Berdesakan di kereta, membuat saya ekstra keras menyelipkan badan diantara para penumpang lain yang berjubel. Di depan saya, ada seorang mas-mas, karena dia orang Jawa, tubuhnya lumayan gemuk dengan tas digendong depan. Dia diam tak bergerak. Sementara orang-orang di sekelilingnya banyak yang bertanya,
“Mas turun dimana?”
Mas-nya jawab, “Cawang”.

Mas tadi diam, mungkin dia pikir diam itu emas. Memang, kadang diam itu berarti emas, apalagi kalau yang diam itu orang Jawa; kalau orang Sunda, diam itu berarti Akang, kalau orang Padang, diam itu berarti Uda. Hehehehehe…

Saya juga ikutan nanya, dan dijawab sama.
“Bergerak aja Mas…!” saya bilang,
“Ngga bisa, susah….” kata mas-nya tadi, masih diam..
“Ngga ada yang susah disini, kalau bergerak, pasti bisa….” jawab saya lagi, jadi kaya sedang di kelas pelatihan motivasi saja.

Akhirnya, mas tadi bergerak juga, sehingga para penumpang itu seperti cendol yang bergerak-gerak. Saya dan beberapa orang yang akan turun di Pondok Cina, akhirnya bisa turun, walaupun harus dengan susah payah dan mendorong orang-orang yang memilih diam tak bergerak.

Diam memang seringkali berarti emas, tapi bergerak mungkin saja berarti berlian.

One thought on “Diam itu Emas, Kalau Orang Jawa….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *