Baban Sarbana

Social Business Coach

Debat Capres; Wong Cilik vs Wong Licik

Rasanya tak tahan untuk tak menulis tentang berita yang akhir-akhir ini makin mendominasi dunia kriminal. Tentang yang punya kuasa dengan yang dikuasai. Tentang konspirasi antara pihak yang punya uang, yang punya kuasa plus yang jadi korban, tentu saja yang tak punya uang dan tak punya kuasa.

Adalah seorang nenek yang satu rumah tahanan dengan Prita Mulyasari; buta huruf yang dituduh melakukan penipuan dengan menjual rumahnya yang rencananya akan ditukar dengan 2 rumah yang dia tak tahu lokasinya dimana. Nenek buta huruf itu dikunjungi oleh kakek-kakek dan nenek-nenek juga. Tak paham dengan peliknya masalah. Hanya bisa menangis. Bergantian, televisi menayangkan nenek yang nangis dikunjungi kerabat dan cucunya; dengan megahnya sebuah perumahan. Kontras! Wong Cilik yang rasa-rasanya di-licik-i.

Tak habis sampai disitu, ada lagi seorang anak yang penuh bakti kepada orang tuanya, dituduh mencuri. Dipaksa menceritakan alat bukti, mulai dari amplifier, speaker dan obeng yang sebenarnya sudah lama dimiliki, tapi dipaksakan menjadi alat bukti. Ibunya, sekali lagi hanya bisa menangis, di siaran langsung televisi. Hanya bisa menangis, karena tahu, anaknya adalah anak yang berbakti dan selalu mendahulukan kepentingan keluarganya yang lain; selalu membantu kedua orang tuanya yang memang tak punya.

Nenek buta huruf dan anak kecil miskin yang berbakti pada orang tua; keduanya wong cilik yang sedang diuji oleh Tuhan, menghadapi ke-licik-an orang-orang yang punya uang atau punya kuasa.

Apa gunanya Debat Capres semalam? Jika retorika tak bisa menolong kedua Wong Cilik dan jutaan yang lainnya. Debat Capres yang mengedepankan apa yang sudah dilakukan ketimbang apa yang akan dilakukan. Debar dari para Capres yang romantis, karena selalu mengungkit masa lalu. Debat para capres yang sudah ‘uzur’. Walaupun tak menarik, saya menyaksikan keduanya, yang pertama saya saksikan langsung di Trans TV; yang kedua hanya melalui layar kaca.

Wong Licik masih banyak berkeliaran; punya power yang digunakan untuk mendzalimi Wong Cilik.

Semoga saja, Debat Capres tak hanya menghasilkan wacana, tapi tindakan nyata yang segera. Tak mungkin nenek buta huruf dan anak kecil penuh bakti itu menunggu, hingga rakyat memilih siapa yang menjadi presidennya. Bukankah Wong Cilik itu yang selalu dijadikan komoditas dalam menarik hati rakyat untuk memilih?

One comment on “Debat Capres; Wong Cilik vs Wong Licik”

  1. iya..
    debat capres kadang garing dan berasa kayak pelajaran PPKN..

    opininya bagus..
    ikut situs opini politik kayak politikana.com ya, mas?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *