Lamat-lamat aku mendengar seseorang terisak. Di pojok sana, dalam temaram, seorang laki-laki muda sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan. Di sela jarinya ada Al Qur’an kecil.

fabiayyi aalaa irabbikuma tukaddziban,

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Ayat itu pula yang aku dengarkan, lembut tapi menyelusup sampai di hati. Seolah pesan itu ditujukan kepadaku juga.

Ya Allah, seringkali aku menagih janji kepada-Mu,

“Kapan lagi Engkau bilang I love you…?”

Pertanyaan egois itu muncul, karena aku sebagai makhluk yang Engkau ciptakan, sering menagih cinta-Mu tapi lalai untuk mencintai-Mu.

Aku seringkali tidak peka, bahwa cinta-Mu tak hanya berwujud nikmat dan kesenangan, akan tetapi bisa berwujud musibah dan kesedihan.

Ya Rahman Ya Rahiim…

Engkau Maha Mengasihi semua umat manusia, bahkan yang ingkar kepada-Mu sekalipun, bahkan kepada yang menduakan-Mu sekalipun.

Engkau Maha Menyayangi siapapun yang Engkau pilih untuk disayangi…

Kapan lagi Engkau bilang I love you, adalah bentuk kerendahan diriku yang seringkali salah mencerna Kasih-Mu, salah melihat rasa cinta-Mu.

Isteriku yang baik, anakku yang cantik dan tampan, adalah bentuk cinta-Mu yang kadang lupa untuk berucap terima kasih kepada-Mu.

Teman-teman yang saling mendoakan, mustahil terjadi tanpa Engkau yang menggerakan hati mereka.

Ya Allah, sungguh, tak layak aku bertanya

Kapan lagi Engkau bilang I love you…

karena dengan mencipta-ku, adalah tanda cinta-Mu….

Sesungguhnya dengan kesenangan, kesedihan yang aku alami, Engkau pun sedang bertanya kepadaku…

“Kapan lagi kau bilang i love YOU…?”

Dengan ijin-Mu, aku akan bekerja keras untuk mencintai-Mu…..

Tak mau aku jika pertanyaan itu Engkau ajukan saat tubuhku terbujur kaku….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *