Ini cerita tahun 1998-an, lagi masa-masa reformasi.

Saat itu saya masih menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa di sebuah kampus di Bogor. Sepulang dari perjalanan melelahkan, mengikuti rangkaian pertemuan dengan rekan-rekan mahasiswa lain di Malang, dan dilanjutkan ke Jakarta. Usai mendengarkan paparan dari Mas Eep Saefullah dan Pak Agum Gumelar, saya pun menuju ke kampus, niatnya mau membuat laporan tentang hasil diskusi ini.

Saya duduk di ruang senat, dan mulai menulis beberapa hal. Tiba-tiba dari arah pintu masuk, datang seorang senior, sepertinya tidak dengan niat baik, karena tangannya mengepal dan wajahnya penuh amarah. Orang itu menuju ke ruang senat dan tepat berdiri di depan saya yang sedang menulis. Tanpa berbasa-basi dia langsung berkata (tepatnya membentak):

“He… lu yang bikin masalah sama Pak Dosen Anu ya….”

“Masalah apaan?” saya heran, nama dosen yang dia sebutkan saja saya ngga kenal, karena memang beda fakultas.

“Ah.. jangan bohong lu.. anak-anak lapor ama gua…” dia makin melotot.

“Beneran, gua ngga tau apa-apa, apalagi bikin masalah…” saya masih heran. Padahal saya cape banget baru pulang dari Malang dan Jakarta, mikirin tentang kondisi terkini yang makin ngga jelas di Republik ini. Eh, ini bawa-bawa masalah pula yang saya ngga ngerti.

Masih dalam keadaan heran.. tiba-tiba.. “BUUUK..!” dan “PRANG..!”

Senior saya itu mukul saya tepat di sebelah mata kanan.  Saya reflek berkelit, tapi kacamata saya kena dan pecah sebelah, jatuh dan menghasilkan bunyi “PRANG!”.

Campur aduk perasaan saya. Aneh, bingung, marah, kaget. Kok masih ada orang-orang kaya gini berkeliaran di kampus. Tapi saya coba tenang, berusaha ngadepin dia sebagai laki-laki juga.

Saya, yang saat itu baru ban kuning beladiri Kateda (itu lho beladiri untuk pertahanan, yang pake nahan nafas), akhirnya siaga….. Ambil nafas, sambil menyiagakan otot-otot supaya tahan pukul.

“Eh.. lu ngajak gua berantem…. pake mukul segala..” saya ngomong agak ngga jelas, soalnya sambil nahan nafas.   Maklum masih ban kuning, jadi ancang-ancangnya masih butuh waktu lama. Hehehehe.

Senior saya itu malah ngeloyor aja. Sambil bilang..

“Awas lu ya kalau macam-macam…” dia pergi. Ngga tau karena ngeliat saya ambil nafas sambil megap-megap ngomong atau emang ‘misinya’ sudah selesai?

Saya bengong. Ngeliatin dia pergi sambil melotot kesana kemari ngelewatin pengurus senat dan himpunan.

Saya mengambil kacamata yang pecah sebelah (Sampai sekarang kacamata itu masih ada). Tetep bingung. Temen-temen saya yang pengurus senat dan himpunan, datang dan sama bingungnya. Urusan tentang masalah itu akhirnya memang hanya awal dari serangkaian kejadian aneh bin ajaib berikutnya. Tetap tanpa alasan yang jelas, hanya amarah yang tumpah tanpa melihat akibatnya.

Berbagai upaya dilakukanBerbagai upaya dilakukan untuk menjelaskan peristiwa itu. Mulai dari menemui nama dosen yang disebut, yang baru pertama kali saya temui, sampai menemui teman-temannya. Ingin tahu aja. Tetapi nihil, tetap saja tidak ada perubahan. Kejadian itu ternyata bukan yang pertama, tapi diikuti oleh beberapa tindakan ‘aneh’ yang benang merahnya adalah ‘intimidasi’ ngga jelas.

Saya yang masih berkoordinasi dengan teman-teman diluar kampus; berdiskusi tentang langkah-langkah perjuangan reformasi; di dalam kampus harus meladeni orang-orang yang masih ingin status quo. Mereka tidak berubah, makanya saya harus mengubah pandangan saya terhadap mereka.

Kaya naik mesin waktu, dari Malang diskusi tentang bagaimana bangsa ini harus berubah, eh di kampus masih ada peninggalan jaman pra sejarah kaya gini. Sampai sekarang pun saya bingung. Bagaimana mungkin mentalitas ‘agresor’ seperti itu layak hidup di dunia pendidikan yang menjungjung tinggi moral. Jangan-jangan, ketika jumlahnya jadi banyak, bisa menghasilkan agresor kolektif yang melahirkan tindakan tanpa alasan, tanpa memahami akibatnya bagi diri sendiri maupun orang lain?

Ketika agak siang ada wartawan koran di Bogor menemui saya dan melihat mata saya bengkak, saya ceritakan ‘penyerangan itu’ tapi bukan untuk dimuat, sekedar share aja dengan sesama teman.

Kini, setiap melihat foto ketika menjadi ketua senat dan memegang kacamata yang pecah sebelah, saya berpikir

“ketika sulit mengubah pandangan seseorang, maka yang kita lakukan adalah mengubah pandangan kita tentang orang tersebut”

One thought on “Ketua Senat yang Dipukul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *