Sebut saja namanya Pardi. Caleg yang terpilih menjadi anggota DPD periode 2009-2014 dari DKI Jakarta. Menempati urutan ke-4. Banyak orang menduga, terpilihnya Pardi, karena nomornya 31. Padahal Pardi bernomor 31 karena sesuai urutan abjad. Padahal, Pardi sebelumnya memang banyak berbuat untuk masyarakat dengan melakukan pendampingan bagi bantuan kesehatan bagi rakyat miskin.

Pardi berdalih, bahwa dia terpilih bukan hanya semata karena bernomor 31, tapi memang dicontreng karena sudah banyak berbuat.

Apa pun, hal-hal aneh memang bisa terjadi karena penyelenggaraan pemilunya pun cukup aneh. Karib saya di Sulawesi sana pun, tak terpilih di saat-saat akhir untuk pergi ke Senayan; katanya karena ada kalkulasi ulang dari hasil perhitungan suara. Komputer yang disalahkan.

Pardi jadi tamu di Democrazy, Metro TV. Ketika ditanya, apakah terpilihnya dia sebagai anggota DPD ada faktor lucky number, mendapat nomor 31?

Pardi menjawab:

“Karena urutan abjad, saya mendapat nomor 31. Saya tak meminta nomor 31. Kalaupun boleh saya meminta nomor, maka pasti saya akan meminta nomor 28.”

“Kenapa nomor 28?” tanya Iwel, host-nya.

“Karena nomor 28 itu partai saya.” Jawab Pardi enteng, seolah tak ada yang salah dengan pola pikirnya.

Bukankah orang-orang partai sudah punya jalur untuk menjadi wakil rakyat? Kenapa kemudian. jatah DPD-pun diambil oleh orang yang sebenarnya mewakili partai. Sudah terbukti kualitas legislator dari partai tak cukup mumpuni, malahan sekarang para pengusung partai itu pun beralih rupa menjadi anggota DPD.

Pantas saja, Laode Kamaludin kemudian melakukan klaim bahwa DPD mendukung SBY sebagai presiden, walaupun mendapat tentangan kawan sendiri. Pantas saja. Toh di pikiran para legislator itu, apa yang mereka jabat, organisasi yang mereka wakili, semuanya semata adalah sarana untuk memenuhi syahwat politiknya.

Hmmm.. negaraku yang aneh, pemilu yang aneh, orang-orang ber-syahwat politik aneh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *