Ini cerita waktu SMA…

Suatu siang, sekitar jam 10-an, saya shalat dhuha di musholla yang belum jadi alias belum beratap, berdinding dan alasnya masih tembok semen kasar. Usai shalat dhuha, saya didatangi Pak Bachrum, pembina OSIS.

“Ban.. ikut saya yuk ke kantor Depdikbud…?” kata Pak Bachrum

“Mau ngapain Pak…?” tanya saya heran… tumben Pak Bachrum ngajak saya…

“Itu… di Depdikbud ada pertemuan dengan siswa Regina Pacis…” kata Pak Bachrum lagi menjelaskan

“Kok saya yang harus ikut..?” saya mulai curiga nih… takutnya dikaitkan dengan masalah beberapa hari lalu, perkelahian antara anak SMA 1 Bogor dengan SMA Regina Pacis

More...“Kamu khan anak OSIS, sie Rohani Islam, temenin Bapak untuk bertemu dengan perwakilan OSIS dari SMA RP, untuk membuat janji damai…” bujuk Pak Bachrum lagi…

Nah.. bener khan! Ternyata, saya diikut-ikutkan dengan peristiwa beberapa hari yang lalu. Jelasnya peristiwa itu begini (ini dari berbagai versi). Awalnya dari lapangan GOR Pajajaran, ada pertandingan bola basket. Biasa, pertandingan anak SMA, biasanya ‘panas’ dengan perang sorak menyoraki. Salah seorang siswa SMA (kemudian dikeluarkan), melakukan tindakan yang sangat menyinggung pihak SMA RP.

Akan, tetapi, keributannya baru terjadi besok harinya. Kakak kelas saya yang menjadi tokoh utama. Mereka nongkrong di dekat RP, dan ‘menghajar’ anak-anak RP yang keluar sekolah. Sialnya, salah satu mobil milik BAS (sekarang sudah jadi public figur), terkena darah cipratan dari siswa SMA 1 juga, mungkin dia me-lap darahnya ke bagian depan mobil. Jadi, ketika digerebeg, mobil itu pun jadi barang bukti dan dibawa ke kantor Polwil.

Siswa SMA 1 yang terlibat diinterogasi dan bahkan ditelanjangin kantor polisi. Tawuran ngga berhenti, karena malam harinya, penyerbuan dilakukan ke Lia di sukasari pada malam harinya sambil menyapu anak-anak RP.

BEsoknya lagi, Reza Pandit, ketua OSIS RP malah datang ke SMA 1, bawa temennya yang jadi korban, lengkap dengan perban di kepala. Ngga tau darah beneran atau didramatisir sana sini. Yang jelas, Pak Bachrum malah sewot dan marah-marahin Reza Pandit yang dateng kaya minta pertanggung jawaban, sampe bawa bukti hidup pula.

Ada efek positifnya sih, yang pertama pas Reza Pandit yang berambut gondrong itu datang pas razia rambut, jadi yang berambut gondrog selamat hari itu. Yang kedua, sejak itu anak STM swasta menyerang RP demi mendukung SMA 1. Makanya, sejak itu anak RP sering pulang jam 22.00 or jam 23.00; anak-anak SMA 1 juga begitu…

Sebenarnya antara SMA 1 Bogor dan SMA RP, dalam sejarahnya belum pernah berkelahi dengan sekolah mana pun. Artinya, kedua sekolah itu, sekaligus membuat sejarah melakukan perkelahian dan ribut dengan sekolah yang belum pernah ribut.

Suasana yang memanas dari dua sekolah yang terpisah oleh Balaikota Bogor itu memancing kekhawatiran dari pihak sekolah, termasuk guru-guru. Salah seorang guru Biologi kami, bahkan menyuruh siswa untuk memasukkan mobilnya ke dalam gerbang, karena takut dilempari batu. Dia ngga mikir, kalau waktu mindahin mobil itu, bisa aja siswa kena lempar batu.

Upaya perdamaian akhirnya ditempuh oleh kedua belah pihak, dan difasilitasi oleh Depdiknas di Bondongan. Nah, saya yang kebetulan ngga sengaja diajak oleh Pak Bachrum harus mewakili OSIS untuk berdamai dengan Reza Pandit, Ketua OSIS SMA Regina Pacis.

Saya nanya lagi ke Pak BAchrum…

“Emang, anak OSIS lain pada kemana Pak…?”

“Beberapa dari mereka juga ikut berantem….!” jawab Pak Bacrum enteng..

Pantes aja yang diajak saya.

Saya pun bersama Pak Bachrum ke Depdikbud. Disana sudah menunggu Pembina OSIS SMA RP dan Ketua OSISnya, yang juga tidak ikut tawuran. Setelah sambutan sana-sini, akhirnya, simbolisasi perdamaian dilakukan dengan bersalaman dan berpelukan antara saya dengan Reza Pandit; yang memang kami berdua tidak punya masalah sama sekali. Saya dan Reza Pandit menjadi juru damai dari perkelahian yang tidak kami lakukan.

One thought on “Jadi Juru Damai ‘Tawuran’ yang Tidak Saya Lakukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *