“Kenapa mukanya kok manyun gitu?” tanya saya ke teman kerja
“Biasa.. tadi nonton Brazil vs Ekuador…makanya telat masuk kantor…” jawab teman saya
“Lho.. apa hubungannya sama manyun?” saya bingung
“Iya.. pas mau berangkat, begitu pake celana, eh bagian ‘itu’-nya bolong..” kata teman saya, masih manyun
“Terus…?”
“Lha.. saya komplain dong sama isteri, masa udah seminggu, itu jahitan ngga kelar juga…” kata teman saya lagi
“Terus…?”
“Iya.. akhirnya, ya gitu deh.. berantem dikit, gara-gara celana bolong, telat pula….”
“Hehehehhehe.. tinggal ganti aja ama celana lain, gitu aja kok repot!” jawab saya…
“Iya.. tapi khan, dia harusnya beresin hal kecil kaya gituan, kalau ngga bisa, ya kasih aja kerjaannya ke pembantu…” teman saya tambah manyun, karena menduga saya belain isterinya…
“Yo wis… sekarang pake celana yang bolong ‘itu’-nya gak…”
Temen saya tambah manyun. Gak jawab, cuma melotot. Pergi ke pantri sambil bawa gelas. Jalannya pelan-pelan.

Saya jadi inget kejadian serupa, karena ada celana saya yang juga bolong tengahnya. Tapi, ketimbang ribut, ya mendingan ganti aja pake celana yang lain. Repot amat!

Tapi, memang tabiat manusia itu suka dikendalikan oleh sesuatu yang tak memuaskan hatinya, terlebih itu dikarenakan kesalah orang lain. Satu celana yang bolong tengahnya, tak sebanding dengan dampak dari komunikasi sepihak seperti itu.

Otak kita mudah dikendalikan oleh hal kecil yang dibesar-besarkan. Seperti ketika dalam suatu meeting, pesertanya fokus pada yang belum datang, daripada memulai meeting dengan orang yang sudah ada.

Otak itu bisa diarahkan kok. Itu pilihan

One thought on “Celana yang Bolong Tengahnya

  1. benar sekali mas. kadang kita tidak sadar dalam melakukannya. dan baru menyadari setelah beberapa saat/hari/waktu kemudian dan kita menyesal akhirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *