Suatu kali saya bertemu dengan seorang spiritualis di Bogor. Dia punya bisnis dan ketika bisnisnya sudah lancar, waktunya didedikasikan untuk berceramah kemana-mana. Kadang sampai ke pelosok; bahkan sesekali muncul di televisi.

 

Orangnya enak diajak bicara, lucu dan bahan ceritanya ngga ada habisnya… saya iseng-iseng bertanya:

 

“ustadz.. punya kebiasaan tertentu nggak? yang diluar kebiasaan orang?”

 

Ustadz itu kemudian bercerita tentang satu kebiasaan kecilnya, yang rutin dia lakukan, hingga sekarang katanya…

 

“saya biasa menampung orang-orang gila di salah satu bagian rumah saya. Menyediakan kopi sama kue kecil; kadang kalau ada rezeki saya kasih makan juga…jumlahnya bisa mencapai 40 orang, kalau ngumpul semua. Saya biasanya sesekali menemani mereka ngobrol. Lucu juga mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Banyak inspirasi…aneh-aneh, tapi kalau dipikir mendalam, ada yang logis juga…”

 

Saya mikir..oh jadi dari sini sumber bahan cerita yang ngga ada habisnya…

 

Ustadz ini melanjutkan.

 

“mereka itu menjadi komunitas yang unik. Awalnya sedikit, lama kelamaan jadi banyak. Saling ajak saja. Interaksi unik itu juga jadi bahan renungan saya. Saking intensnya interaksi, ada laki-laki dan perempuan yang akhirnya dinikahkan. Keduanya orang gila. Entah bagaimana, pokoknya mereka menikah. Ternyata, walaupun otaknya dibilang tak waras, kalau urusan orientasi seksual sih masih waras…”

 

Oh… saya jadi mikir juga….

 

“Nah.. yang unik lagi, suatu kali ada satu orang gila yang biasanya hadir, tak hadir. Kebetulan sekali, saya saat itu dapat rezeki dan membagikan setiap orang gila itu uang Rp 5.000. Untuk orang yang tak datang itu, saya titipkan ke temannya…”

 

Terus… saya jadi penasaran..

 

“Bulan depannya, ketika ada kumpul-kumpul lagi, orang yang dititipi uang Rp 5.000 untuk disampaikan ke temannya itu laporan kepada saya, kalau dia nyari kemana-mana, ngga ketemu, makanya dia kembalikan uang Rp 5.000 ke saya. Terus terang saya kaget juga, tak menyangka, bahwa dia mengembalikan uang itu, dan mengatakan bahwa dia mencari temannya. Amanah juga nih orang gila…pikir saya”

 

Hmmm…saya ikutan mikir.. ini ustadz cukup aneh, belajar nilai-nilai kehidupan dari orang gila. Tapi, beberapa hal, mungkin bisa masuk akal, dari pemikiran orang yang katanya hilang akal alias orang gila.

 

Termasuk soal amanah tadi. Orang gila itu tak ‘memakan’ uang yang hanya Rp 5.000; mungkin saja memang karena tak butuh, atau semata menghargai sang ustadz atau siapa tahu, karena takut sama Allah. Entahlah, sebabnya apa.

 

Di sisi lain, banyak yang masih punya akal, justru memanfaatkan kepintaran akalnya itu untuk mencederai akal sehatnya sendiri. Ada amanah yang harus dituntaskan, malah memilih untuk tak melaksanakan amanah itu. Tak hanya soal uang, tapi juga soal-soal amanah yang berupa kemampuan, keterampilan, pengetahuan yang seharusnya dituntaskan sebagai bagian dari sosoknya sebagai manusia yang seharusnya memberi manfaat.

 

Mungkin, sesekali kita belajar tentang akal sehat dari orang yang akalnya tak sehat; walaupun setiap hari kita dijejali berita tentang orang yang punya akal tapi melakukan tindakan yang menunjukkan tiadanya rasa syukur terhadap anugerah akal sehat itu.

 

Mungkin, sama saja dengan politisi, yang mudah-mudahan melihat setiap suara yang jadi contrengan adalah juga amanah yang harus dituntaskan. Semoga saja, mereka tak menggunakan akalnya untuk mencederai amanah itu. Semoga saja, mereka mengoptimalkan akalnya untuk menyempurnakan amanah itu, sehingga menjadi bagian dari pertanggung jawaban mereka kelak di hadapan Sang Pencipta Akal.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *