Sesaat sebelum berangkat memberikan training di sebuah kampus, kacamata saya (rupanya) dijadikan bahan mainan oleh anak saya. Jadilah kacamata itu terbelah dua dan yang jelas tak layak pakai. Sebenarnya saya punya 2 kacamata minus 3/4, akan tetapi yang satu lagi juga sedang bermasalah; jadi memang tak layak pakai.

Karena minus pilihan dan saya harus mengenakan kacamata ketika akan memberikan training tadi; saya pun meminjam kacamata isteri saya (tentu saja perempuan); dan kacamatanya pun woman style; dengan warna merah muda dan bentuk lensa yang ‘centil’. Untuk menyesuaikan dengan kacamata itu, maka saya pun mengenakan kemeja yang ada nuansa pink-nya.

Berangkatlah saya ke lokasi pelatihan. Tak mengenakan kacamata selama dalam perjalanan.

Sampai di lokasi, setelah menyiapkan laptop untuk presentasi, saya mulai mengenakan kacamata.

Pertama, framenya kekecilan, yang kedua, karena minusnya lebih kecil (isteri saya minus 1/4), maka saya tak bisa jelas melihat sekeliling alias buram. Alhasil, saya secara samar-samar melihat beberapa peserta tersenyum simpul karena melihat saya mengenakan kacamata pink yang kekecilan.

Untunglah buram terlihatnya para peserta itu, sehingga saya pun percaya diri saja menyampaikan pelatihan. Akan tetapi memang bermasalah ketika kacamata kekecilan minusnya itu saya kenakan. Buram itu tak nyaman. akan tetapi ketidaknyamanan itu saya jalani hingga akhir training.

Memang kacamata itu dibuat supaya customize, sesuai dengan penggunanya. Ketika tak cocok minusnya, maka tak nyaman digunakan.

Kacamata (minus) itu sebenarnya untuk menutupi cacat, walaupun akhirnya seolah bisa menjadi brand bagi seseorang. Orang yang terbiasa berkacamata, kemudian tak berkacamata, akan nampak lain; begitu sebaliknya.

Kacamata yang sama juga tak bisa digunakan untuk orang yang berbeda, karena urusan selera. Sama saja dengan persepsi. Tak bisa memaksa seseorang memaksakan persepsinya dalam melihat sesuatu, karena masing-masing memiliki kecacatan dan selera sendiri.

Jangan memaksakan diri mengenakan kacamata orang lain dan jangan pula memaksakan kacamata sendiri untuk orang lain.

One thought on “Kacamata, Cacat dan Persepsi

  1. Wah, rupanya bapak senasib sama saya, malah saya setahun ganti 3 kali, pernah juga sebulan tidak pakai kaca mata (maklum, santri harus sabar nunggu wesel tiba) padahal kaca minusnya 3 kali lebih besar dari punya bapak

    besar juga minusnya…? kerajinan baca buku ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *