“Aduh…” teriakan seorang ibu pedagang asongan yang kaki kanannya terperosok ke dalam sebuah lubang kecil di lantai kereta ekonomi. Kotak asongannnya jatuh, dagangnya berserakan. Ibu itu terseok dan tubuhnya hampir jatuh, menyandar pada seorang bapak di depannya.

Dibantu sang bapak, Ibu asongan itu bangkit. Kotak asongannya berantakan. Sendal jepitnya tertinggal di lobang itu. Dia mengambil sendalnya, memakainya lagi, kemudian berjalan ke gerbong di depannya, dengan terpincang-pincang.

Beberapa orang berkomentar tentang lobang di lantai kereta itu…

“Ini gimana sih, petugas kereta, ngga meriksa..”

“Untung cuman jatuh aja, coba kalau celakanya lebih parah…”

“Emang, kalau kereta murah, ya begini…”

Komentar-komentar yang tak solutif. Lobang itu pun tetap demikian. Tak ada perubahan. Ketika berhenti di stasiun berikutnya dan ada seorang ibu lain yang naik, kemudian hampir saja terperosok ke lobang itu, dia hanya melihat lobang itu dan mulutnya bergumam sesuatu sambil tangannya mengelus dada.

Penumpang lain di sekitarnya hanya bilang…

“Tadi malah ada yang jatuh Bu..”

Lubang itu tak berubah.

Tak beberapa lama, ada seorang anak yang biasanya membersihkan lantai kereta, kemudian meminta upah seadanya. Dia membawa sapu lidi pendek di tangan kanan dan karung lusuh di tangan kiri. Jalannya gontai.

Ketika mendekat ke lobang, anak itu berhenti dan mengambil sesuatu dari dalam karung. Triplek berukuran kecil. Kemudian dia meletakkan triplek itu di atas lobang. Agak kekecilan, tapi lumayan pas untuk menutupi lubang di lantai kereta itu. Kemudian ia menggunakan pangkal sapu lidi pendeknya, dia menekan triplek penutup lubang itu supaya lebih pas.

Setelah lubang itu tertutupi, anak pembersih lantai kereta itu melanjutkan perjalanannya, tak melihat sekeliling, tapi diikuti pandangan dari penumpang lain yang beberapa diantaranya berkomentar tapi tak memberi solusi.

Anak kecil pembersih lantai itu pakaiannya memang kotor, tapi hatinya bersih, tulus memberikan solusi.

One thought on “Kereta yang Lantainya Berlubang

  1. harusnya mereka yg berkomentar itu bisa melihat ketulusan si anak kecil

    kontras banget yah

    memang bener, kontras…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *