Menunggu di Balai kota Bogor…

Bis demi bis berjalan masuk. Saya melihat ke dalam bis. Banyak yang melambai. Tapi orang tua saya belum ada juga. Baru di bis ke-9, orang tuaku datang. Wajahnya sumringah. Melambai kepada para penjemput. MC di aula balai kota mengajak bertakbir menyambut rombongan haji asal Bogor.

Saya khawatir, karena kabar di televisi mengatakan bahwa ada 2 maktab yang terkena kelaparan. Saya khawatir, karena kedua orang tua saya sudah berusia di atas 70 tahun. Begitu turun  dari bis, saya dan kakak langsung menjemput orang tua.

Bapak saya yang memang cuek, meminta kami untuk mengambil tas. Ibu saya yang memang ngga mau ngerepotin, malah ikutan ngambil tas.

Setelah tas ketemu, kami pun langsung menuju mobil untuk pulang. Saat itu pukul 03.00.

Di mobil, saya menanyakan tentang cerita kelaparan sewaktu ibadah haji. Di televisi sih banyak pejabat yang jadi punya keahlian beladiri, jurusan bersilat lidah. Mengatakan itu ujian lah, apa pun lah… Saya ingin dengar yang sesungguhnya.

Orang tua saya bergabung di maktab 6. Yang kelaparan itu di maktab 5 dan 7. Kelewat.

Ibu juga cerita ketika kelaparan itu akan terjadi, dia membeli roti besar seharga 30 real. Beberapa jamaah lain, melarang, karena nanti juga akan ada konsumsi dari panitia haji Indonesia. Ibu saya yang memang hobinya jaga-jaga itu, tetap membeli roti besar, plus pisang yang lumayan besar juga.

Ternyata, kelaparan pun menimpa beberapa jamaah. Ibu saya membagi roti besar itu menjadi beberapa potong dan dibagikan kepada semua jamaah. Begitu juga pisang besarnya, dibagi juga kepada seluruh jamaah. Terharu saya mendengarnya. Tidak semua orang yang berhaji mendapat kesempatan beramal seperti itu.

Ketika akan jumrah aqobah pun, Ibu saya membawa batu melebihi jumlah yang seharusnya (lebih dari 63 (?)). Al hasil, ketika di prosesi jumroh aqobah itu ada beberapa jamaah yang kehilangan batunya, dan otomatis bisa kena denda, Ibu saya pun dengan senang hati membagi-bagikan batu yang sebenarnya cukup berat ketika dibawa.

Ada satu cerita lagi yang memilukan. Karena makanan yang minim dan ibadah haji yang berat. Suatu ketika, ibu menemui seorang jamaah wanita asal Indonesia  yang sedang berselonjor di depan mesjid. Kecapean.  Ibu yang kecapean itu bilang, bahwa belum makan dari pagi. Ibu saya yang memang bawa stock roti, langsung memberikan kepada Ibu itu. Dimakan dengan lahap. Kemudian dikasih minum. Diminum dengan segera.

Dua jam kemudian, ada keranda jenazah yang lewat di depan Ibu saya. Keranda itu ternyata berisi ibu, jamaah wanita Indonesia yang kecapean tadi.

Subhanallah. Ibu saya memperoleh peluang begitu banyak untuk menolong orang lain. Mungkin itu buah dari karakternya selama ini untuk selalu mendahulukan orang lain.

Jadi berpikir juga, ketika suatu saat saya kesana, akan seperti apa peluang-peluang amal baik itu saya dapatkan.

Tidak terasa, sampailah kami di rumah, langsung menuju masjid keluarga dan melakukan sujud syukur. Ustadz di kampung kami yang menjadi panitia penyambutan di pagi buta itu, langsung menyapa…

“Ahlan wa sahlan Pak Haji  dan Bu Haji….wilujeung sumping ka Ciapus….”

Duh….. sapaan itu menyejukkan. Tidak diminta tapi sudah diberikan orang. Walaupun bedanya hanya warna peci di kepala.

Saya sujud syukur, karena tidak sia-sia tabungan saya kumpulkan dari keringat demi keringat untuk mengantar kedua orang tua saya tercinta berkunjung ke rumah Allah, dan kembali dengan selamat.

One thought on “Hampir Kelaparan saat Berhaji

  1. Duh..A baban perjalanan spiritual ibu mengharukan banget, seperti rasanya mengetuk hati lagi, sudah sejauh mana kepedulian kita tuk menolong sesama. Semoga kita punya kesempatan itu yaa. amin

    makanya pengen segera pergi ke rumah Allah ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *