An interview with Dewi Hughes (long long time ago)
Kata orang, cinta itu berasal dari mata turun ke hati. Ternyata ini tidak tepat, karena cinta itu dari mata tidak langsung turun ke hati, melainkan mampir ke otak dulu untuk diolah. Di otak ada yang namanya hormon feromon yang memberikan keputusan untuk merespon apa yang dilihat mata. Makanya, seekor burung akan memberikan kesan yang berbeda kepada setiap orang. Bagi orang yang sangat menyukai burung, tentu dia akan menghabiskan waktu yang lama untuk bercengkrama, tapi bagi penderita ichtyrophobia (kelainan karena takut dengan burung) pasti akan membuatnya lari.

Jadi tidak benar apabila, cinta itu dari mata turun ke hati; cinta itu dari mata, mampir ke otak, baru turun ke hati, kalau memang keputusan otak seperti itu.

Anda masih ingat kisah Romeo dan Juliet? Cerita tentang dua sejoli yang akhirnya meninggal dengan cara yang mengenaskan karena mempertahankan cinta yang abadi? Sekarang seandainya Anda menjadi Juliet dan diberikan pilihan yang sama, apakah Anda akan berani mengorbankan nyawa demi sebuah keyakinan bernama cinta? Kalau anda dikendalikan oleh gumpalan kekecewaan, ketiadaan harapan, pasti anda menjadi Juliet berikutnya; tetapi jika Anda mengambil jeda sebentar dan mengambil keputusan yang lebih jernih, mungkin Anda akan mengambil pilihan yang berbeda.

Saya pernah menonton film tentang Cinderella, ketika sang pangeran menyanyikan sebuah bait lagu yang bunyinya..”apakah aku mencintaimu karena kamu cantik; ataukah kamu menjadi cantik karena aku mencintaimu?” Pertanyaan bolak-balik ini menunjukkan bahwa untuk mengambil keputusan mencintai, memang ada kontribusi pikikran, tidak serta merta. Sang pangeran melihat, berpikir, dan bertanya ke hatinya yang terdalam, menemukan cintanya dan meyakini bahwa bukan karena kecantikan dia mencintai cinderella, tapi cintalah yang membuat Cinderella tampak sangat cantik.

Inilah yang memberdakan antara mencintai seseorang karena kecantikan fisik dengan mencintai sepenuh hati. Mencintai seseorang karena kecantikan fisik tidak akan bertahan lama, karena kecantikan fisik sifatnya sementara. Akan tetapi, mencintai seseorang sepenuh hati, akan membuat siapa pun yang kita cintai, apakah secara fisik dia cantik atau tidak, maka dia akan tetap istimewa di hati kita. Inilah cinta tanpa pamrih.

Saya ingat, dahulu, ketika masih SD, saya tidak pernah paksa oleh orang tua untuk mengejar standar ranking tertentu di sekolah. Ayah saya adalah orang yang mencintai anak apa adanya, bukan bagaimana seharusnya. Berapa pun pencapaian akademis yang diperoleh saya disekolah, selama ayah saya melihat usaha keras yang saya lakukan, maka nilainya menjadi tinggi di mata ayah saya. Saya melihat itu adalah wujud dari cinta yang tanpa pamrih dari seorang ayah kepada anaknya.

Karena ada orang tua yang mengatakan kepada anaknya: “wah, kalau juara 10 sih bukan anak papa dong…” memang status anak bisa berubah hanya gara-gara ranking sekolah?

Oleh karena itu, mengkombinasikan cinta dengan pamrih membuat kita melihat cinta sebagai sebuah posisi tawar. Saya melakukan A untuk mendapatkan B, ada syarat. “Saya mencintai kamu, karena saya suami kamu”. Ketika sudah tidak menjadi suaminya lagi, maka dalihnya adalah, “saya sudah tidak memiliki rasa cinta lagi, makanya kita berpisah…” padahal mungkin saja, dia tidak menemukan lagi apa yang dicarinya. Cinta sebagai posisi tawar membuat kita berpikir apa yang bisa saya dapatkan daripada apa yang bisa saya berikan.

Mencintai memang lebih sulit daripada dicintai. Mencintai berarti bertindak aktif untuk menunjukkan rasa cinta. Kalau dicintai, kita bermain dengan paradigma orang lain, kita berusah masuk ke dalam standar orang lain untuk dicintai. Dalam sebuah keluarga, seorang anak dicintai apabila, misalnya memiliki prestasi bagus, atau berperilaku baik. Kalau kita ingin dicintai sebagai anak, maka dengan gigih kita akan berusaha untuk dicintai oleh seluruh anggora keluarga dengan menjadi orang berprestasi dan berperilaku baik.

Memang ada dorongan dalam hati kita untuk dicintai, walaupun tidak semuanya berhasil. Kadang seseorang berbuat baik kepada orang lain dengan harapan agar orang memuji. Disinilah berperan niat dari hati yang terdalam. Cinta kadang tidak terdengar, karena apa yang terucap pun, walaupun berbunyi “aku cinta padamu” sebenarnya hanyalah sebatas ucapan.

Salah satu cinta abadi yang pernah saya rasakan dan tidak akan pernah terlupa adalah kecintaan seorang ibu kepada anaknya. Dari melahirkan, besar, dan sampai memperoleh pencapaian sekarang ini, rasa kecintaan ibu saya tidak pernah luntur. Walaupun tidak terlihat, , tidak terdengar, tidak teraba, ,tapi cinta ibu terasa sampai ke hati yang paling dalam. Cinta ibu berwujud kasih sayang.

Waktu saya kecil, untuk mendapatkan sesuatu dari orang tua harus dengan perjuangan. Misalnya, saya ingin dibelikan lego, sampai-sampai saya harus buat lego dari triplek terus saya sambung-sambung. Padahal uang ada, tapi ibuku ingin tahu perjuangannku untuk bisa dibelikan itu bagaiamana. Terus ibuku tanya “Ingin sekali punya lego ya? Nanti ibu belikan”. Begitu juga dengan ayahku, kalau saya ingin beli buku juga ada perjuangannya, saya harus menulis dalam bahasa Inggris permintaanku itu “Would you please to give me some money to buy a book?” Pokoknya kalau saya minta sesuatu ke ayahku harus begitu, memang manfaatnya besar sekali, saya jadi lancar dalam berbahasa Inggris.

Waktu kecil, mungkin kita tidak menyadari kenapa orang tua kadang mengajukan syarat, bersikap keras sementara di keluarga lain, banyak anak yang bias mendapatkan sesuatu dengan lebih mudah. Semakin dewasa, kita akan menyadari bahwa itu merupakan pemberian cinta dan kasih sayangg orang tua kepada kita. Bukan berarti mereka mau menyusahkan kita, tapi di balik itu ada perhatian dan tanggung jawab mereka untuk memberi bekal pada anaknya yang akan berguna kelak.

Itulah cinta, kadang kita tidak perlu mengucapkan bahwa kita mencintai seseorang, tapi dapat dicerminkan dari perhatian, kasih saying dan ketulusan dalam memberikannya.

Dalam posisi apa pun kita, sebagai mahluk Tuhan dianugerahkan rasa cinta. Tanpa itu, kita tidak akan pernah merasakan kedamaian saat berhubungan dengan orang lain. Masalahnya adalah kita sering menyertakan pamrih saat memberikan cinta itu kepada orang lain. Bisa jadi kita akan melihat dulu orang itu dekat atau tidak dengan kita, apakah keluarga kita atau bukan siapa-siapanya kita. Kita sering menemukan bahwa seseorang berbuat baik kepada orang lain berharap agar orang berbicara ini atau itu dengan memuji dia, misalnya “Eh, dia ternyata OK loh, banyak bantu ini dan itu.” Apa yang diharapkan seseorang dalam member cintanya kepada orang lain adalah cermin dari niat memberi cinta itu sendiri.

Rasa tulus letaknya di dalam hati. Semakin tulus seseorang, semakin tidak aka nada pamrih, seperti kedua orang tua kita. Sementara itu rasa cinta memang harus ditunjukkan kepada orang lain, Cuma niatnya dari dalam diri kita harus dengan penuh ketulusan, tanpa memandang posisi orang itu dan posisi kita juga.

Ketulusan cinta yang kita berikan akan direspon dengan baik oleh orang yang menerimanya.

One thought on “Cinta itu Kata Kerja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *