Happy Jump Over Singapura

Tak terduga, saya mendapat kesempatan untuk berwisata ke Singapura. Bersama pemenang Fast Browse & Win yang diselenggarakan oleh Plasa MSN.

Berkumpul dini hari di Terminal 2D Bandara Soekarno Hatta, sudah terlihat antusiasme para pemenang yang membawa 1 orang yang diajaknya. Kebanyakan dari pemenang yang masih single, membawa ibunya. Ada yang membawa kakaknya, ada juga yang membawa temannya.

Rapih sekali cara menghandle pemenang dan kami, dari beberapa media. Saya hadir mewakili blogger, ada teman media dari Okezone.com dan PCPlus juga. Mulai dari pemberian name-tag untuk identitas bagasi, hingga kaos dan topi yang bertuliskan Fast Browse & Win. Rapi.

Pesawat Lion Air menerbangkan kami ke Singapura, jam 06.15 dan sampai di Changi Airport jam 09.30. Bergegas ke imigirasi, sambil tak lupa foto-foto di beberapa lokasi. Hingga tiba di pengambilan bagasi. Karena saya keasyikan nge-twit, maka bagasi saya pun terbawa kembali ke dalam dan saya harus menunggu kembali. Asyik nge-twit dan update status, saya celingak-celinguk, melihat sekeliling, ternyata saya ketinggalan. Teman-teman satu rombongan sudah berangkat lebih dulu ke Merlion Park.

Segera saya menelpon panitia, @chikastuff, mencari tahu nomor kontak panitia yang lainnya. Alhamdulillah akhirnya bisa tersambung juga. Akan tetapi, masalahnya adalah, ternyata bis rombongan tak bisa kembali. Jadi, saya harus menyusul ke Merlion Park pake taksi.

Hmmm.. Hari pertama sudah begini. Salah saya juga, terlalu asyik nge-twit sampai lupa ngeliat rombongan. Segera saya ke Money Changer, karena pake taksi harus bayar $ Singapura.

Saya ngantri menunggu taksi. Tak lama, taksi pun datang.

“Merlion Pak” kata saya dengan logat Sunda Inggris. *Mer-li-yon. Begitu bunyinya.

“What… ?” Jawab Supir taksi bingung; dengan logat Sing-Lish alias Singapura English.

“Mer-li-yon Park Sir” kata saya menegaskan, tetap dengan logat Sunda.

“Oh.. Mer-lai-yon Park… oke…” Jawab Pak Supir Taksi, baru nyadar.

Saya juga baru nyadar, atau emang bawaan, nyebut Merlion Park dengan logat Sunda, jadinya Mer-li-yon; bukan Mer-lai-yon.. Hehehe.. Lidah Sunda memang sulit beradaptasi.

MERLION PARK

Meluncurlah saya ke Merlion Park, taksi bayar taksi SG$ 18. Sampai disana, rupanya rombongan sudah mau pulang. Segera saya menemui panitia, mohon maaf karena saya tertinggal. Anehnya, ternyata, peserta dianggap sudah cukup dan ikut semua. What? Berarti saya ngga masuk itungan ya? hehehehe… Never mind; gak apa-apa lah. Yang penting sudah ketemu, dan bisa langsung gabung. Oh ya, pemandu-nya orang India, yang bernama Pak Rahmat.

Merlion Park itu gak besar-besar banget. Posisinya yang strategis dan memang menjadi ikon Singapura. Kita bisa foto dengan background Patung Merlionnya, atau bisa juga dengan background Hotel Marina Bay Sands Singapura yang terkenal dengan bentuk kapal pesiar di atas penopang 3 gedungnya itu. Atau, bisa juga berfoto dengan background keduanya. Pemandangan luar biasa.

Small but Beautiful. Mewakili Singapura banget.

Puas berfoto-foto, rombongan kembali ke bis. Sebelum sampai, ada yang jual es dung dung, kalau di kampung saya, es nong-nong; cuma, ini agak modern. Lumayan enak. Harganya SG$ 2.

GALERI COKELAT

Kami pun berangkat menuju Galeri Cokelat. Letaknya tak jauh. Di Galeri Cokelat ini segala macam cokelat dengan aneka rasa dijual. Mulai dari rasa kopi, durian, jagung; pokoknya segala macam ada. Saya pun ingat dengan anak-anak yatimonline binaan di kampung; maka saya beli 2 kotak cokelat berbentuk Patung Merlion dengan rasa durian dan jagung. Harganya $SG 12. Lumayan, murah, meriah dan banyak.

Usai dari Galeri Cokelat, kami diajak ke toko souvenir. Melihat-lihat anek souvenir khas Singapura. Lucunya, di toko itu pun dijual batik. “Batik Singapura” kata penjaganya. Para penjaga toko bilang: “Rupiah Can”, maksudnya “Kaleng Rupiah?” Hehehe, rupanya mereka ngerti, kalau yang datang orang Indonesia, jadi mereka bilang bisa bayar pake rupiah.

Usai belanja, rupanya perut sudah memberi alarm, lapar. Bergeraklah kami ke Park Mall, dekat National Museum of Singapura untuk makan siang.

KUBILAI KHAN RESTAURANT

Pas masuk ke parkiran Park Mall, kayanya gak meyakinkan nih tempat makannya. Ternyata, setelah sampai ke restoran, lumayan juga resto-nya. Namanyai Kubilai Khan Restaurant. Mungkin masih saudara sama Shah Rhuk Khan. :). Pak Rahmat, pemandu kami, mengatakan, bahwa makanannya prasmanan, dan kami boleh milih sayuran yang sudah matang dan siap santap atau makanan mentah yang harus dimakan dulu. Saya pun memilih yang kedua. Mirip-mirip tepayaki. Minumnya? Yummy.. ada es cendol, buah naga dan es kacang merah. Mana yang saya minum? Semuanya dikombinasikan jadi satu. Hahahaha.. Enak pokoknya.

Makan enak, perut kenyang, bawaannya ngantuk. Tapi, ada kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Karena hari Jum’at, kami pun bergegas ke Mesjid. Lokasinya di dekat Orchard Road. Mesjidnya tersambung dengan perkantoran. Namanya Mesjid Al Falah

JUM’ATAN DI MESJID AL FALAH

Sudah ramai mesjid terisi. Jam 13.15. Tepat waktu. Ketika kami masuk ke Mesjid, terdengar sayup-sayup adzan. Bahasa Qur’an tidak kenal logat ternyata. Dimana-mana, suara adzan, ya seperti itu juga.

Perut kenyang, siang hari, Jum’atan, kombinasi yang lengkap untuk mengantuk dan tertidur. Hehehehe. Saya tertidur dan bangun kemudian Shalat Jum’at. Usai shalat Jum’at, disambung Shalat Ashar yang dijama’. Alhamdulillah.

Hujan gerimis mulai mengguyur Singapura. Kami bergerak menuju Kantor Microsoft Singapura yang letaknya tak jauh dari Merlion Park. Semua peserta kini menggunakan topi, takut hilang dan ketinggalan, katanya.

KANTOR MICROSOFT SINGAPURA

Kantor Microsoft Singapura ini gak terlalu besar, letaknya di Lantai 5. Yang unik, viewnya langsung ke Marina Bay Sands Hotel, jadi indah banget. Betah kalau ngantor disini.

Kami dipandu oleh karyawan Microsoft Singapura, melihat kemajuan teknologi yang dikreasi oleh Microsoft. Kelihatan sekali, para peserta dan pemenang Fast Browse & Win antusias. Saya juga antusias; tapi, apalagi pernah berkunjung ke kantor pusat Miscrosoft di Bellaveu, Seattle, USA.

Kemajuan teknologi mulai dari Microsoft Surface, yang main komputer touch screen berasa nge-DJ, sampai main-main game mirip xBOX tapi ukuruannya jumbo. Benar-benar berasa jadi anak kecil kembali. Ternyata, kemajuan teknologi a la Microsoft itu membawa kita kembali untuk belajar sambil bermain; kembali menemukan antusiasme belajar anak-anak pada diri kita. Dan itu sangat bagus.

Dari Microsoft Singapura, kami berangkat menuju acara utama. BELANJA. Destinasi: CHINA TOWN

BELANJA DI CHINA TOWN

Untungnya, Pak Rahmat, pemandu rombongan, tahu, toko mana yang harga jualnya paling murah; atau malah itu toko temannya Pak Rahmat? Ah, tak apa-apa lah, yang jelas, kami menuju China Town dengan antusiasme tinggi, karena bakalan membelikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Saya jadi ingat titipan Naya, puteri saya, “Abi, beliin boneka ya?” Langsung saya mencari boneka. Ya, gak nemu boneka tangan, akhirnya pilihan saya jatuh ke boneka khas Singapura. Yang asyik, harga untuk setiap souvenir, $SG 10 untuk 3 barang; dan tak harus barang yang sejenis. Memudahkan sekali.

Saya pun membeli 3 boneka, 4 kaos, 1 topi kecil China dan 1 butir kelapa (kalau ini bukan untuk dibawa pulang, tapi untuk diminum di tempat, karena kehausan).

Dan ternyata, setiap toko di ChinaTown itu harganya sama saja. Bisa-bisanya pemandu saja ini sih. Tak apalah. Yang jelas, enjoy shopping. Lebih asyik lagi, ternyata oh ternyata, kebanyakan turis yang belanja ke ChinaTown adalah orang Indonesia. Kedengeran dari bahasanya dan kelihatan dari perilaku belanjanya. Hehehe.

Puas belanja di Chinatown, tadinya kami akan kembali ke Marina Bay. Tapi, karena kesorean, kami pun sepakat untuk langsung menuju rumah makan di Jl. Bengcoloon, jaman dulu sih namanya Jalan Bengkulu; sekarang berganti jadi Bengcoloon. Sepanjang perjalanan, agak heran juga saya, karena tidak kelihatan hiruk pikuk orang berjalan kaki di sepanjang jalan utama, padahal hari ini week-end. Ternyata, para pekerja Singapura hampir semuanya menggunakan MRT yang ada di bawah tanah. Bagus sekali ya? Andaikan Jakarta sudah memiliki transportasi massal di bawah tanah, kemacetan akan segera hilang di jalan-jalan utama Jakarta. Hotelnya bagus, di pusat kota, memudahkan sekali untuk menelusuri kehidupan Singapura.

BENGCOLOON RESTAURANT

Tiba di Hj. Mariyah Bengcoloon Restaurant, kami disambut dengan sajian makanan khas Indonesia. Rendang, sup, ayam goreng, sayur dan tentu saja sambal. Makanan yang enak dan sangat cocok dengan lidah orang Indonesia, karena yang masak memang orang Indonesia. Nikmat sekali.

Makan malam usai, destinasi selanjutnya adalah chek in ke Orchad Parade Hotel di Orchad Road yang sangat terkenal itu.

MENGINAP DI ORCHAD PARADE HOTEL

Orchad Road, Singapura; jalan utama yang sangat terkenal, rapi dan tertata; menjadi pemandangan yang sangat menarik. Saya membayangkan, andaikan saja Jakarta dikelola dengan benar, maka jalan-jalan utama di jakarta bisa seperti Orchad Road.

Sampai di Hotel, langsung check in. Hotelnya bagus, tapi tidak bagus bagi seorang blogger seperti saya; karena tidak ada free wifi. Hehehe. Tak apalah, tanpa wifi, berarti ada beberapa kegiatan lain yang bisa saya lakukan. Jalan-jalan misalnya.

Lewat twitter, saya pun bertanya tentang destinasi belanja yang menarik di Singapura. Tersebutlah nama Mustafa Center. Saya belum tahu saat itu, saya pikir semacam grosir atau toko kecil lah. Saya mengajak teman sekamar dan beberapa teman lain untuk jalan ke Mustafa Center, katanya harga barang disana lebih murah.

Ke Mustafa Center di dekat Little India, kami memilih menggunakan MRT. Harus transit dulu di stasiun Goody Gant, sebelum disambung ke Ferrer Park. Kami pun menggunakan mesin untuk membuat Smart Card, dengan destinasi Ferrer Park, harganya $SG 2.4. Cukup murah. Caranya pun mudah, tinggal masukkan data destinasi MRT dan akan keluar harga tiketnya. Masukan uang $SG, jika tak ada uang pas, maka akan keluar kembaliannya. Smart Card dengan tujuan yang tepat pun sudah kita peroleh. Hati-hati, jangan salah turun stasiun, bisa jadi smart cardnya tak berfungsi ketika keluar.

MUSTAFA CENTER

Ternyata Mustafa Center tak seperti dalam bayangan saya. Mustafa, yang dulunya adalah seorang pedagang kaki lima dan diusir-usir Satpol PP-nya Singapura itu kini menjadi komplek belanja yang sangat besar. Serupa mall sendiri. Salut. Dan inilah salah satu Singaporean Dream, bahwa setiap orang yang bekerja keras, pasti akan menuai sukses. Mustafa Center wujudnya.

Kami pun belanja sepuasnya di Mustafa Center. Karena ada beda perilaku belanja perempuan dan laki-laki, maka kami janjian untuk bertemu di lokasi tertentu usai belanja selama 1 jam. Betul saja, ternyata, hanya dala waktu 30 menit, kami, para laki-laki, sudah bosan belanja, dan tak jago dalam menawar. Barang pertama yang kami temui dan sukai, ya langsung dibeli. Beda dengan perempuan, bisa saja menawar dulu, atau melihat-lihat di lokasi yang berbeda, siapa tahu menemukan harga yang lebih murah.

Ramai sekali Mustafa Center ini, nyaris seperti pasar malam. Dan inilah pusat belanja yang buka 24 jam; karena biasanya, pusat belanja di Singapura sudah tutup jam 22.00, apalagi di akhir pekan. Selain belanja, kami pun bisa menikmati makanan yang kebanyakan disajikan oleh orang India, seperti martabak dengan berbagai isi dagingnya. Enak, tapi gede banget porsinya.

Karena MRT terakhir jam 23.00, maka jam 22.30 kami sudah keluar dari Mustafa Center. Kembali menuju hotel. Ketika sampai kembali di Orchad Road, tak lupa kami berfoto untuk mengabadikan Orchad Road di malam hari. Indah, rapi dan tertata. Itulah kesan yang didapatkan.

Kembali ke kamar hotel, mandi air hangat dan langsung bersiap tidur. Malam pertama di Singapura, menjadi malam yang menyenangkan, mengeyangkan dan melelahkan.

Besok, kami akan mengunjungi Universal Studio Singapura di Sentosa Island. Pengalaman yang pastinya seru.

Saya pun tidur dengan penuh senyum.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.