There’s no room for mediocre. Tidak ada ruang bagi orang yang sedang-sedang saja. Slogan itu identik dengan dunia entertainment. Lihat saja. Rata-rata bintang yang sukses selalu memiliki kelebihan. Bisa aktingnya, bentuk tubuhnya atau malah kelebihan berat badannya.

Coba lihat, jika bicara orang kerdil, maka yang muncul di kepala, kalau dulu ada Otong Lennon dan Memet Mini, kini orang kemungkinan akan menyebut Ucok Baba. Kalau bicara artis cantik, maka dulu orang menyebut Tamara Blezinsky, kini orang bisa menyebut Sandra Dewi atau Luna Maya. Kalau menyebut artis yang ngomongnya kebarat-baratan, maka dulu muncul Nadia Hutagalung, kini orang pasti menyebut Cinta Laura. Kalau menyebut nama perempuan yang bertubuh besar, maka nama yang muncul adalah Pretty Asmara, Tika Pangabean atau Oky Lukman.

Memang, di dunia entertainment, hanya mengakomodir orang-orang yang memiliki diferensiasi, keunikan, perbedaan. Diferensiasi itulah yang membuat eksistensinya tahan lama.

Sebenarnya, ide diferensiasi itu tidak hanya berlaku dalam dunia entertainment saja, akan tetapi dalam dunia pemasaran dan brand pun berlaku. Bahkan, merek-merek produk tertentu yang sangat unik, akhirnya menjadi merek generik.

Sebut saja Aqua, yang mewakili air mineral. Jika Anda membeli air mineral, dan menyebutkan Aqua, maka bisa saja Anda diberi air mineral merk lain, karena Aqua kini sudah menjadi merek generic dan mewakili produk air mineral.

Sebut saja odol, yang menjadi merek gerenik pasta gigi. Padahal, Odol adalah nama produk, yang kini bahkan sudah tidak ada di pasaran. Odol adalah nama merek pasta gigi. Kini, menjadi merek generic dan mewakili pasta gigi itu sendiri.

Itulah kekuatan diferensiasi, keunikan. Diferensiasi akan menghasilkan eksistensi.

Begitu juga rokok. Dulu orang berasumsi, rokok itu harus putih. Maka, ketika ada rokok hitam, seperti Djarum Black, maka jadilah rokok itu sebagai diferensiasi dan bisa eksis. Kuncinya karena berbeda.

Dulu orang berasumsi, rokok itu berukuran sedang atau besar. Kini, rokok banyak yang ramping, slim, seperti Djarum Slimz. Rokok tidak harus besar, gendut. Rokok bisa juga ramping alias slim. Diferensiasi inilah yang membuat rokok slim ini bisa eksis.

Jika tidak berebeda, maka tidak akan tahan lama. Jika tidak memiliki diferensiasi, maka kita akan mudah dilupakan orang. Bukan hanya dalam dunia entertainment, pemasaran dan brand produk, tapi mungkin juga dalam kehidupan yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *