“Pak, kembaliannya kok 22 ribu?” tanya saya ke kondektur yang menagih ongkos. Ongkos ke Priok itu satu orang Rp 11.500, jadi kalau dua orang Rp 23.000. Saya kasih uang Rp. 50.000, kembaliannya Rp 27.000, kurang Rp 5.000

“Bentar Pak…ngga ada recehan..” katanya. Posisi tangannya yang memegang uang, tepat di depan saya. Dan saya melihat ada uang recehan seribuan dan lima ribuan lumayan banyak.

Kondektur itu kemudian mengambil uang kembalian Rp 5.000 dan memberikan ke saya. Tampangnya gak ada perasaan bersalah.

Kemudian dia menagih uang ke orang yang duduk di sebelah saya. Kejadian yang sama berulang. Penumpang komplain dengan jumlah uang kembalian. Ketika dia menagih penumpang yang duduk di depan saya dan disampingnya juga, kejadian yang sama berulang lagi. Saya jadinya ngikutin perjalanan kondektur itu ketika menagih ongkos. Dan, ketika uangnya besar dan harus memberikan uang kembalian, kejadian complain dari penumpang itu pun terjadi lagi.

Tadinya saya curiga, kalau kondektur itu sengaja mengurangi uang kembalian, dengan harapan penumpang ngga ngitung atau lupa kalau dijanjikan “uang kembalinya nanti aja”. Tapi, ketika saya lihat, di setiap penumpang yang minta uang kembalian, kondektur itu bermasalah, saya jadi mikir, mungkin aja kondektur itu ngga terlalu akrab dengan matematika, jadi sulit ngitung selisih antar ongkos dari penumpang dan kembalian yang harus dia berikan.

Saya jadi mikir, ternyata untuk jadi kondektur aja butuh keterampilan dasar. Saya buka catatan kecil saya yang selalu dibawa kemana pun saya pergi. Saya tulis,

Kompetensi Dasar Kondektur Bis, supaya kembalian lancar…

1. Mengenal nilai uang

Kondektur harus bisa mengenal nilai nominal uang, berikut ciri khasnya (warna, besar, dll). Dengan mengenal nilai uang, maka, kondektur bisa menaruh uang sesuai urutan nilai uang, sehingga ketika ngasih uang kembalian, lebih cepat ngambil uang. Kebayang, kalau kondektur naruh uang tidak berdasar nilai nominal uangnya, bisa repot juga ketika ngasih kembalian.

2. Berhitung cepat

Karena setiap trayek angkutan sudah jelas tarifnya, maka kondektur sebaiknya bisa melakukan perhitungan cepat, mulai penjumlahan hingga perkalian. Sehingga, ketika yang bayar untuk 1 orang, 2 atau 3 orang, dengan cepat dia akan bisa berhitung, kembaliannya berapa.

3. Trouble Shooting

Masalah kembalian ini bisa panjang, kalau tidak ditangai dengan tepat. Kadang uangnya kurang, atau malah penumpang tidak mau menerima uang yang jelek, dikasih selotip bening karena sobek atau malah sobek di ujungnya. Nah, kondektur harus bisa melakukan trouble shooting untuk setiap masalah yang dia hadapi.

4. Apologizing

Seni meminta maaf penting, karena biasanya, orang yang rutin naik bis pada jam rutin dengan tujuan yang rutin, akan ketemu lagi. Makanya, setiap kali terjadi kesalahan, mestinya kondektur bisa minta maaf dengan tepat. Kebanyakan kondektur, merespon kesalahannya sendiri, dengan komentar, “bentar kenapa? ngga sabaran amat…” atau “kondektur juga manusia…” atau “maaf lupa Pak” tapi disampaikan kepada lebih dari 5 orang. Kalau lupa sampai ke 5 orang, itu sih niat.

Hmmmmm…. Mungkin ngga banyak kondektur yang suka ngeblog dan baca tulisan saya ini. Semoga saja, para kondektur yang sulit ngitung itu emang bener sulit ngitung dan tak berniat mencari untung dengan lupa atau keliru dengan jumlah kembalin. Karena, saya pernah tak diberikan kembalian, padahal uang saya Rp 100.000 (ongkosnya Rp 6.000), ketika naik bis ke UKI, karena begitu turun, bisnya langsung melaju ke Bekasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *