Termehek-mehek menjadi genre baru dalam tayangan di televisi. Dulu, reality show hanya mengungkap realitas apa apadanya. Termehek-mehek tak pernah mengkalim sebagai reality show, tapi mengangkatnya menjadi FTV reality, seperti mengungkap realitas yang mengandung unsur drama. Realitas yang dramatis.

Saya ingat, usai mengikuti Pilkada di Sumsel, Mas Helmy Yahya kalah dengan selisih suara yang tidak terlalu besar. Berat badan berkurang 5 kg, tidur 2 jam sehari, konsentrasi terkuras, kulit makin hitam karena seringnya kampanya di lapangan terbuka.

Helmy Yahya memiliki kelebihan untuk memformulasi perasaannya dan perasaan orang lain, kemudian mengemasnya menjadi tayangan yang menarik untuk ditonton. Acara Asal di SCTV muncul setelah melihat lomba mirip Dolly Parton di sebuah televisi; Mimpi Kali Yee muncul setelah melihat acara mimpi seorang anak yang menderita kanker otak ingin bertemu dengan Bill Clinton.

Idenya muncul bisa dari mana saja. Entah setelah nonton, baca buku atau mendapatkan kritik dari orang lain. Acara Bedah Rumah muncul ketika ada yang mengkritik terhadap Uang Kaget yang menanyakan, “bagaimana kalau orang miskin itu ngga punya rumah bagus?”, itu contohnya.

Termehek-mehek muncul bukan sebagai konsep acara reality show pada awalnya. Termehek-mehek muncul dari definisnya dulu. Termehek-mehek itu mirip dengan nangis bombay, nangis yang sejadi-jadinya. Kata-kata itu muncul dari seorang kawan asal Sumatera. Awalnya belum terbayang jadi reality show; mungkin bisa kuis, talkshow, game show atau bentuk acara lainnya.

Maka, mobil Triwarsana pun dipasangi tulisan..”SAKSIKAN TERMEHEK-MEHEK…” padahal belum tahu akan jadi apa acaranya. Mobil itu wira-wiri sejalan dengan shooting program lain. Paling tidak, orang-orang penasaran, “Apa itu Termehek-mehek?”

Kemudian, setelah lebih dari 2 bulan, muncullah ide mencari soulmate, yang prosesnya memang termehek-mehek. Dengan eksekusi yang detail dan cerita yang dramatis, maka Termehek-mehek mewakili satu tingkatan baru dalam reality show, minimal untuk televisi Indonesia. Kadang pemirsa sampai bertanya, apa betul kejadiannya seperti itu? Kok bisa? Banyak pertanyaan yang menggantung itulah yang jadi rumus jitu suksesnya Termehek-mehek. Ending yang menggantung memang menjadi bagian khas dari Termehek-mehek.

Kini Termehek-mehek menjadi tayangan dengan tv rating dan sharing yang tinggi, bisa jadi karena mewakili fenomena masyarakat yang ada, atau bermain dengan pikiran dari pemirsa, yang banyak juga menikmati kisah orang lain yang sangat menyedihkan. TV memang kotak ajaib yang bisa menyihir pemirsanya.

(Tulisan ini terinspirasi setelah obrolan santai dengan Helmy Yahya di FX Cafe, Sudirman…)

One thought on “Dibalik Termehek-mehek

  1. dulu sering sih aku lihat termehekmehek tapi lama2 kok ceritanya jadi semakin mengkhayal aja ya ?? trus aktingnya keliatan banget kalo dibuatbuat.
    beneran apa skenario sih ???

  2. Mau beneran ataupun skenario, hal itu sah saja selama tujuannya adalah hiburan. Namun memang benar, termehek-mehek sekarang jadi agak membosankan dan terlihat tidak natural. Tidak seperti episode2 awal tayang.

    Smoga ada formula baru untuk meyiasatinya.

  3. Yah..mas babah juga jadi ikut ngegantung…
    Ngak tahu kalau cerita itu benar atau bukan..
    Btw ada acara apa mas ketemu Om Helmy?

  4. aku jadi ingin tau, gimana caranya daftar di acara termehek-mehek. karena aku ingin bertemu ibu kandung ku. karena dari aku bayi aku belom pernah melihat sosok ibu kandung ku. karena aku di buang nya dari kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *