Mumpung liburan, Sabtu kemarin saya menggunakan waktu untuk jalan-jalan bareng keluarga. Ngga jauh-jauh, cukup ke Bogor Trade Mall saja. Makan, main-main dan tentu saja belanja untuk keperluan rumah, jadi agenda utama. Saya agak buru-buru, karena malamnya akan mengisi pelatihan di Sentul, dari mahasiswa Kedokteran Trisakti.

Usai belanja, dan membawa 2 kantong platik besar yang isinya belanjaan, tiba-tiba ada seorang anak muda, bermuka ramah menghampiri saya..

“Bapak… mau door prize… ini kuponnya..?”

Saya sebenarnya tidak mengiyakan, tapi karena arahnya sama, menuju pintu keluar, akhirnya saya dan isteri mengikuti pemuda itu. Dia memberikan secarik kertas yang katanya kupon door prize.

Saya, isteri dan anak duduk di sebuah pojokan mall, dekat tangga. Tempatnya sederhana, ukurannya 2 x 2 meter saja. Dikelilingi oleh produk seperti dispenser bentuk oval, kotak home theater, sauna belt dan lain-lain. Ada juga tanda bank BCA, beberapa bon dari door prize sebelumnya dan kartu nama, dari perusahaan yang memberikan door prize itu.

Setelah mengenalkan diri, pemuda berwajah ramah itu pun memulai percakapan, terkait dengan door prize yang tiba-tiba saya dapat.

“Bapak.. alhamdulillah Bapak mendapatkan door prize. Silahkan pilih kupon ini..”

Saya menyuruh Naya, puteri saya untuk memilih kartu warna hijau. Ada 10 kartu door prize dan Naya memilih salah satunya. Kemudian kartu itu dibuka dan isinya..

Rp. 1.000.000 dan Hadiah Langsung, yang isinya masih ditutupi lakban hitam, tidak kelihatan.

“Wah.. selamat ya Pak, ngga biasanya pengunjung dapat hadiah sebesar ini.”

Pemuda itu pun menunjukkan berbagai bon yang isinya voucher sejumlah, paling besar 300.000.

“Bapak jadi pengunjung dengan hadiah paling besar nih…”

Saya diam saja…

“Bapak mau buka hadiah langsungnya?”

Saya mengangguk.

Sebelum membuka hadiah langsung itu, dia menjelaskan. Jika di hadiah itu ada inisial VID, berarti hadiahnya VCD Player; jika TV berarti TV flat 14″, dan berbagai bentuk lainnya..

“Hadiah langsung ini bisa langsung dibawa pulang lho Pak..”

Saya mengikuti saja…

Pemuda itu pun membuka lakban hitam kecil, dan isinya tertulis VIP.

“Wah.. selamat sekali lagi Pak.. VIP ini sangat istimewa. Ngga banyak orang dapat VIP seperti ini.. Saya pun baru menemukan pengjunjung yang mendapat door prize seperti ini..”

Pemuda bermuka ramah itu menyalami saya.

“Sebenentar ya Pak, saya menghubungi pimpinan saya dulu di Jakarta…” kata pemuda bermuka ramah ini.

Dia menelpon seseorang dan berbicara sebentar. Kemudian telpon itu diberikan ke saya.

“Pak, bos saya ingin bicara langsung dengan Bapak.” katanya

Saya berbincang dengan seseorang yang dikatakan sebagai bos itu, intinya dia mengucapkan selamat dan bahwa ketika di kartu door prize itu tertulis VIP, artinya ada bonus tambahan yang akan dijelaskan oleh pemuda bermuka ramah itu.

Saya kembalikan telponnya.

“Oke Pak, jadi untuk VIP ini berarti Bapak mendapat tambahan hadiah lain, yaitu:

Home Theater seharga 6.900.000, Sauna Belt seharga 2.300.000, Neck Therapy seharga 790.000. Selamat ya Pak.”

Kemudian dia menuliskan kalkulasi hadiah itu di atas kartu door prize tadi.

“Kami kebetulan sudah 8 tahun bekerja sama dengan visa dan master card, jadi ada kemudahan lain bagi pengguna kartu kredit itu. Bapak pake apa Pak?”

Saya kemudian meminta isteri saya untuk menunjukkan kartu BCA. Dia melihat bagian belakang kartu itu, dan tertulis MAESTRO dan CIRUS.

“Nah, Pak, kalau untuk kartu debit seperti ini, maka kami menyediakan asuransi dengan premi sebesar Rp 107.000 per bulan. Dan asuransi produk ini digaransi untuk 2 tahun, sehingga totalnya adalah Rp 2.590.000…” kata pemuda bermuka ramah itu..

“Jadi, harus keluar duit nih..” tiba-tiba isteri saya ikut nimbrung..

“Ngga Bu, ini adalah prosedur standar perusahaan kami, kalau Ibu dan Bapak mau ambil hadiah ini, maka harus membayar asuransi produk sebesar Rp 2.590.000” katanya

“Oh gitu…” saya menimpali…

“Itu juga kalau Bapak dan Ibu mau ambil…” katanya lagi.

“Terus gimana cara bayarnya….?” kata saya lagi, perasaan sudah mulai ngga enak dari tadi..

“Disana ada ATM, nanti saya akan tunjukkan rekening tujuan dari perusahaan kami Pak…” katanya lagi..

“Jadi, terserah kita ya mau ambil atau tidak?” kata saya meyakinkan sekali lagi…saya sudah yakin kalau ini penipuan.

Tiba-tiba isteri saya mengeluarkan sehelai kertas berwarna pink dari dompet, isinya nyaris sama dengan bon yang tadi ditunjukkan.

“Mas… kalau mau nipu, pindah tempat dong.. bulan yang lalu, di tempat ini juga, saya ditawari dengan produk yang sama… bedanya DP doang..” untung isteri saya ngga sewot banget. Mungkin dia mikirin, karena kami harus duduk lebih dari 30 menit untuk mendengarkan ocehan mereka.

Pemuda bermuka ramah itu mulai berubah ekspresinya, tak ramah lagi…

“Ya sudah, kalau Bapak ngga mau, ngga usah diambil Pak….” katanya ketus…

“Oke.. makasih atas informasinya ya…” kata saya, sambil pergi dan menghitung waktu, sudah pasti saya rada telat janjian dengan teman-teman panitia pelatihan Trisakti.

Kami pulang. Sepanjang perjalanan isteri saya cerita tentang temannya yang pernah bekerja di perusahaan yang memang niatnya menipu seperti itu. Katanya, biasa mereka ada di pojok mall, sebulan sekali berpindah, masih di dalam mall yang sama, atau bahkan pindah ke mall yang lainnya.

Saya hanya miris, menyaksikan betapa pintarnya pemuda bermuka ramah yang diujungnya ketus itu menceritakan tentang produk yang dia jual. Kepintaran yang diniatkan untuk membodohi. Saya berpikir, jika saya lolos dari tipuan mereka, sudah pasti mereka tak berhenti mencari mangsa lain. Sungguh tak habis pikir saya membayangkan ada orang yang mencari penghasilan dengan cara seperti itu. Memiliki kepintaran hanya untuk membodohi orang lain.

Memang, saya menghabiskan lebih dari 30 menit di tempat itu, tapi saya mendapat pelajaran berharga juga; bahwa bersyukur dengan kepintaran itu salah satunya adalah tidak menggunakan kepintaran kita untuk membodohi, tapi malah untuk membuat orang lain lebih pintar.

One thought on “Kepintaran Untuk Membodohi (hampir ketipu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *