Duh..

Kali kedua dompetku hilang. Dulu ditemukan oleh seorang yang sedang berfoto ria di bawah sebuah pohon kecil di stasiun beos.

Kali ini saya menduga hilang di busway, saat bergegas menuju sebuah Rumah Produksi, mengejar kerjaan jadi creative sekaligus reporter. Lumayan, bisa masuk tv kali ya.. hehehehe…

Saat di busway itu, saya sibuk ber bbm dengan grup baru, karena akan bersiap menjelang reuni akbar di bulan Mei.. Reuni angkatan yang sebenarnya saya tak selesai kuliah, alias DO.. tak apalah, silaturahim tak harus selalu dibatasi dengan gelar akademik.

Saat itu di stasiun kereta ekspress pakuan Tanah Abang.

Tak sadar kehilangan, sampai saya akan membeli majalah langganan isteri, yaitu Mother & Baby yang harganya Rp 29.000. Uang di kantong saya tinggal Rp 12.000. Ditambah lagi salah satu teman berkirim email, menanyakan salah rekening Pondok Yatim Menulis. Saya langsung ingat dompet, karena salinan no rekeningnya ada disitu.

Karena uang tak cukup dan saya ingat betul, bahwa ada 4 ATM yang 3 ATM untuk 3 rekening Pondok Yatim Menulis, saya pun kaget, shock, karena di dalam tas itu tak ditemukan dompet.

Sungguh, saat itu hati tak tenang. Segera saya telpon isteri di rumah, mengabarkan kehilangan dompet itu…

Jawaban standar isteri saya..

“Nah.. khan…. makanya hati-hati…”

Hmmmm… saya hanya mengiyakan, sambil memeriksa kembali isi tas. Tetap tak ditemukan dompet biru tua itu.

Sampai di Bogor, saya pun mengambil motor di stasiun dan memacunya ke rumah. Bingung juga.. kalau diblokir, nanti temen-temen yang mau donasi ke Pondok Yatim Menulis tak bisa mengirimkan donasi.. Kebayang beberapa temen yang kebelet nyumbang. Hehehehe.. thx guys…

Di Pancasan, menjelang Muara, itu menuju rumah saya di Ciapus, ternyata motor saya kehabisan bensin.

Wek…!

Alhasil, didorong lah itu motor. Terus terang, sambil dorong, saya pun lupa, helm tetap dipake dengan bagian depan tetap tertutup. Pantesan megap-megap….saking bingungnya.

Sampai ada tukang jualan bensin, lumayan jauh; akhirnya motor bisa jalan…

Saya jadi mikir juga…

Tadi pagi memang beberapa kali bolak-balik ke rumah, mengambil hal-hal yang remeh temeh, yang ketinggalan; tapi lupa ngecek bensin. Kejadian ini seperti diingetin sama Allah, kalau kadang-kadang kita sering disibukkan sama hal-hal yang ngga penting, dan ngelupain hal-hal yang sebenernya penting.

Ngecek bensin kadang kalah dengan menyiapkan hal-hal yang lain.

Saya jadi sadar juga, bahwa urusan Pondok Yatim Menulis ini bukan urusan sekedarnya.. Tapi bisa jadi bensin untuk sesuatu yang lebih besar. Siapa tahu, mereka–karena berstatus anak yang diberkahi–ketika dikelola dengan benar, bisa jadi bensin buat bangsa ini supaya punya daya tahan tinggi untuk selalu berada dalam kebaikan.

Walaupun ngos-ngosan, saya mulai agak tenang. Dompet yang hilang, jadi ngga terlalu mengkhawatirkan; karena ada hal besar yang harus saya kerjakan. Saya tidak ingin bingung untuk alasan yang sama dengan tingkat kesulitan yang sama. Kalau bingung; pastikan kebingungan itu berada pada tingkat yang lebih tinggi dan untuk alasan yang lebih penting.

Sampai di rumah, beberesih dan shalat.

Makin tenang hati. Dompet hilang dipasrahkan saja. Ke-ge-er-an saya disayang sama Allah. Biar aja, Allah yang urus soal dompet hilang. Walaupun di rekening itu, ada dana yang akan dialokasikan untuk Pondok Yatim Menulis.

Ketenangan hati itulah yang kemudian membawa saya besoknya berangkat ke Senayan, karena berkantor sebagai staf ahli anggota Dewan Perwakilan Daerah asal Jawa Barat. Plong bener hati ini; tak khawatir dengan dompet yang hilang.

Walaupun, komen di status fb banyak yang khawatir, mulai diminta untuk ganti profile, disalahin karena ceroboh, sampai didoain supaya kembali. Entah bagaimana caranya.

Di tangan saya, hanya ada 1 KTP sebagai identitas. Saya masuk ke Senayan, dan dibantu oleh seorang sahabat untuk dibuatkan surat keterangan sebagai staf anggota dewan. Alhamdulillah, tak ada masalah, jadi keliatan seperti staf ahli atau ahli staf.

Siang hari, saya menuju Mahkamah Konstitusi untuk melihat proses persiapan MK TV yang akan tayang 1 Februari. Sampai disana, saya menuju ruang produksi dan ternyata langsung diminta untuk jadi reporter.

Hah..! Masuk TV dong…hehehehe

Ya bener. Hari itu saya kehilangan identitas di dompet, tapi mendapat identitas baru sebagai reporter MK TV, walaupun katanya nanti, kalau tayang, mukanya akan di blur dan suaranya di dubbing… hehehe

Alhamdulillah, kembali saya ke-ge-er-an disayang Allah. Walaupun Allah belum ngasih tau juga itu dompet dimana.

Sore hari, saya bertemu dengan seorang sahabat, yang penuh semangat. Berbincang soal masa depan bangsa (gaya bener ya…), karena paginya dia ikut seminar JK on Leadership. Banyak berbagi hingga tak terasa sampai menjelang maghrib.

Yang unik, ternyata teman saya itu juga yatim sejak usia 10 tahun. Makanya, ketika diajak berbincang soal visi saya membangun Pondok Yatim Menulis, matanya beberapa kali berkaca-kaca.

Ketika akan pulang, telpon saya berbunyi. Dari call center Bank Syariah Mandiri, mengabarkan bahwa dompet saya ditemukan; di Rice Bowl, Plaza Abda.

Alhamdulillah..kembali saya ke-ge-er-an disayang Allah.

Saya pikir, ketemunya dompet ini bukan tentang saya, tapi tentang anak yatim yang sedang saya ingin kelola dalam Pondok Yatim Menulis.

Bergegas saya ke Rice Bowl, dan bertemu dengan manajernya. Berbincang sejenak, dan saling berkenalan. Ternyata manajernya itu adalah lulusan pondok pesantren Daarul Muttaqien, Parung Bogor. Saya didampingi teman yang yatim sejak usia 10 tahun.

Hmmmm…

Kejadian yang bagi saya luar biasa…

Perbincangan hangat itu pun diakhiri dengan pengembalian dompet yang masih utuh dan ditukar dengan buku saya “Hati Tak Bersudut”. Dan memang hati tak bersudut, sehingga manajer Rice Bowl itu berusaha keras untuk menemukan pemilik dompet tersebut dengan menghubungi call center dari 4 ATM itu dan baru di call Center BSM dia mendapat balasan. Mungkin kalau dia hanya mencoba 1 call center, dompet itu tak akan kembali….

Kembali saya ke-ge-er-an disayang Allah.

Apa pun yang terjadi hari ini, selama ada niat ikhlas untuk berbuat sesuatu bagi orang banyak, insyaallah diperhatikan oleh Allah.

Saya pulang dengan sumringah. Bukan karena dompet ketemu; tapi karena tak perlu memblokir rekening, supaya siapa pun yang mau dan mampu membantu Pondok Yatim Menulis, bisa berbagi…

Bismillah.. semoga Allah meridhoi…

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah memperhatikan tentang per-dompet-an ini. Semoga saja tak ada kehilangan lagi…Amin….

One thought on “Ke Ge-er an Disayang Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *