sunset

Hari ini adalah hari terakhir dari agenda Golden Ticket trip. Kami akan menemui Dr. Takara; tempat tinggalnya ditempuh dengan perjalanan 1 jam dari hotel. Saya bersiap tidur ketika mengetahui akan menempuh perjalanan selama itu.

Ternyata, pemandangan di kiri kanan kami sungguh indah. Perjalanan yang membuat mata tak bosan. Di kiri, saya bisa melihat gunung dan warna hijau pepohonan; di kanan kami bisa melihat laut yang pagi ini memantulkan warna langit biru berawan yang cerah sekali. Saya tentu saja tak jadi tidur.

Kami menyusuri Kamehameha Highway, sebuah jalan utama yang panjang sekali. Sekedari informasi, Kamehameha adalah nama Raja pertama Hawaii, pantas saja jika namanya diabadikan untuk jalan sebesar dan sepanjang ini.

Tak terasa, kami memasuki rumah Dr. Takara. Awalnya saya berpikir akan menemui seorang yang serius, karena dia doctor dan penulis pula. Begitu sampai di rumahnya, menyambut kami seorang wanita berkulit hitam, dengan bunga di telingan kanannya, berpakaian biru cerah khas Hawaii dan menyapa kami dengan senyum, tak hanya di bibirnya, tapi juga matanya ikut tersenyum. Ramah sekali.

Kami disambut di depan rumahnya yang unik sekali, seperti rumah di tengah kebun; bukan rumah yang memiliki kebun. Berbincang sejenak, sebelum Dr. Takara mengantar kami ke belakang untuk melakukan wawancara dengannya.

Dr. Takara adalah mantan pengajar, lebih dari 30 tahun. Kini, setelah pensiun, dia menghabiskan waktunya untuk menulis. Bukunya terutama tentang sosok Afro Amerika yang berpengaruh di Amerika Serikat, termasuk juga tentang Obama dan Frank Marshall yang menjadi teman kakeknya Obama.

Dr. Takara bercerita tentang bagaimana menjadi ‘orang kulit hitam’ di Hawaii. Tentu saja dia bercerita dengan senang hati.

Dr. Takara mengatakan bahwa, ketika Hawaii menjadi Negara bagian Amerika Serikat, itu menggembirakan bagi orang-orang minoritas di beberapa Negara bagian lain, termasuk dirinya yang ketika itu tinggal di Alabama. Semuanya gembira karena ketika Hawaii menjadi Negara bagian, akhirnya ada juga Negara bagian yang di dalamnya orang kulit putih tidak menjadi mayoritas.

takara

Memang benar, di Hawaii, tak ada mayoritas, karena etnis paling banyak hanya berjumlah 20% dari jumlah penduduk. Inilah miniatur Amerika Serikat dari sisi keragaman etnik. Dan keragaman itu pula yang mempengaruhi Obama untuk menaruh respek terhadap perbedaan.

Hawaii telah berubah. Jika dulu orang-orang keturunan ditanya tentang asal-usulnya, maka yang keturunan Jepang akan menjawab “saya separuh Jepang”, yang keturunan Portugis akan menjawab “saya keturunan Porugis”, begitu pula dengan orang-orang keturunan lainnya. Tapi, kini, seiring dengan perkembangan dan kemajuan Hawaii, orang-orang keturunan itu, ketika ditanya tentang asal-usulnya akan menjawab: “saya separuh Hawaii”.

Keragaman di Hawaii pula yang menjadikan setiap orang diterima terbuka. Dahulu, ketika akan membeli rumah saja, jika si pembeli berkulit hitam, maka tak ada peluang untuk membeli rumah; akan tetapi jika si pembeli keturunan Kaukasia, peluang membeli rumah terbuka. Tapi itu dulu, kini, semuanya sudah berubah; keharmonisan dalam keragaman telah menjadi ciri khas Hawaii.

Wawancara dengan Dr. Takara, yang dilakukan di dekat studio menulisnya yang cukup unik; karena berisi pernik dari perjalanannya selama menjadi pengajar. Dengan majunya dunia internet, rasanya pilihan tepat untuk menulis di kaki gunung, jauh dari keramaian, dengan dunia yang ada di layar komputer kita.

Kami pamitan, tentu dengan berfoto bersama di depan rumah indahnya. Dr. Takara memberi kami bunga untuk diselipkan di telinga, serta pisang dari kebunnya untuk dimakan dalam perjalanan. Baik hati sekali.

Terima kasih Dr. Takara, menyenangkan mengenal intelektual baik hati yang bisa berbagi kepada dunia dengan penuh kecintaan.

(Menulis di Pesawat Honolulu – Narita, 15.00)

One thought on “Hawaii; Negara Bagian Tanpa Mayoritas

  1. ya, tanpa mayoritas tapi punya satu “ideologi” yg sama yaitu “American dream with American way”. itulah sebabnya hawaii aman2 aja. lain dgn di indonesia hari ini khan?

  2. ooo… ternyata kamehameha adalah seorang Raja pada jaman dahulu. kirain cuma dalam komik Dragon Ball aja ^-^

    mantap jalan2nya, mudah2an suatu saat bisa kesana juga

  3. Menurut saya yang paling menarik ketika native people di sana bisa di upgrade ke standard US (Mainland) yang seharusnya bisa kita terapkan untuk di wilayah Indonesia yang masih terbelakang secara ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *