Baban Sarbana

Social Business Coach

Kekerasan dalam Film “Lima Elang”

13149349061005654029

Di setiap Lebaran, menjadi rutin bagi keluarga kami untuk menonton film anak-anak–anak kami usia jelang 5 tahun.Kami cinta film Indonesia, oleh karena itu, daripada film Kungfu Panda 2, kami lebih memilih nonton film “Lima Elang”. Yang membuat lebih menarik lagi, karena saya juga adalah anggota Pramuka, ketika masih SMA dan sangat senang ketika film “Lima Elang” ini juga dikeluarkan oleh Kwarnas Pramuka. Pasti seru dan hitung-hitung nostalgia…

Jalannya film, seperti layaknya film anak-anak Indonesia lainnya. Tokohnya anak-anak, tapi logika ceritanya malah banyak yang dewasa. Yang mengingatkan saya kepada Pramuka adalah baju cokelat, kacu, tanda keterampilan, semaphore, parafin, tenda dan alam terbuka.

Bayangan  saya tentang anak Pramuka yang kreatif, ceria, banyak akal; di beberapa bagian terwakili. Tadinya, saya mempromosikan kepada anak saya untuk menjadi anggota Pramuka ketika usia SD, SMP dan seterusnya….

Apa nyana… di bagian akhir film, ternyata, sutradara berpikir sangat egois, dengan menggunakan logika orang dewasa untuk menyelesaikan masalah bagi anak-anak.

Ya…. ketika scene Rusdi dan Anton ditahan oleh penjahat di tengah hutan, Baron cs datang menolong. Saya berpikir, Baron yang jagoan RC dan kreatif itu bisa menyelesaikan masalah dengan para penjahat itu dengan cara-cara kreatif dan lucu.. tak tahunya, sutradara malah mempertontonkan kekerasan yang tak selayaknya dilakukan oleh anak-anak, dengan memukul para penjahat di bagian tengkuk, punggung, hingga pingsan..

Sama sekali tidak lucu..

Anak saya, sampai bertanya: “Abi.. kok begitu sih…. masa anak-anak mukul-mukul gitu”…

Saya sangat kecewa dan harus menjelaskan kepada anak saya, apa yang dipertontonkan oleh Baron cs…

Terus terang saja, Pramuka tidak mengajari saya menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Pramuka mengajari tentang survival dengan kreativitas…

Mohon kepada siapa pun sutradara film anak-anak, jangan memaksakan ego manusia dewasanya menjadi solusi untuk anak-anak.

Kekerasan di bagian akhir film Lima Elang, sama sekali bukan menunjukkan jiwa Pramuka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *