Cerita tentang temanku masa kini yang pernah saling kehilangan jejak di masa lalu….

Berpuluh tahun lalu, ketika aku mengawali kedewasaan, ada pilihan yang kuyakini sangat, membuatku menjadi dewasa yang sesungguhnya. Dewasa dalam pengertian mengetahui bahwa yang benar itu benar, yang salah itu salah.

Jika mengetahui adalah keterampilan orang pintar, maka memilih adalah keterampilan orang cerdas.

More...Kekayaaan orang cerdas adalah ketika memiliki banyak pilihan. Aku tahu, tiba saatnya aku harus memilih sekaligus menguji kekayaan hatiku.

Aku tahu akan ada penolakan. Aku tahu akan ada pertentangan.

Benar saja. Ketika keputusan itu kuambil, maka jilbabku dibarainya. Sakit.

Tapi, aku menduganya bara kasih sayang. Seperti Allah dalam makna basamallah-Nya. Bahwa Dia menyayangi seseorang bukan berarti harus memberikan segalanya. Seperti Allah memberikan kepintaran kepada orang Yahudi, malah digunakan untuk menentang-Nya. Itulah pemberian Allah yang jadi ujian. Ketika sesuatu ditarik oleh-Nya, bukan berarti Dia tidak sayang kepada hamba-Nya.

Aku berdugaan baik kepada Allah, bahwa, jarak yang tiba-tiba muncul adalah jeda untuk bisa saling melihat, menghargai, mengasihi, bukan lagi dengan hubungan antar manusia, hubungan yang direlasikan karena darah, akan tetapi hubungan antara dua makhluk Allah yang sedang belajar.

Terputus interaksi, terpotong hak, bukan berarti aku berhenti berdo’a. Aku terus berusaha dan berharap menjadi seseorang yang bertambah baik setiap waktu.

Aku yakin, ketika aku semakin mendekat kepada-Nya, sebenarnya, aku mendekat kepada setiap orang yang aku cintai dan mencintaiku. Aku tahu, cintaku kepada-Nya akan dipantulkan menjadi cintaku kepada siapa pun yang mencintaiku karena-Nya.

Waktu mengukur ke-istiqomahan seseorang. Waktu adalah juri bagi persistensi, kesungguhan dan loyalitas. Berjarak membuatku bisa meligat lebih jernih, baik dengan mata maupun dengan hati.

Kini jilbab yang dibarai di masa lalu, menjadi monumen kasih sayang yang mengujinya dengan waktu. Sungguh, kenikmatan kebersamaan itu muncul ketika pemahaman tentang makna basmallah, bahwa mengasihi dan menyayangi adalah bagian dari peran hidup setiap orang yang ingin saling menguatkan.

Aku tahu, cintaku kepada-Nya telah menumbuhkan cinta-nya kepadaku.

Stay strong….

One thought on “Cintaku kepada-Nya menumbuhkan cinta-nya kepadaku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *