<!–[if gte mso 9]&gt; Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]–><!–[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !mso]&gt; st1:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;![endif]–> <!–[if gte mso 10]&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;} &lt;![endif]–>

Ini true story dari teman saya yang masih dalam keadaan bingung…

Ketika ayah saya wafat, rumahnya masih menyisakan cicilan di bank. Menjadi kewajiban saya sebagai anak untuk meneruskannya. Akhirnya cicilan rumah itu saya lanjutkan. Jumlahnya ratusan juta rupiah. Ketika saya berunding dengan isteri, kami sepakat untuk menebusnya. Rumah itu tetap atas nama Ibu, sesuai dengan wasiat almarhum ayah saya. Rumah kami pribadi dijual untuk membeli rumah itu.

Ibu tinggal di Malang, bersama adik saya. Tentu saja, supaya bisa menikmati masa tuanya dengan tenang, jauh dari hiruk pikuk kota Jakarta.

Adik saya memberi kabar bahwa Ibu disantet. Di perutnya ditemukan berbagai benda tajam. Ibu diobati oleh beberapa orang pintar, berkali-kali. Saya hanya berdo’a, semoga Ibu terhindar dari ancaman ilmu hitam seperti itu.

Pagi tadi, tiba-tiba saja Ibu datang ke rumah kami, bersama adik saya. Naik kereta. Langsung mendatangi saya yang saat itu sedang berada di ruang tamu, karena pintu depan saat itu terbuka.

“Kamu mau bunuh Ibu?” Wajah Ibu tegang. Langsung menohok ulu hati saya.

“Kenapa Bu?” saya kaget sekaget-kagetnnya. Bagai petir di siang bolong. Ibu yang saya cintai tiba-tiba mengucap kalimat yang mengagetkan saya.

“Kamu nyantet Ibu…? Kamu mau bunuh Ibu” Ibu tetap marah dan mengucap kalimat yang tak pernah terlintas di kepala saya terlontar dari orang yang sangat saya hormati dan cintai.

Saya hanya diam. Mendengarkan kata-kata Ibu saya yang mungkin tidak ingin saya ingat. Saya bingung, sedih, campur aduk.

“Kamu keluar dari rumah ini….!!!! Keluar!!!!” Ibu berkata dengan sangat tegas, keras dan serius.

Saya hanya termangu, bengong, terdiam.

“Kamu mau membunuh Ibu, kamu mau ambil semua harta peninggalan ayahmu. Kamu nyantet Ibu…!!!!” berondongan amarah itu pun tertumpah kepada saya yang masih belum mengerti keadaan sebenarnya..

Saya bersimpuh di kaki Ibu. Minta maaf. Minta ampuh bahkan.

Saya ajak isteri dan anak saya mengambil beberapa keperluan seadanya. Saya keluar. Saya keluar dari rumah dalam keadaan bingung. Tidak tahu mau kemana.

Saya kontak rekan saya, yang mengelola yayasan yang saya bangun.

“Pak.. di yayasan ada tempat?”

“Kenapa Pak.. kok nanya ada tempat segala?”

“Saya keluar dari rumah, butuh tempat untuk beberapa waktu”

“Kenapa Pak…?”

“Sudah, nanti saya ceritakan lengkapnya. Yang penting ada tempat gak di yayasan?”

“Oke..oke.. ada Pak.. silahkan saja”

Saya memang mendirikan yayasan, menjadi pengayom yayasan yang membantu kehidupan para dhu’afa. Kini saya menjadi orang yang butuh pengayoman, karena baru saja keluar dari rumah.

Saya segera menuju kesana. Tidak jauh dari rumah saya.

Adik saya kemudian menyusul. Saya langsung tanya tentang kondisi Ibu.

Adik saya menjelaskan bahwa setelah Ibu diobati oleh salah satu orang pintar, yang mengatakan bahwa santet itu kiriman dari Jakarta, dari orang dekat. Dia mengatakan santet itu dari saya.

Saya langsung lunglai. Fitnah luar biasa kejam.

Bagaimana mungkin saya berniat sesuatu yang buruk seperti itu? Yang ingin saya lakukan adalah berbakti kepada kedua orang tua saya. Mau mencari keberkahan dimana lagi selain keberkahan dari seorang Ibu, orang tua saya yang masih hidup?

Malin Kundang saja dikutuk jadi batu karena ia mendurhakai ibunya. Saya? Difitnah akan membunuh ibu saya. Melakukan sesuatu yang tidak terlintas di kepala sepersejuta milyar detik pun. Mau marah pun saya tidak tahu kepada siapa.

Setelah mendengar penjelasan adik saya, saya duduk dengan tubuh yang makin lemas. Saya menyuruh adik saya kembali ke rumah, menemani Ibu. Saya masih mencerna kejadian ini. Pikiran rasional dan irrasional bekerja silih berganti di kepala saya.

Kini, saya masih tinggal di yayasan. Menunggu, sambil berdo’a semoga saja ujian dari Tuhan ini bisa berlalu, tentu dengan pelajaran berharga di dalamnya.

Saya yakin Tuhan yang Kuasa membolak-balikan hati.

Saya yakin, Tuhan tidak akan memberikan ujian yang manusia tidak sanggup memikulnya.

Ini true story dari teman saya yang masih dalam keadaan bingung…

One thought on “Difitnah Malin Kundang

  1. semoga temanx diberi kekuatan ya mas,.. 😀

    salam kenal

    salam kenal juga.. iya bener, mungkin lagi diuji teman saya itu.. makanya dia share.. katanya bisa meringankan bebannya kalau ditulisin….nulis bisa jadi terapi rupanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *