Kakek Penjual Pisang Ambon

Kakek itu usianya sudah 70-an. Renta, tapi tetap berusaha mandiri. Meletakkan dagangannya: pikulan yang isinya pisang ambon. Ada 3 tandan; dan beberapa pisang ambonnya berserakan.

Saya menghampiri, berbincang dan memang berniat membeli.

“Aki.. berapa harga pisang ambonnya?”

“20 ribu se-sikat (tandan)”

“Beli satu Ki”..

Saya biasanya nawar, karena harga 1 tandan pisang ambon Rp 20.000 itu cukup mahal. Tak berani nawar, karena saya sudah sangat menghargai ada seorang kakek yang masih berusaha mandiri dengan berjualan pisang ambon.

Ketika mengambil pisang ambon untuk saya, tangan kakek itu gemetaran, karena memang sudah uzur usianya.

“Biar saya yang ngewadahin” kata saya, berniat membantu

“Ngga usah, khan saya yang jualan”

Saya tak jadi membantu.

Saya nanya lagi: “itu pisang yang kepisah-pisah kenapa?”

“Biasa, pohon pisangnya rubuh, anak-anak suka main-main di kebon pisang; jualnya jadi susah”

Oh….

Ternyata, masih ada orang-orang yang berusaha mandiri, menjadi solusi untuk dirinya sendiri.

Kakek itu memang tak akan menjadi tukang pisang ambon di usia 70, jika saja anak-anaknya bisa menjamin kehidupan di hari tua. Akan tetapi, setiap kehidupan pasti memiliki jalannya sendiri; oleh karena itu, saya yakin, apa pun yang dilakukan seseorang di usia berapa pun, adalah bagian dari usaha untuk memaknai hidupnya sendiri.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.