“Abi..Kok ngga kerja?”

Itu pertanyaan Naya yang diajukan Senin pagi kepada saya.Karena, saat itu saya ada di rumah, sedang menyelesaikan materi presentasi pelatihan menulis di laptop.

Saya sejenak terdiam. Bisa saja menjawab panjang lebar tentang apa itu kerja kepada Naya, bahwa kerja itu tak perlu pergi ke kantor, bisa dilakukan di rumah.

Tapi, sesuai dengan apa yang dianjurkan Rasulullah, bahwa berbicaralah sesuai dengan bahasa akal dari orang yang diajak bicara; maka saya pun sejenak memahami dulu apa yang dipikirkan Naya tentang kerja.

Mungkin saja, karena sekali-kalinya saya kerja kantoran, sejak Naya lahir adalah selama 3 bulan berangkat pagi jam 06.30 dan pulang jam 18.30; setiap hari.. Senin – Jum’at, kalau Sabtu pulangnya jam 17.00.

Sepertinya, yang dipahami oleh Naya tentang kerja adalah ‘pergi keluar rumah jam tertentu dan pulang kembali pada jam tertentu’.

Hmmm.. dengan pemahaman itulah saya berusaha menjawab pertanyaan Naya…

“Sayang.. Abi hari ini libur, kerjanya di rumah, sambil nemenin Naya… mau ditemenin nggak?”

Naya senyum, manis banget.

“Mau dong..” kata Naya.

Saya pun kemudian menyanyikan magic song.. lagu pramuka yang ampuh untuk anak-anak..

“Siapa suka hati dipangku Abi…”

Naya bergerak ke pangkuan saya..

“Siapa suka hati cium Abi…”

Naya pun mencium saya…. Naya berhenti bertanya, walaupun saya tahu, jawabannya tak memuaskan, tapi paling tidak, pertanyaannya ada respon.

(Lagu ini hanya ampuh untuk anak-anak, tidak untuk isteri atau orang dewasa lainnya.. hati-hati..).

Memang anak-anak punya seribu satu pertanyaan setiap hari; dan ada orang tua yang menjawab berdasarkan kepintaran dirinya, ada juga yang menjawab dengan terlebih dahulu memahami persepsi anaknya. Tentu tak sederhana, tapi tak salah untuk dilakukan.

Saya jadi ingat dengan kisah yang saya dapat dari milist.

Ada seorang anak usia SD yang bertanya kepada ayahnya yang sedang sibuk baca koran.. Anak itu mendatangi ayahnya dengan membawa selembar kertas dan pulpen.

“Ayah.. sex itu apa ya…?”

Ayahnya berhenti sejenak dan memperhatikan anaknya. Dalam hati dia berkata..”wah.. anakku mulai bertanya tentang sex… belum waktunya..”

Akhirnya ayahnya menjelaskan tentang sex, seperti menjelaskan pelajaran biologi, kadang dibantu dengan gerakan tangan. Anaknya bengong dan menyodorkan selembar kertas…

“Ayah… di formulir ini ada yang harus diisi, setelah nama dan tanggal lahir, ada pertanyaan sex, isiannya kecil M/F (Male/Female). Kalau penjelasannya panjang begitu, gimana ngisinya…”

Anaknya bingung. Ayahnya melongo…

Si Ayah menjawab berdasarkan kepintarannya, tapi tak cukup cerdas memahami persepsi anaknya. Hmm.

Kadang, anak itu bertanya tak butuh dijawab dengan detail, seringkali mereka hanya butuh respon, hitung-hitung sedang menarik perhatian. Bukankah banyak orang tua yang ketika ditanya anaknya, kebetulan lagi baca koran, masak, atau ada aktivitas lainnya, malah merespon dengan tak seharusnya; apakah kata-kata atau malah intonasinya.

Yakinlah, ketika anak bertanya, sesungguhnya pikiran bawah sadarnya terbuka, sehingga kita bisa memberikan informasi yang banyak bagi mereka. Oleh karena itu, dorong anak untuk bertanya dan respon dengan baik. Perlu kepintaran untuk menjawab dan perlu kecerdasan untuk menjawab sesuai kebutuhan.

One thought on “Ketika Anak Bertanya pada Ayahnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *