak kompak. Memang, mengharuskan anak seragam sejak dini, memperkecil peluang mereka untuk berani berbeda. Selama batas perbedaan itu tak terlalu prinsip (dan anak-anak belum paham dengan prinsip), ya tak mengapa mereka berbeda. Saya malah mengabadikan beberapa perbedaan gerakan Naya. Seperti kalau yang lain tangannya ke samping, dia tangannya ke atas, yang lain menengok ke kiri, Naya menengok ke kanan.

Hmmm.. biarlah Naya menikmati sebagai anak kecil yang membuat perbedaan itu menjadi kekayaan, bukan kebodohan. Saya memperhatikan beberapa orang tua lain, sibuk mengatur anak mereka, seolah mereka memegang remote dan bisa mengatur anaknya dari jauh. Satu orang anak, malah keluar dari barisan, gara-gara bingung antara melakukan gerakan yang dihafalnya dengan ‘instruksi’ dari orang tuanya.

Setelah lomba senam, Naya menunggu sebentar untuk dilanjutkan dengan lomba menggambar. Bunda menemani Naya, dan membawakan papan Dora sebagai alas untuk menggambar. Bagi anak usia 3-4 tahun (sementara Naya berusia 2.5 tahun), gambar yang diberikan relative sederhana, seorang anak kecil yang mengarungi sungai dengan perahu. Tugas Naya adalah mewarnai gambar tersebut.

Ketika lomba dimulai, Naya mengambil crayon warna favoritnya, yaitu warna orange (sama seperti warna favorit Bunda-nya). Segera saja Naya mewarnai perahu dengan warna orange. Sementara di depan Naya, ada Nurul, temannya, tentu didampingi oleh bundanya juga. Beda dengan Naya, bunda Nurul mengawasi dan memberikan instruksi dalam mewarnai gambar.

Ketika Nurul mengambil warna ungu untuk mewarnai kulit anak dalam gambar, bunda Nurul berteriak..

“Kalau kulit orang, warnanya krem…. Jangan ungu..”

Nurul pun mengganti warna ungu dengan krem.

Ketika Nurul mengambil warna kuning untuk mewaranai perahunya, bunda Nurul berteriak lagi,

“Kalau perahu, warnanya cokelat, jangan kuning.”

Begitu terus. Setiap Nurul mengambil warna yang ‘salah’ menurut pandangan bundanya, setiap kali pula, bundanya memberi instruksi untuk memilih warna yang ‘benar’ menurut bundanya. Kadang, intonasi instruksi bunda Nurul meninggi, karena Nurul sering memilih warna yang salah. Saya yang memperhatikan, hanya senyum-senyum saja.

Hasilnya, gambar Nurul memang rapih dan warnanya normal, sesuai dengan kenyataan. Mungkin, kalau jadi pelukis, Nurul menganut aliran naturalisme. Warnanya persis seperti kenyataan.

Bagaimana dengan Naya?

Hmm… ini komposisi warnanya:

Perahu berwarna orange, bagian dalamnya warna biru, dayungnya warna jingga, wajah orangnya warna hijau, lautnya warna merah muda (pink). Paduan warna yang berani, menurut saya. Memang Naya memilih warna-warna ‘cewek’. Naya suka warna pastel yang ngejreng.

Ketika saya tanya,

“Kok warna muka anak kecilnya warna hijau…?” tanya saya.

“Kaya yang film kartun itu Abi…” jawab Naya, mungkin seperti Hulk.

“Kalau perahunya, kenapa warna orange…?” tanya saya lagi..

“Kaya permen…” jawab Naya

“Lautnya kok warna pink…?” tanya saya lagi.

“Kaya sepatu bootnya Naya, yang baru beli itu…” jawab Naya, sambil senyum. Manis banget.

Jadi penasaran, nanti kalau sudah besar, Naya dan Nurul akan jadi apa ya? Ingat dengan Marsmallow Test yang digunakan oleh Daniel Goleman terhadap anak-anak, yang semuanya diberi permen, dan diminta menunggu selama 15 menit di sebuah ruangan tertutup, kemudian ditinggalkan oleh pengawas. Dan ternyata beberapa anak tidak sabar, dan memakan permen, sementara beberapa anak lain, tetap sabar. Kelak, 25 tahun kemudian, ternyata anak-anak yang menunda makan permen itu memiliki kecerdasan emosi lebih tinggi disbanding anak-anak yang langsung memakan permennya.

Semoga saja, Naya bisa menjadi anak kreatif. Walaupun saya khawatir, daya imajinasi dan kreativitasnya, ‘dibajak’ sejak dini oleh institusi bernama sekolah, atau mungkin oleh lingkungan teman-temannya. Buktinya, ukuran kemenangan dalam lomba senam dan lomba menggambar itu adalah keseragaman dalam gerakan senam dan kesesuaian warna dengan kenyataan, dan pewarnaannya tak boleh keluar garis.

Dan, menurut sebuah penelitian, memang daya kreatitas masa kanak-kanak itu, hingga usia 5 tahun, optimal hingga 95% dari kemampuan imajinasinya, akan tetapi di usia 25, menurun drastis hingga tinggal 2%. Dan tahukah Anda, bahwa rentang usia 5 – 25 tahun itu, dimanakah seorang manusia menghabiskan waktunya paling dominan?

Jadi timbul ide, nanti di bulan Juli, mudah-mudahan Rumah Tulis jadi melaksanakan lomba dongeng di Botani Square, mungkin pemenang lombanya justru dinilai dari kombinasi warna yang paling aneh. Anak-anak yang menggambar, kemudian orang tuanya yang sudah dilatih mendongeng, untuk melakukan storytelling, sekaligus ‘pertanggung jawaban’ dari hasil karya anaknya.

Hmmm.. tak mengapa Naya tak juara, di mata saya, ketika Naya punya imajinasi, itulah jati dirinya sebagai anak-anak. Sampai kini pun, sisi anak-anak, berupa ‘imajinasi’ itu masih bertahan dalam diri saya. Tak betah kalau harus melihat dengan cara yang sama.

3 comments to “Kreativitas yang (Mungkin) Dibajak”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. Razan Ilmi Hakim says: April 21, 2009 at 8:00 am

    bagus sekali tulisannya.
    akan sy coba terapkan terhadap anak2 sy.
    memang benar, sebagai orang tua qta jgn membunuh kreativitas anak

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.