Pemilu tinggal menghitung hari. KPU kini mendapat banyak sorotan, kasus Daftar Pemilih Tetap palsu, yang jumlahnya lumayan signifikan. Kampanye pun makin banyak yang melakukan pelanggaran, mulai dari penampilan yang diluar konteks pemilu, hingga penyertaan anak-anak selama kampanye.

Para golongan putih, tetap dengan tekadnya untuk tak memilih. Apa pun yang ditawarkan caleg dan partai, para golput tetap tak akan memberikan suaranya… mereka berpandangan, memilih dan tak memilih, tak ada bedanya.

Para golongan hitam, pun mulai beraksi. Membeli suara dan menukarnya dengan berbagai benda yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Dengan atas nama kebaikan, money politik pun dihalalkan. Para golongan hitam pun memanfaatkan kampanye dengan menghalalkan segala cara.

Golongan putih yang tak memilih mungkin saja memberikan peluang bagi golongan hitam untuk menang. Golongan putih memang, sebuah sikap yang patut dihargai. Tapi, suatu saat ketika golongan hitam yang menang dalam pemilu, golongan putih mungkin saja hanya cuci tangan, karena merasa tak ikut ambil bagian. Padahal, dengan tak memilih, itu bisa jadi, adalah sebuah pembiaran. Bukankah pemilu berarti satu suara begitu berharga?

Golongan putih dan golongan hitam adalah dua sikap. Akibatnya adalah 5 tahun ke depan dari pilihan rakyat. Terlebih wasit bernama KPU yang banyak jurus pertahanan diri saat ini. Semoga saja, pemilu nanti tak memperburuk nasib bangsa ini.

One thought on “Golongan Putih vs Golongan Hitam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *