Baban Sarbana

Social Business Coach

Karena Namanya Fathurrahman

Sampai di Incheon, bandar udara Korea Selatan jam 10.00. Saya dan Misbach langusng menuju ke pengambilan bagasi. Fathur rupanya diinterogasi di kantor imigrasinya. Satu jam lebih di dalam sana. Saya dan Misbach menduga-duga, mungkin karena namanya, Fathurrahman, yang mirip-mirip dengan orang yang sedang diawasi oleh pemerintah Korea Selatan, dan diberitakan datang ke Indonesia.

Untung nama saya Baban Sarbana, kecuali ada nama orang yang mirip dengan nama saya, dan kebetulan dia melakukan sesuatu yang membuatnya ditandai oleh dunia internasional.

Saya dan Misbach menunggu di bawah, dekat pengambilan bagasi. Sesekali, secara bergantian, kami ke atas. Mengecek, apakah Fathur sudah keluar dari kantor interogasi. Saya bertemu dengan seseorang dari Vietnam, yang juga menunggu temannya diinterogasi. Entah untuk alasan apa.

Karena ini pertama kali saya ke Korea Selatan, maka saya pun mencari obyek foto yang cukup representative. Ada sebuah board yang menunjukkan informasi kedatangan dan keberangkatan, yang isinya bergantian, antara bahasa Korea dengan bahasa Inggris. Saya minta tolong Misbach untuk mengambil gambar saya, tapi nunggu sampai board itu menunjukkan bahasa Korea. Hehehe, norak ya…

Satu setengah jam kemudian, Fathur keluar dan tersenyum saja kepada kami. Sementara kami, dari tadi sebenarnya deg-degan juga. Jauh di negeri orang, bertiga. Coba kalau ada apa-apa? Fathur bilang, salah satu yang ‘menyelamatkannya’ adalah keterangan dari kantor Kemenegpora. Makanya, orang-orang di kantornya memberi keterangan. Begitu juga, jaminan penerimaan di Korea yang berasal dari panitia pelaksana  ASEAN Youth Worker Training Program.

Saya bilang sama Fathur, yang biasa dipanggil Atung..

“Di bandara nama ente susah.. insyaallah di akherat gampang”

Kami bertiga, segera menuju ke lobby. Disana sudah menunggu 2 orang panitia. Satu perempuan, satu lagi laki-laki.

“Mrs. Shim Eun Jin” kata yang wanita

“Mr. Shrek” kata yang laki-laki. Karena bentuk tubuhnya kaya Shrek…

Keduanya ramah, sambil menebak-nebak nama-nama kami. Sambil menunjuk kami bergantian.

“Mr. Baban.. Mr. Atung.. Mr. Misbach” Menunjuk saya, Fathur dan Misbach. Tepat sekali.

Ketika menyebut Mr. Atung, Mrs Shim sambil nahan senyum. Saya nanya:

“Kok senyum-senyum begitu…?”

“Di Korea, Atung itu artinya orang yang gemuk…” Kata Mrs. Shim, sambil tetep nahan ketawa, sampai matanya tinggal garis doing. Kayanya kalau kita ngumpet, ngga ketauan nih…

Pantesan aja ketawa, soalnya Atung itu emang akh tipis.. alias emang bertubuh tipis alias kurus.. makanya bawa tas selalu gede, takut kebawa terbang ama angin katanya..

Hahahahaha.. Fathur rupanya kena dua kali.. nama Fathurrahman ‘diinterogasi’ di bandara.. pake nama Atung diketawain orang Korea…“Oke.. yang lainnya sudah menunggu di bis.. kenapa lama tadi?” Tanya Mrs. Shim

“Saya masuk ruang pemeriksaan sebentar, tapi udah oke kok” Fathur yang jawab.

Kami kemudian menuju bis yang akan membawa kami ke Cheonan.  Bisnya cukup besar. Bis lintas provinsi lah. Tapi, yang ada di dalam bis itu hanya 9 orang.  Masing-masing sibuk dengan walkman atau membereskan tasnya.

Saya masuk dan menyalami satu persatu teman-teman baru saya:

“Shim” kata orang yang duduk paling depan, heboh orangnya – asal Philipina, namanya Salahudin Hashim

“Conrad” kata teman yang duduk di seberangnya, lebih muda, di piercing di telinganya. Nama lengkapnya Conrado III

“Warwar” kata seroang teman wanita yang mengenakan baju resmi. Nama lengkapnya Warwar Mint, asal Myanmar.

“Pong” ini kata seorang perempuan berpenampilan seperti anak laki-laki; bercelana jins, mengenakan kaos, dengan rambut yang ditutupi topi kupluk dan telinganya dijejali earphone. Nama lengkapnya Warunee, asal Thailand.

“Nom”, ini pria yang duduk di jejeran paling belakang. Gaya rambut yang rapi. Berkaca mata. Sibuk melihat keluar. Nama lengkapnya Chantanom, asal Laos.

Mrs. Shim kemudian memberi tahu, kalau ada 2 orang peserta lain yang sudah di camp. Perjalanan ke Cheonan akan ditempuh selama 3 jam dan nanti akan berhenti di sebuah rest area. Silahkan beristirahat dan duduk yang nyaman katanya.

Saya duduk di jajaran paling belakang, sendirian. Mulai membuka komunikator, memasang earphone, mengalunlah “Ruang Rindu”-nya Letto. Baru saja sampai, sudah rindu sama yang di rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *