15

Jun 2009

Kadaluarsa

Cerita tentang kadaluarsa ini dimulai sejak hari Minggu siang, ketika isteri saya menghadiri ulang tahun anak tetangga, yang ke-2 tahun. Saya membantu membungkuskan kado untuk yang ulang tahun, sebuah pistol air mainan (sebenernya, anak saya, Naya, pengen banget mainan ini; anggap saja memberi ke anak sendiri).

Selesai ulang tahun, isteri saya membawa ‘oleh-oleh’, makanan cepat saji, plus aneka snack; yang ketika dilihat tanggal kadaluwarsanya, beberapa sudah lewat. Kami, tentu saja tidak jadi memakan makanan-makanan itu. Tapi, mungkin tetangga lain, siapa tahu ada yang makan, karena tidak memperhatikan tanggal kadaluwarsa, atau memperhatikan, cuma EGP (Emang Gua Pikirin).

Semoga saja, yang ulang tahun, ngga ada niat jelek, ngasih makanan yang beberapa diantaranya sudah kadaluwarsa; karena bisa jadi, untuk makanan kecil (snack) itu biasanya kerjasama ama warung tertentu, jadi terima jadi, sudah terbungkus saja. Bisa jadi, yang punya warung, namanya juga bungkusan dan akan dibagikan cuma-cuma, mungkin saja memilih makanan kecil yang sulit dijual di warungnya. Sekali lagi, ini semua dugaan, semoga saja bukan itu niatnya, tapi memang murni tak memperhatikan.

Saya menikmati saja makanan yang ‘normal’. Lumayan lah. Itu pengalaman berhubungan dengan kadaluwarsa yang pertama.

Pagi sekali, saya berangkat ke terminal Baranangsiang, karena akan shooting Kuis Siapa Lebih Berani. Mengendarai motor ke terminal, saya berada di belakang angkutan umum, seperti biasa, angkutan umum di kampung, beberapa ada tulisan di kaca belakangnya. Tulisannya gede banget, berbentuk setengah lingkaran. Tulisannya KADALUARSA.

Hmmm. Maksudnya apa ya? Ngga optimis banget tulisannya. Saya senyum-senyum sendiri (menyalahi rukun senyum, yang seharusnya minimum 2 orang). Menyalip mobil itu dan ngebut menuju terminal.

Sampai di terminal, isteri saya telpon, ngasih tau kalau Andra, anak kami, jatuh dari tempat tidur. Wah.. bikin panik aja. Isteri saya bilang, pulsa HP-nya tinggal dikit, jadi minta ditelpon balik. Saya langsung nelpon, dan ada yang memperingatkan di HP saya…

“Pulsa yang Anda miliki senilai 106 rupiah, silahkan lakukan pengisian pulsa….”

Dzig….!

Saya segera menuju counter  HP di terminal. Membeli voucher kartu  senilai 50 ribu rupiah. Harganya 52 ribu rupiah. Segera menuju bis jurusan Merak, karena berhenti di Kebon Jeruk, hanya beberap ratus meter dari RCTI. Setelah duduk di bis, saya segera menggores voucher dan memasukkan 16 angka yang tertera di voucher itu.

Setelah memasukkan nomor voucher, ada balasan dari HP…

“Nomor yang Anda tekan, salah, silahkan ulangi kembali…” begitu kira-kira.

Saya coba hingga 5 kali, tetap salah nomor. Saya berpikir, yang salah adalah angka yang saya masukkan. Akhirnya, saya melihat voucher itu dan ternyata disitu ada keterangan.

Masa Berlaku Sampai Dengan 31 Mei 2009.

Wah..Kadaluarsa yang ketiga nih. Segera saya menuju counter HP tadi; dalam pikiran ada kecurigaan juga, jangan-jangan sengaja. Hmmm, tapi saya tepis dugaan jelek itu dan baik-baik bilang ke pemilik kios.

“Mbak.. ini vouchernya udah kadaluarsa, bisa tuker nggak?” tanya saya baik-baik

“Oh gitu.. boleh aja.. ntar saya cek dulu ya…?” Rupanya Mbak itu juga ngga ada niat jelek.

Saya lihat, dia mengambil sekitar 10 voucher kartu HP dan memeriksa tanggal masa berlakunya. Ternyata, 10 voucher 50 ribuan itu kadaluarsa semua. Saya jadi mikir, saya sih cuman kebagian satu yang kadaluarsa, nah.. pemilik counter HP itu, semuanya kadaluarsa.

“Wah… semuanya kadaluarsa nih.. Ngga saya cek, waktu belinya borongan. Tuker aja ya…” Kata pemiliki counter HP, tulus meminta maaf.

“Iya deh Mbak.. saya tuker sama yang 25 ribu aja. Berapa?” tanya saya..

“Yang 25 ribu, harganya 29 ribu..” kata Mbak tadi.

Saya pun mengambil voucher dan segera berlari menuju bis tadi. 

Alhamdulillah belum berangkat. Saya segera naik, membeli koran hari ini, dan membaca beberapa berita. Hmm. masih rame tentang capres dan cawapres. Saya baca ulasannya dan beberapa mengumbar janji yang juga sebenarnya kadaluarsa….paling tidak menurut saya. Seperti diucapkan oleh seorang panelis (budayawan) semalam, yang mengatakan bahwa janji capres itu banyak yang tidak up to date.

Tapi, inilah negeriku, dimana yang kadaluarsa masih dikonsumsi karena tak diberitahu kalau itu sudah kadaluarsa atau tak peduli kalau apa yang dikonsumsi (pencernaan maupun pikiran) sebenarnya sudah kadaluarsa.

One thought on “Kadaluarsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *