Ada sebuah rumah di dekat rumah saya, yang di depannya dipasang plang DIJUAL. Teman saya, yang pebisnis, melihat rumah itu dan mendatangi pemiliknya. Saat itu lumayan malam, jam 22.00.

Yang menerimanya Pak Yandi, suaminya.

Setahu saya, dulu di depan rumah itu ada mobil Baleno dan 3 angkot. Sekarang semuanya tidak ada. Ibu Yanto, akhirnya cerita, kenapa mereka berniat menjual rumah itu.

Rupanya, beberapa tahun yang lalu, dia menghutangi seseorang sebesar 178 juta rupiah. Tidak langsung, tapi perlahan, mencicil.

Awalnya, dia berkenalan, sebut saja dengan Bu I; karena perkenalan yang demikian baik, akhirnya terjalin persahabatan. Akan tetapi, persahabatan itu dimanfaatkan oleh Ibu I untuk berhutang kepada Ibu Yandi. Pertama-tama, hanya 1 juta rupiah, lama-lama Bu I mengatasnamakan orang-orang lain untuk meminjam uang kepada Bu Yandi.

Entah karena baik atau malah ‘dikerjai’, Bu Yandi member pinjaman, hingga totalnya mencapai 178 juta rupiah. Bahkan Bu Yandi sampai berhutang ke bank untuk meminjami uang kepada Bu I. Pak Yandi, suaminya sampai sempat bersitegang di Bu Yandi, untuk tak meminjamkan uang kepada Bu I. Tak digubris, malah Bu Yandi marah-marah.

Suatu saat, ketika hartanya sudah habis, Bu Yandi menjual mobil, rumah satunya lagi, barulah BuYandi tersadar. Tapi Bu I sudah kabur, tak tahu kemana. Bu Yandi melapor ke polisi. Tapi, polisi itu kemudian menetapkan ‘tarif’ untuk mengurusi proses hukum terhadap Bu I. Saking baiknya, Bu Yanto tak mau memperkarakan sampai ke penjara, karena bisa-bisa hutangnya ngga kembali.

Bu Yandi akhirnya membuat perjanjian dengan Bu I; mencicil per bulan sebesar 500 ribu. Pada bulan pertama hingga bulan ke-3, cicilan itu lancar. Akan tetapi masuk bulan ke-4, tiba-tiba Bu Yandi jatuh sakit. Rambutnya rontok, kulitnya mengelupas. Tidak mau makan. Pak Yandi, menduga Bu Yandi diguna-guna, karena ketika mendatangi dokter, tak terdeteksi penyakitnya.

Bu Yandi pun berobat ke pengobatan alternative. Untuk membiayai itu, apa pun asetnya dijual. Tak kunjung sembuh, Pak Yandi akhirnya membawa Bu Yandi mendatangi salah seorang ustadz yang terkenal di Indonesia dan sering muncul di televisi. Bu Yanto diberikan alternative, kalau mau pengobatan dengan cara dzikir dengan Paket Tetap, biayanya 6.5 juta untuk 11 kali dzikir, kalau Paket Umum, biaya seadanya, tapi harus mengikuti dzikjir semiunggu sekali dari jam 19.00 hingga pagi.

Bu Yandi tak bisa ikut dzikir, karena beragama Katolik, akhirnya memilih Paket Tetap. Biaya 6.5 juta pun dibayarkan. Baru 2 kali dzikir, tim pengobatan alternative mengajukan pembiayaan tambahan sebanyak 20 juta rupiah. Pak Yandi kaget, tak menyangka, ternyata majliz dzikir yang sering dilihatnya di televisi itu, sangat komersil, bahkan berusaha ‘menjerat’ pasien yang sangat membutuhkan pertolongan.

Pak Yandi membawa isterinya ke Bandung, untuk mencari pengobatan alternative lain. Tubuh isterinya makin kurus, tinggal tulang saja. Rambutnya rontok, sudah seperti orang yang terkena penyakit kanker.

Sampai di Bandung, pengobat alternative itu menyatakan bahwa Bu Yandi memang diguna-guna dan dikirimi 4 jin yang selalu mengikutinya. Jin-jin itulah yang mencegah Bu Yandi makan, membuat Bu Yanto berpenyakit. Pengobat alternative menawarkan apakah guna-guna itu akan dibuang atau dikembalikan. Bu Yanto menyerahkan keputusan pada pengobat alternative itu.

Bu Yandi pulang, dengan kondisi yang membaik. Besoknya Bu Yandi mendengarkan kabar bahwa Bu I meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan, banyak darah keluar dari mulut dan telinganya. Bu Yandi hanya bisa mengelus dada saja. Hutangnya sudah pasti tak akan lunas, karena hutang itu dibawa mati. Biar saja itu urusan Bu I dengan malaikat maut dan Tuhan, itu pikir Bu Yandi.

Pak Yandi dan Bu Yandi akhirnya berharap pada terjualnya rumah mereka di kampung saya. Harga penawarannya 300 juta rupiah. Saya tak bisa bantu apa-apa, hanya bisa mengantarkan teman saya untuk melihat rumah itu. Wallahu’alam, bagaimana cara Allah menolong Pak Yandi dan Bu Yandi, mungkin dari arah yang tak terduga-duga.

One thought on “Hutang Dibawa Mati

  1. berobat di bandung di mana ya? Boleh tau alamatnya? Saya juga ada masalah dengan non medis. Salam,

    kurang tau di Bandungnya dimana, katanya daerah Selatan. Karena udah lama berobatnya.. Kalau saya ketemu lagi, ntar ditanya lagi deh. Kalau majelis zikirnya sih tau, tapi pasti ngga mau kesana khan…..hmmmm

  2. Ibu saya katanya sih jg ada orang yang mengirim guna2, boleh tahu alamat pengobatan alternatif yg di Bandung? Trima kasih.

  3. Mohon maaf, kalau boleh tahu nama majelis dzikirnya apa ? Pengasuhnya siapa ? Mohon bisa di kirim ke alamat email saya. Sekedar cross check agar tak menimbulkan fitnah. Terima kasih.

    maaf, sumber beritanya tidak memberi tahu… saya juga tidak bisa menduga…

Leave a Reply to runi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *