Sejak drop-out dari IPB, saya kuliah lagi di Universitas Pakuan dan harus membiayainya sendiri. Mencari kerja ternyata tidak mudah. Saya pun kerja serabutan. Mulai jualan buku di pelataran mesjid, jaga rental komputer hingga jadi pelayan rumah makan cepat saji.

Di tahun kedua kuliah, saya mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan Jepang, Nippon Conveyor namanya. Spesialisasinya adalah membuat cobeyor (ban berjalan); kali ini sepanjang 57 kilometer di Tarjun, Kalimantan Selatan. Nippon Conveyor menerima projek ini dari PT. Bukaka.

Kenapa saya diterima bekerja disana? Karena saya bisa bahasa Inggris lisan. Ternyata, selain pendidikan, kompetensi juga jadi pertimbangan untuk bekerja.

Saya mendapat pekerjaan sebagai pengawas para tukang yang bekerja menyelesaikan conveyor itu. Mulai dari tukang las, pasang baut, menyambungkan. Pokoknya pekerjaan lapangan. Saya kemudian difasilitasi sebuah laptop, yang keyboardnya bahasa Jepang semua. Laporan harus saya ketik disana. Orang Jepang bangga betul dengan produknya. Softwarenya pun memakai Lotus, mereka tidak mau menggunakan excel.

Disinilah pengalaman saya sebagai penjaga rental computer bermanfaat. Keyboard yang bahasa Jepang itu pun akhirnya jadi ujian saya, seberapa hafal terhadap posisi keyboard, lengkap dengan menu-menu di Lotus.

Kami bekerja 5 orang; digaji Rp 750.000 per bulan. Kebetulan, kami direkomendasikan oleh salah seorang kawan, mahasiswa juga; yang memang diminta perusahaan Jepang tersebut untuk mencari orang Indonesia yang bisa bahasa Inggris, supaya bisa mengawasi kinerja pegawai Indonesia.

Kultur pekerja orang Jepang dan orang Indonesia memang beda. Pokoknya, orang Jepang itu Work Hard Play Hard. Kalau lagi kerja, serius; kalau lagi main pun menikmati betul. Seringkali Mr. Yamaguchi, atasan saya menanyakan, kenapa orang Indonesia banyak istirahat 11.30 dan masuk kerja lagi 13.30? Mereka istirahat lebih cepat dan masuk lebih lambat? Kebanyakan dari mereka memang ngumpul-ngumpul atau tiduran di musholla. Kebayang sih, dengan pekerjaan lapangan di tengah panas terik dan gaji kecil, mereka juga mungkin banyak tekanan.

Pekerjaan yang saya jalani, awalnya berlangsung mulus. Hingga bulan ke lima, ketika kontrak akan habis, saya menemukan salinan gaji di meja Mr. Yamaguchi. Saat itu sudah waktunya pulang, saya pulang agak terlambat. Mr. Yamaguchi pun sudah pulang. Saya lihat di salinan gaji tersebut, ternyata gaji kami para pengawas yang 5 orang ini adalah 77.000 yen. Ditandatangani oleh Mr. Yamaguchi dan kawan saya yang memasukkan kami ke Nippon Conveyor.

Hitungannya, 77.000 yen itu, jika kurs saat itu 1 Yen = Rp 24,- setara dengan Rp 1.771.000,-.

Hmmm.. saya ngga nyangka, ternyata teman saya itu mendapatkan lebih besar dari yang kami dapatkan. Setahu saya, teman saya itu adalah aktivis mesjid, penampilannya pun tidak menunjukkan orang yang tega berbuat seperti itu. Pantas saja, akhir-akhir ini dia selalu menceritakan baru beli jam baru, beli ini, beli itu di hadapan kita. Padahal pekerjaannya tidak ada yang terkait dengan apa yang kita lakukan.

Saya tidak habis pikir. Seharusnya, dibuka saja transaksi dan kompensasi yang kita dapatkan, dan dia pun layak mendapatkan sebagian dari yang kami dapatkan. Tapi, tentu saja tidak sebesar atau bahkan lebih besar dari yang kami dapatkan, yang bekerja di terik matahari dan bolak balik dengan bis yang melintasi kemacetan.

Saya geram juga, walaupun tetap mencoba husnudzon. Tapi, kekecewaan terhadap teman saya yang kanibal ini (karena makan temen), akhirnya membuat saya membicarakan hal ini kepada teman-teman yang lain. Teman-teman yang lain pun sama geramnya. Akan tetapi, apa mau dikata, ternyata memang demikian. Jadi, tampilan aktivis mesjid tadi buat apa ya? Kalau didalamnya ternyata menyimpan niat-niat seperti itu.

Di bulan ke enam, saya mendapat kabar, kalau teman saya itu ternyata sedang mempersiapkan pernikahan. Oh, pantas saja kejar setoran. Tapi, tetap saya tidak bisa mengerti, bagaimana mungkin setega itu memotong penghasilan teman yang juga sedang dalam posisi kesulitan?

Saya jalani sisa kontrak yang 1 bulan lagi dengan perasaan yang agak mengganjal. Membayangkan, ketika kami menerima gaji setiap bulan, masing-masing Rp 750.000 itu, teman saya yang makan teman itu, menerima (Rp 1.771.000 – Rp 750.000) = Rp 1.021.000; tanpa melakukan pekerjaan seperti apa yang kami lakukan. Nyesek!

Tapi, mungkin rezeki itulah yang jadi hak saya. Saya nikmati saja rezeki halal itu; apalagi untuk membiayai pendidikan, dan membantu orang tua. Wallahu’alam jika uang yang teman saya yang makan teman itu, statusnya bagaimana; apalagi dipakai untuk biaya pernikahan, dimakan dan digunakan untuk membiayai kehidupannya. Saya hanya berdo’a saja, semoga saya mendapatkan rezeki dari pintu yang lain dan semoga tidak ada orang lain seperti kami berlima ini, yang dicatut penghasilan halalnya dengan cara yang tidak mengenakan.

Di bulan ketujuh; kontrak habis. Saya ditawari oleh Mr, Yamaguchi memperpanjang kontrak dengan Nippon Conveyor untuk bekerja di Tarjun, Kalimantan. Saya tentu saja menyambut baik; mungkin ini jawaban do’a saya. Mr. Yamaguchi menawarkan kontrak ke saya (dalam bahasa Inggris), sambil menyampaikan kekecewaannya terhadap teman saya, karena ternyata dia pun tahu, kalau kami mendapat uang kurang dari setengah yang seharusnya mereka berikan. Mr. Yamaguchi bilang bahwa dengan gaji seperti yang kami terima saat ini; dia tidak bisa menekan kinerja kami, karena memang gajinya tidak cukup. Coba, kalau gajinya seperti yang mereka berikan, mungkin kami akan lebih bersemangat, kinerja pun meningkat. Orang Jepang memang hitungan betul antara kompensasi dan kinerja.

Ternyata, Mr. Yamaguchi tahu juga perbuatan teman saya itu. Dia pun menghubungkan performa kami dengan gaji yang kami terima dan membandingkannya dengan performa kalau kami menerima gaji yang lebih besar; mungkin kinerjanya lebih baik. Baik betul dia. Jahat betul teman saya; yang tidak menghitung akibat dari perbuatannya yang sangat egois itu.

Kontrak baru itu untuk 3 bulan; saya digaji 77.000 yen. Full. Tanpa potongan. Gaji yang selama ini melalui teman saya, akan diberikan langsung oleh Mr. Yamaguchi.

Alhamdulillah, akhirnya do’a saya terkabul. Saya pun terbang ke Kalimantan Selatan, bersama dengan seorang kawan saya yang sebetulnya sedang menjabat posisi penting di kampusnya, akan tetapi dengan semangat menghadapi tantangan; dia setuju untuk berangkat bersama saya ke Tarjun, Kalimantan Selatan.

Bagaimana dengan teman saya yang pemakan teman tadi? Wallahu’alam bissawab. Saya dengar dia menikah dengan seorang puteri pejabat penting. Saya tidak tahu kabarnya lagi sampai saat ini. Yang jelas, uang yang statusnya wallahu’alam juga itu, pasti sudah termakan, menjadi darah dan daging,

Wallahu’alam.

One thought on “Kerja di Perusahaan Jepang dan ‘Dimakan’ Teman

  1. weeww….. nice story..
    pesan moral hari ini…..bekerjalah dengan iklas n berdedikasi, hasilx pasti akan terasa…..*sigh* ^^

    enjoy the story…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *