Sebulan lagi, Jumadi Abdi, pesepakbola asal PKT Bontang, akan menikahi gadis yang dicintainya. Pertandingan minggu lalu melawan Persela Lamongan, menjadi awal petaka. Tendangan salah satu pemain Persela, tepat mengenai bagian vital tubuhnya. Jumadi Abdi digotong ke luar lapangan, dibawa ke rumah sakit dan dokter mengatakan bahwa usus dan limpanya pecah.

Jumadi Abdi meninggal seminggu kemudian. Pernikahannya tak pernah dilakukan. Ketika dimakamkan, teman-temannya sedang menuju Papua untuk melanjutkan liga yang katanya super itu. Pemain Persela? nihil!

Dengan segala argumen yang seperti biasa bisa dilontarkan oleh pelaku, ungkapan maaf bahwa itu ketidaksengajaan atau risiko pesepakbola, rasanya bukan lagi alasan yang pas. Nyawa yang melayang karena brutalnya permainan, berbeda masalah dengan permainan keras penuh sportivitas yang biasa diperagakan pemain bola yang di dalam jiwanya memang seorang kompetitor sejati.

Duka sudah pasti menggelayut di keluarga Jumadi Abdi dan calon pengantin pasangannya. Tapi, duka sesungguhnya adalah duka seluruh penikmat olahraga yang disuguhi horor dalam sepakbola Indonesia. Sudah tak ada prestasi, masih pula disajikan tontonan brutal, tak hanya oleh penonton, tapi juga pemainnya di lapangan.

Horor dalam sepakbola Indonesia adalah cermin dari karakter bangsa Indonesia. Fair play dan sportivitas menjadi ucapan yang manis dimulut tapi tak terwujud dalam perilaku, sikap dan pola pikir. Dan ini menyelusup ke berbagai sendi kehidupan, tak peduli yang ada di tingkat atas, pemegang pemerintahan atau di tingkat bawah para pemulung dan anak jalanan.

Hari ini, kampanye akan dimulai. Semua orang mulai ketar-ketir akan menghadapi kemacetan dari konvoi kampanye yang katanya akan menjunjung kata ‘damai’. Semoga saja, tak terjadi hal serupa, seperti dalam sepakbola Indonesia. Menjunjung tinggi satu kata atau jargon, tapi sekaligus berperilaku mencederai jargon tersebut. Banyak kata-kata manis dan memukau, semoga tak dicederai dengan tingkah laku yang memuakkan di kemudian hari; baik yang terpilih mapun tak terpilih.

Horor sepakbola dan kampanye sepertinya tak berhubungan. Tapi, percayalah, bahwa keduanya terjadi di Indonesia, dan masa kampanye pun membuat beberapa pertandingan sepakbola tak jadi dilangsungkan. Semoga saja, jargon damai di kampanye bisa menjadi jiwa di dunia sepakbola, supaya tak terhadi horor sepakbola. Semoga saja, jargon fair play juga bisa menjadi jiwa dari kampanye pemilu, sehingga pemilu bisa berjalan dan menghasilkan pemenang yang terbaik.

One thought on “Horor Sepakbola dan Mulai Kampanye

  1. Mungkin kata demokrasi bukan hanya di pemilu ya mas,
    tapi di sepak bola juga.
    seseorang belum merasa puas apabila lawan mainnya dipojokan ampe tuntas, apalagi kalau tangan dan kaki yang berbicara lebih jauh sudah kebayang akibatnya.

  2. pssi harus segera bertindak dan mengusut kejadian ini sampai tuntas,….sayang klo ada bakatx2 baru”,jumadi abdix2″ baru harus menghadapi liga “super”,super keras dan super horor….
    satu kata pemilu harus damai……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *