Hillary Clinton baru saja berkunjung ke Indonesia, atas titah alumni SDN Besuki 01, Menteng, Barack Obama, untuk mampir keIndonesia, karena dipandang memiliki peran penting dalam visi Obama untuk menyentuh dunia Islam. Minimal, Indonesia dihargai secara statistik, sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Sekali lagi, secara statistik.

Hillary bertemu Menlu Hasan Wirayuda, Presiden SBY dan Olga Syahputera. Yang terakhir ini karena Hillary dijadwalkan ada di acara Dahsyat RCTI.

Hillary berasal dari negara adidaya, polisi dunia, super power yang disambut kedatangannya dengan demonstrasi oleh berbagai kalangan, mulai mahasiswa hingga organisasi keagamaan. Utamanya, meyorot tentang peran Amerika menjadi bapak angkat Israel yang membuat resah dunia Arab dan seluruh dunia.

Hillary datang dari negara adidaya, mengunjungi negara yang katanya pertumbuhan demokrasinya baik, padahal banyak kasus terkait demokrasi belum selesai; padahal di Sumatera Utara, selain Ketua DPRD yang terbunuh, juga ketua Panwaslu-nya, dan banyak persitiwa lainnya .

Hillary disambut dengan berbagai macam respon ketika tiba di Indonesia. Tangan terbuka oleh negara, demonstrasi oleh sebagian kalangan mahasiswa dan peluang menaikkan rating oleh Dahsyat RCTI.

Nun di Jombang sana, Ponari si dukun cilik, juga disambut antusiasme warga. Yang ingin sembuh instan, yang ingin mengais rezeki (karena konon omzetnya mencapai 1 Milyar), yang bentrok dengan wartawan, yang ingin meliput. Tumpah ruah orang disana, dengan berbagai kepentingannya.

Ponari bisa diterima demikian antusias di Indonesia. Saya berpikir, mungkin memang tempatnya Ponari di Indonesia, di tengah bangsa yang seperti ini; Ponari bisa eksis. Entah jika dia ada di Amerika, negaranya Hillary.

Begitu juga Hillary, keberadaannya memang cocok untuk Amerika. Jika ada di Indonesia, entah dia jadi apa? Sosoknya memang cocok untuk culture dan intelektualitas politik Amerika. Terbukti, dengan kekalahannya dari Obama di Partai Demokrat, membuatnya tetap bisa loyal sebagai staf Presiden Amerika Serikat (minimal hingga saat ini). Hillary eksis di tengah kultru demokrasi yang sudah dewasa. Entah jika ia ada di Indonesia.

Hillary dan Ponari tidak bisa bertukar tempat. Keduanya eksis mewakili lingkungannya. Hillary adalah representasi kultur politik dewasa di sebuah negara adidaya. Ponari adalah representasi dari kultur percaya cara instan di sebuah negara yang ……daya (silahkan diisi sendiri).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *