Baban Sarbana

Social Business Coach

Jangan Menunggu Intervensi Tuhan untuk Berubah

Ini cerita tentang seseorang, ‘guru’ saya juga; yang sudah mencapai sukses secara finansial. Suatu hari, ketika masih bekerja di bidang asuransi, dia diundang untuk mengikuti Million Dollar Round Table, semacam pertemuan agen asuransi tingkat dunia, untuk top agent. Diadakannya di Amerika Serikat.

Pertemuan itu untuk berbagi kesuksesan. Biasanya, ‘meja bundarnya’ berlapis. Di tengah-tengah, ada beberapa orang, tak sampai 20 orang yang menjadi pusat perhatian, karena mereka mendapatkan komisi di atas $ 5 juta selama setahun. Luar biasa!

‘Guru’ saya ini kebagian sebagai observer, dan duduknya di tribun, bergabung dengan sekitar 5000 orang. Dia bertanya ke teman yang di sebelahnya, agen asuransi asal Inggris (saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia)

“Siapa top agent yang saat ini akan bicara… best of best-nya?”
“Nanti, ada seorang pembicara, yang duduk tepat di tengah…” jawab agen asuransi asal inggris itu.

Acara pun dimulai, dan yang berhak bicara, memang hanya yang duduk di paling tengah. Bergiliran mereka bicara, 15 menit per orang, setelah itu ada sesi tanya jawab.

Sampailah pada giliran dari agen asuransi yang ‘best of the best’ itu.
Suasanya hening, senyap.
Orang ini, sebut saja Mr. X, biasa saja sosoknya, tapi memiliki kharisma. Setelah menyampaikan cerita suksesnya, maka ratusan orang mengangkat tangan untuk bertanya. Yang diberi kesempatan hanya 3 orang.

Setiap ada yang bertanya, maka Mr X meminta orang yang bertanya itu maju ke depan, beberapa meter saja di hadapannya. Setelah, itu baru Mr. X menjawab.

Pertanyaan kedua diajukan, dan Mr. X tetap meminta penanya maju beberapa langkah di depannya, dan setelah itu dia menjawab dengan sangat bagus dan inspiratif.

Hingga tiba giliran penanya ketiga. Agak arogan orangnya.

“Saya tak ingin bertanya tentang kiat sukses Anda…saya hanya ingin tahu, kenapa setiap ada orang yang bertanya, Anda suruh maju ke depan, baru Anda menjawab.. bukankah suara penanya cukup keras dan jelas didengar oleh seluruh gedung?” penanya ketiga ini bertanya dengan intonasi yang meninggi…

Mr X berbicara dengan orang yang di sebelahnya. Wajahnya agak menegang.

“Tolong, bagi penanya, agar maju ke depan, seperti penanya yang sebelumnya…” kata Mr X.

Penanya tadi pun maju ke depan. Setelah sampai beberapa langkah di depan Mr X, maka Mr X pun bicara…

“Saya mau cerita, bahwa saya mengenal dunia asuransi sudah 15 tahun, dan 2 tahun yang lalu, di suatu pagi, ketika saya bangun dari tidur, saya tuli total.. tak bisa mendengar sama sekali. Dunia menjadi sunyi. Dokter mengatakan, ada yang putus pada syaraf pendengaran saya. Sejak itu saya belajar membaca bibir, melanjutkan pekerjaan saya sebagai agen asuransi, harus menemui orang langsung… tidak mungkin lewat telepon.” kata Mr. X.

Suasana di gedung itu makin senyap…

“Kenapa saya meminta penanya maju? Karena saya tak bisa mendengar sama sekali, dan saya harus dekat untuk bisa membaca bibir Anda dan menjawab pertanyaan yang Anda ajukan…” jawab Mr. X.

“Kepada siapa pun yang ada disini, jangan menunggu Tuhan mengintervensi hidup Anda untuk melakukan perubahan. Ketika saya tuli total, saya menyalahkan diri sendiri, menyalahkan Tuhan. Tapi tak ada gunanya. Saya melakukan perubahan, dan hasilnya saya berada di deretan meja ini dan berbicara kepada Anda semua. Sekali lagi, jangan menunggu Tuhan mengitervensi hidup Anda; jika ingin melakukan perubahan, lakukan sekarang juga” jawab Mr. X.

Suasana di gedung pertemuan itu hening, kemudian pecah oleh suara tepuk tangan bergemuruh dari seluruh peserta yang hadir; termasuk ‘guru’ saya yang duduk di tribun, meyakini sepenuhnya, bahwa tak salah apabila Mr X adalah sosok utama dalam pertemuan itu.

(((Thx for the story ya my ‘Guru’))))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *