Jodoh Bisnisnya ternyata Ayam

ayamasep

Alhamdulillah, berkah Ramadhan tahun 2015 ini. Nyali untuk mulai wirausaha secara penuh akhirnya saya lakukan. Awalnya dari kumpul bareng alumni angkatan 92 SMAN 1 Bogor, terkumpul dana Rp 56 jt. Pembicaraan banyak orang tentang ide bisnis, rupanya cukup menantang, karena setiap orang memiliki ide bisnis yang berbeda. Alhamdulillahnya, semua sepakat kalau bisnisnya kuliner.

Benang merah yang bisa saya ambil adalah, ternyata mayoritas temen-temen SMA saya itu memposisikan dirinya sebagai ‘Pemilik Kost’ artinya mengusulkan untuk membangun bisnis dengan menampung berbagai produk yang sudah sukses di pasaran. Ada benarnya juga, paling tidak, risiko lebih kecil.

Akan tetapi, hati kecil saya berontak, karena dalam pikiran saya, dan tentu saja passion saya, lebih baik jika memiliki produk yang sederhana akan tetapi memiliki potensi branding kuat di kemudian hari. Sebagai inisiator ide bisnis UnikEnak ini, saya mengakomodasi ide rekan-rekan semua, termasuk mencari tempat dan menyusun ide usaha. Pertemuan mingguan yang jarang lengkap semua orang terlibat, memutuskan hal-hal yang di kemudian hari sangat bermanfaat bagi saya dan teman-teman.

Awalnya, kami mencoba bermitra dengan owner rumah di daerah Pandu Raya. Setelah perbincangan intens, kami yang menawarkan untuk menyewa rumah dan menjadikannya seperti ‘foodcourt’ akhirnya mundur, setelah ada ketentuan sewa Rp 4.000.000 sebulan. Belum lagi, produk kami saat itu hanya menampung produk-produk orang lain.

Rapat UnikEnak memutuskan untuk memindahkan lokasi usaha. Saya juga yang berusaha mencari. Dalam proses pencarian lokasi baru itulah, beberapa teman menarik diri dengan berbagai alasan. Saya maklumi, karena memang belum jelas bisnisnya.

Saya menemukan lokasi yang dulunya adalah kantor ILNA Training Center yang saya dirikan, dekat dengan lokasi pertama. Pembicaraan makin intens, hingga menghasilkan keputusan bersama tentang desain lokasi usaha yang dikerjakan oleh salah seorang kawan yang berprofesi sebagai arsitek.

Dibangunlah ‘tenda biru’ dari besi yang menjadi bakal calon lokasi usaha. Kesalahan saya adalah tidak melakukan agreement secara tertulis, sehingga ketika ada pembicaraan soal waktu jualan, ternyata ketentuan dari pemiliki rumah; jualan hanya bisa dimulai sejak jam 17.00 dan pagi – siang, tidak boleh ada aktivitas usaha.

Bingung saya. Karena pastinya omzet tidak akan terkejar jika berjualan hanya jam tertentu, apalagi harus membangun beberapa fasilitas tambahan untuk resto. Kami mempertimbangkan untuk mundur.

Dalam proses kedua ini, saya mendapatkan kabar dari seorang sahabat, ada koki yang berpengalaman puluhan tahun sebagai koki hotel sedang mencari partner bisnis, mau membuka restoran. saya minta juga untuk melihat lokasi dan mempertimbangkan peluangnya.

Dalam proses kedua ini, mundur lagi dua rekan alumni 92 smansa, dengan berbagai pertimbangan. Bisa jadi karena makin tidak jelasnya kegiatan usaha kita dan adanya ‘kerugian potensial’ dari terbangunnya tenda usaha seharga R[ 13.5 juta. Saya meminta masukan teman-teman dan mengembalikan urunan modal rekan yang mundur tersebut.

Saya gak berhenti, berbincang dengan rekan yang memang serius mau berbisnis. Tak dinyana, Mang Asep, koki yang menawarkan bisnis bersama itu ternyata libur selama Ramadhan. Akhirnya, perbincangan mengarah lebih serius, sehingga muncullah gagasan untuk membuat AyamAsep @mangAsep bersama Mas Amir Toha, yang di awal rencananya jadi rekan bisnis. Bertemulah sinergi antara saya sebagai inisiator usaha, mang Asep sebagai koki ahli dan mas Amir yang memiliki lokasi usaha.

Dengan gagasan Ayam Asep inilah, tanggal 20 Juni 2015, kami mulai. Seadanya sebisanya.

Semoga bisnis kuliner ini jadi jodoh bisnis saya… Semoga teman2 alumni smansa 92 ini juga jodoh partner bisnis saya. Tidak mudah menemukan jodoh bisnis… Harus berhati lapang dan berpikiran terbuka…

Salam.

 

 

 

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.