Stasiun Bogor

Siang ini mau ketemuan ama kartunis untuk buku AMPUH. Rumahnya di Depok. Otomatis saya memilih untuk menggunakan kereta api, walaupun ketar ketir dengan ‘perjuangan’ yang akan dihadapi, bahkan untuk mendapat tempat duduk sekali-pun.

Membeli karcis di loket, saya bilang “ke Pondok Cina Pak”, dan bertukarlah uang 2000 rupiah dengan selembar karcis yang distempel tanggal oleh penjaga karcis yang melakukannya tanpa melihat.

Saya masuk dan langsung menjuju jalur 3 yang sudah sesak oleh penumpang. Saat itu ada 2 rangkaian gerbong kereta. Di jalur 3 dan jalur 5.

Masuk ke gerbong 2 dan mencari tempat duduk. Benar saja, ternyata tempat duduk sudah penuh. Saya berdiri, mencari tempat di dekat kursi dan meletakkan tas gendong yang berat, berisi laptop di bagian atas. Saya memanggil tukang koran dan membeli koran Tempo. Lumayan, bisa hemat 500 perak, karena di kereta, koran Tempo harganya 1000 rupiah. Sekali lagi, penjualnya memberikan koran tanpa melihat saya. Dia pikir.. “murah kok mau dilihat…”

“Kepada para penumpang.. Kereta di jalur 5 akan diberangkatkan terlebih dahulu. Silahkan kepada penumpang di jalur 3, berpindah ke jalur 5…” Itu suara petugas KA yang menyebalkan. Selalu seperti itu, sepertinya ketagihan melihat orang keluar dari kereta api. Melihatnya sama dengan melihat Rattle Snake melahirkan…. berbondong-bondong keluar dari perut kereta api.

Saya ikut berpindah dan hasilnya saya beroleh tempat duduk di kereta baru. Saya buka koran dan kembali membaca. Saya tengok kanan dan kiri, berharap tidak ada nenek-nenek, ibu-ibu, ibu hamil atau seseorang yang ‘memaksa dengan hormat’ untuk menyerahkan kursi yang dengan susah payah sudah saya rebut.

Kereta berjalan, berbunyi jes..gujes..gujes.. saya jadi inget, kawan saya yang baru pulang dari Swiss, naik kereta super cepat dan ngga ada bunyi jess, gujess, gujess-nya, jadi ngga kerasa naik kereta. Rupanya dia kangen dengan suaranya…

Hanphone saya matikan, ingat kejadian 3 tahun lalu, ketika saya menerima telpon, dan 10 menit kemudian, telpon itu hilang dicuri orang, yang rasa-rasanya saat itu duduk di samping saya.

Jarak Stasiun Bogor dan Pondok Cina melewati 5 stasiun. Urutanny, Cilebut, turun di pintu kiri, Bojong gede turun di pintu kiri dan kanan, Citayam, turun di pintu kanan, Depok lama turun di pintu kanan, Depok Baru turun di pintu kanan dan barulah sampai di Pondok Cin, turun di pintu kanan.

Kenapa saya kasih tahu letak pintunya? karena perlu strategi untuk bisa keluar dengan aman, nyaman, bebas dari sikutan dan tentu saja tidak kehilangan harta benda.

Sampai di stasiun Depok Baru, stasiun sebelum Pondok Cina, yang merupakan tujuan akhir saya hari itu; saya ngobrol dengan laki-laki tua di samping saya.

“Mau turun dimana Pak” tanya saya…

“Cikini” katanya.

Sesaat kemudian bergemuruhlah orang masuk ke dalam kereta. Bercampur tak kenal batasan usia, bentuk tubuh dan jumlah keringat.

Mendekat ke kursi saya adalah seorang nenek yang jelas sudah tua, beruban dan jalannya tertatih-tatih. Di sebelahnya ada seorang ibu muda, bergurat perjuangan hidup di mukanya dan menggendong bayi yang dililit kain batik.

Bapak yang di sebelah saya bangun dan mempersilahkan sang nenek untuk duduk. Bapak ini turun di Cikini.

Saya juga bangun, mempersilahkan ibu muda penggendong bayi untuk duduk. Saya memang sudah sampai.

Bapak tadi memang punya motif untuk menolong sang Nenek. Saya mempersilahkan duduk memang karena sudah sampai dan mau turun. Tidak ada motif.

Saya sampai di Pondok Cina, keluar dan menghilangkan peluang untuk berbuat baik sejak tadi dari stasiun Bogor. Saya seharusnya sudah menawarkan tempat duduk saya kepada siapa pun yang layak duduk disitu tanpa harus menunggu sampai di tempat tujuan.

One thought on “Kereta Api Jabotabek dan Silahkan Duduk

  1. Kalau kita naik bus dari UKI ke Bogor, secara alam bawah sadar saya selalu mencari tempat duduk sekitar nomor 2 atau 3 di depan atau nomor 2 – 3 di belakang dan diusahakan dekat jendela, kenapa ? Setelah dipikir-pikir secara jujur saya lakukan untuk menghindari dekat dengan pengamen (walaupun saya senang dengan pengamen yang suara dan gitarnya merdu..) atau ya itu tadi menghindari terpaksa mempersilakan orang yang lebih berhak untuk duduk …

  2. saya juga sering melakukan persis seperti isi cerita di atas saat naik kereta dari bogor, nyari tempat duduk yg paling strategis untuk duduk tanpa bisa diganggu gugat. saat naik bis pun saya selalu duduk dekat jendela supaya lepas dari tanggung jawab ngasih tempat duduk. tapi kalo emang saya liat udah ngga ada yg mau ngasih ‘tempat’ akhirnya saya ‘terpaksa’ juga ngalah buat yg lebih berhak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *