Baban Sarbana

Social Business Coach

Browsing Category:

Social Business

Dari Obyek Menjadi Subyek

Tak terasa, masuk tahun ke-6 rintisan akselerasi kemandirian YatimOnline. Sejak awal, saya dengan segenap kekuatan dan tentu saja memohon pertolongan Allah, berikhtiar terlibat dalam proses akselerasi kemandirian yatim dhuafa di lingkungan sekitar, Kampung Ciapus, Desa Tamansari Kab. Bogor.

Dimulai dari tahun Juni 2009 sebetulnya, ketika bekerja sama dengan GaSS (Gabungan Artis Seniman Sunda), mengadakan kegiatan Khitanan Massal sebanyak 66 anak yatim dhuafa, dan ternyata dihadiri oleh lebih dari 2000 warga, tujuannya utama untuk melihat puluhan artis ibukota yang dipimpin oleh Rina Gunawan dan Melly Goeslaw…

2010_YatimOnline2012_YatimOnline

Anak-anak yatimonline itu kami jadikan sebagai bagian tanggung jawab. Mencari donasi, membangun rumah singgah, hingga memastikan jaminan pendidikan mereka supaya tuntas.

Kegiatan terus berkembang, hingga beberapa dari mereka bisa menuntaskan pendidikan, bahkan ada yang berkesempatan menempuh kuliah D1 di Bogor, S1 di STKIP Cimahi dan Unsoed Purwokerto.

Kedua remaja yang tahun 2016 ini semoga lulus S1 dan kembali pulang kampung, membangun desa, adalah anak asuh dari Teh Rina Gunawan

13d 31044_1351284219551_1154741507_30857947_4901187_nPerlahan tapi pasti, anak-anak dan beberapa remaja yang tumbuh bersama, tidak lagi menjadi obyek santunan dari donasi yang kami cari, akan tetapi bertranformasi dari obyek menjadi subyek; naik kelas dengan menjadi pengelola yatimonline…

Ekonomi_YatimPreneur Ekonomi_Boneka2

Adalah gagasan Kampung Kuliner Gizi Seimbang (www.kampungzimba.com) sebagai proyek sekaligus inagurasi transformasi pemuda didikan yatimonline dari obyek menjadi subyek.. mereka tak lagi menunggu, tapi mendapat amanah dan tanggung jawab serta mengambil inisiatif untuk melakukan perubahan.

PetaZimba123

Semoga Allah memberikan kemudahan dan kekuatan.

Finding Business Soulmate

Tahukah Anda bahwa 3 kesalahan utama pebisnis adalah:

  1. Salah memilih partner
  2. Salah memilih bisnis
  3. Salah menilai diri sendiri

Tahukah Anda, bahwa setelah sukses bukan hanya peluang baik yang Anda dapatkan, akan tetapi berbagai macam orang—beberapa diantaranya predator bisnis—datang dengan membawa ide bisnis dan penawaran partnership yang menggiurkan, padahal bisa jadi beberapa diantaranya adalah business trap (jebakan bisnis).

Oleh karena itu, dengan 4 langkah jitu yang diuraikan dalam buku ini, yaitu

  1. Aktivasi Sistem Alarm: Check yourself, Check The Return, Check The Track
  2. Apakah Diamond Anda? Menggali potensi diri dan calon partner Anda, apakah Anda seorang Juragan, Bintang, Kreator atau Maestro.
  3. Mengeksekusi Rencana Bisnis: Eksekusi menentukan 90% kesuksesan. Bagaimana Anda menggunakan seluruh potensi perusahaan untuk mewujudkan ide menjadi keuntungan
  4. Belajar dari para maestro bisnis melalui kiat dan kisah yang sangat menggerakkan hati.

Dengan buku ini, Anda memahami rambu-rambu penting untuk menjadikan bisnis Anda tidak hanya menguntungkan, tapi yang paling penting, Anda bisa menikmati keuntungan bisnis tersebut, yang tidak memperkaya secara financial, tapi juga memperkaya kehidupan Anda pribadi.

 

PENULIS

Helmy Yahya, Akt. MPAkt. adalah fenomena dalam dunia entertainment Indonesia. Menjadi dua raja di dunia televisi; Raja Kuis dan Raja Reality Show dengan 16 penghargaan Panasonic Award dan 2 Penghargaan Asian Television Award atas lebih dari 120 program televisi kreasinya. Helmy Yahya merupakan sosok entertainer yang entrepreneur; tak hanya sebagai bintang yang tampil di layar kaca, tapi juga business owner beberapa usaha, mulai dari Rumah Produksi PT Triwarsana, Event Organizer, Properti, hingga bisnis lainnya. Suksesnya diraih dengan kerja keras dan penuh determinasi. Buku Business Soulmate ini adalah curahan hati dari perjalanan bisnisnya yang berliku, sehingga yang disampaikannya betul-betul empiris dan bisa dipraktikkan langsung di dunia nyata. Ini adalah buku ke-3 nya setelah Siapa Berani Menjadi Entrepreneur dan Wirausaha Bermodal Nol Rupiah.

Baban Sarbana, SE, MSi, social entrepreneur, telah menulis 9 buku, yaitu: AMPUH: Cerdas Tanpa Batas, Valuegraphy of Helmy Yahya, Serial Cerita Bernilai Lebah Cerdas, Tapak Tilas Barack Obama. Selain mendirikan Yayasan Berkah Yatim Mandiri dengan gerakan YatimOnline, (akselerasi kemandirian keluarga yatim dhuafa di Desa Tamansari), juga menekuni bisnis sebagai CEO PT. Sobat Indonesia Mulia yang bergerak di aplikasi digital untuk social business dan CEO PT. Andalah Agrobahari Makmur  yang bergerak di bidang Scale Up Business UMKM.

Tentang YatimOnline

Bababn-Sarbana-di-studio-stasiun-TV-swasta-dalam-sebuah-acara-talk-show-Copy-300x235

Lagi-lagi Baban Sarbana finalis I AM PRESIDENT yang memang terkenal aktif dalam beberapa bidang yang kembali berprestasi dalam wujud apresiasi banyak pihak terhadap dirinya.

Kisaran Febuari tahun 2010 ia mendirikan sebuah yayasan yang memberdayakan anak-anak Yatim yang bernama YatimOnline. Ia pun mecetuskan kepada mereka yang mendapat uluran tangan dari yayasan ini adalah bahwa “Yatim tidak miskin, yatim tidak minder”.

“Kami memiliki tiga program, yaitu Tangan di bawah, Tangan di samping, dan Tangan di atas” Meski terdengar sederhana, namun nyatanya ucapan ini mampu membangkitkan semangat dan kepercayaan diri mereka. Upaya-upaya sederhana namun berdampak besar ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari banyak kalangan.

Hal itu terbukti dari sorotan sebuah stasiun televisi swasta yang mengundangnya dalam sebuah acara talk show yang penasaran dengan kegiatan-kegiatan apa yang dipersembahkan oleh YatimOnline itu sendiri.

Dipandu langsung oleh presenter fenomenal tanah air Fenita Arie, Baban Sarbana berbagi cerita upayanya dalam memperjuangkan hak kelayakan hidup para anak-anak bangsa dihadapan hadirin yang hadir distudio dan pemirsa yang menyaksikannya dari layar kaca.

YatimOnline adalah sebuah uluran tangan yang tercetus karena adanya rasa ingin memajukan bangsa. Hal tersebut diungkapkan Baban Sarbana yang mengaku mendapatkan beasiswa hingga ketingkat S2 di Universitas Indonesia, merasa wajib untuk kembali ke kampung halamannya untuk memajukan anak-anak bangsa dilingkungannya yang tidak seberuntung dirinya dari aspek pendidikan.

“Meski mereka tidak dibesarkan dan tidak merasakan dinafkahi oleh seorang ayah, bukan berarti mereka tidak bisa mewujudkan cita-cita mereka. Saya bersama YatimOnline akan terus melakukan upaya-upaya untuk membantu putra putri Yatim di lingkungan saya, dan InsyaAllah kami dapat menjangkau lebih banyak lagi anak-anak yatim hingga seluruh Indonesia” ujarnya lantang dalam sesi wawancara.

“Kami memiliki tiga program, yaitu Tangan di bawah, Tangan di samping, dan Tangan di atas.

Program Tangan di bawah berarti program santunan, seperti pendidikan, beasiswa, dan sebagainya. Program tangan di samping adalah program dimana anak-anak yatim diberi pengobatan gratis, karena YatimOnline sendiri sudah memiliki dokter khusus yang bersedia untuk memberikan pengobatan gratis. Sedangkan program Tangan di atas adalah program yang mengusung pemberdayaan para ibu anak yatim dengan memberikan bantuan untuk mereka berwirausaha.” tambahnya.

Selain itu, YatimOnline juga memiliki sebuah program yang dinamakan Yatim Preneur. Yatim Preneur sendiri adalah program yang bertujuan untuk membantu anak-anak yatim dapat belajar untuk tidak bergantung pada orang lain dan mampu menemukan solusi untuk dirinya sendiri. Dengan kata lain,enterpreneurship yang dibangun sejak dini.

Menurut finalis yang lolos kebabak tujuh besar I AM PRESIDENT ini, sosok seorang ibu adalah merupakan Madrasah pertama bagi anak-anaknya. Maka iapun tergerak untuk mengangkat harkatnya dengan menjaga kestabilan finansial mereka. Salah satu contoh upaya itu sendiri adalah dengan memberikan bantuan pinjaman dana dalam program Tangan di atas.

“Saya berpendapat bahwa berapapun dana, dan seberapa seringpun kita membantu anak-anak yatim, hal itu tetap dapat terhitung. Bagi saya, yang tidak dapat terhitung adalah berkah yang berlipatlipat ganda dari Tuhan Yang Maha Esa apabila saya terus mengulurkan tangan untuk membantu sesama” ucap Baban saat ditanya mengenai persaannya saat dirinya dianggap mampu menjadi penyambung tangan Tuham untuk memberdayakan sesamanya. (FeBriana)

YatimOnline

Keluarga Besar
Keluarga Besar

 

 

 

 

 

 

Renovasi Rumah Anak Yatim, Renovasi Jiwa Wirausaha

Alhamdulillah, terima kasih dan bersyukur kepada Allah SWT, dalam waktu 5 hari, renovasi rumah tinggal anak yatim bisa terselesaikan.

Rumah yang dihuni oleh 5 orang, tanpa ayah, ibunya PRT, kini kembali ceria. Ibunya bertekad untuk berusaha kembali, wirausaha kecil-kecilan dengan berjualan karedok dan bakso. Anak laki-laki yang dewasa, punya minat untuk kerja di bengkel sendal (tadinya menganggur), yang paling kecil, punya kemauan untuk beternak bebek (sebelumnya putus sekolah dan kini sudah sekolah, tapi ingin berwirausaha).

Puji syukur, karena ternyata renovasi rumah itu tak hanya membangun rumahnya, tapi juga jiwa penghuninya, supaya bisa mandiri secara kolektif.

Jika saja, kita bisa memikirkan bagaimana bisa membuat satu keluarga secara kolektif berusaha, sekecil apa pun, bisa jadi akan muncul keluarga-keluarga yang mandiri dan berani menghadapi kemiskinan, dengan pertama sekali memposisikan dirinya bukan sebagai korban, tapi sebagai solusi; bukan sebagai obyek tapi sebagai subyek; sehingga keluarga itu memiliki kendali atas nasibnya sendiri.

Bukankah Allah menjanjikan sebuah perubahan jika dan hanya jika orangnya sendiri memiliki tekad kuat untuk berubah (Ar-Rad:11)?

Semoga saja, ikhtiar renovasi rumah tinggal anak yatim ini adalah salah satu cara untuk membangun jati diri anak yatim, agar mereka bisa berdaya dan mandiri; dan kelak, ketika sukses bisa peduli dengan saudara2nya.

Wallahu’alam.

 

Tukang Karedok dan Kemiskinan Akibat Ketidakadilan Sosial

Alhamdulillah, hari ini renovasi rumah tinggal anak yatim di Pondok Yatim Menulis, dapat terlaksana. Warga dan para tetangga di RT 04/05 bahu membahu saling membantu membangun rumah 7×3 meter tersebut.

Yang tinggal di rumah itu adalah seorang Ibu rumah tangga, pekerjaan awalnya tukang karedok, kini menjadi pembantu rumah tangga; karena modal habis untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Kakak tertuanya menganggur, padahal punya keahlian utak-atik motor. Adiknya yang 2 orang awalnya putus sekolah, kini menjadi bagian dari Pondok Yatim Menulis dan sudah bisa sekolah.

Almarhum ayahnya, kepala keluarga yatim ini, 5 tahun lalu diundang kepala desa yang akan mencalonkan diri kembali, dijanjikan untuk diberi bantuan renovasi rumah; dengan syarat memilih kepala desa tersebut di periode kedua kampanya pemilihan kepala desa.

Pemilihan sudah dilakukan, kepala desa kembali terpilih, mendapat suara dari penduduk miskin yang dijanjikan bantuan renovasi rumah; akan tetapi janji politikus kampung itu, hanya tinggal janji; tak pernah ada realisasi.

Hingga, 2 tahun kemudian, ayah dari anak yatim itu meninggal dunia, karena menderita penyakit lever. Dalam kondisi sakitnya itu, tak ada bantuan jamkesmas, karena satu wilayah itu hampir semua tak terperhatikan. Rencana renovasi dan pengobatan sakit tersebut menjadikan keluarganya makin terpuruk. Kompor gas berikut gasnya dijual untuk membiayai pengobatan. Hingga kini, keluarganya menggunakan hawu/tungku untuk memasak.

Pak RT kemudian mengajukan kembali permohonan bantuan renovasi rumah kepada Kepala Desa; tak ada respon, hanya difoto sana-sini oleh aparat desa, hingga akhirnya rumah makin rusak, makin hancur atapnya dan jika banjir sudah seperti kolam ikan saja. Miris.

Ketidakadilan pemimpin kampung ditambah ‘kepasrahan’ yang tidak pada tempatnya, menjadikan kondisi rumah anak yatim itu adalah simbol kemiskinan akibat ketidakadilan. Tidak hanya miskin secara ekonomi tapi sudah miskin secara struktural dan sistematis. Kemiskinan yang kemudian dijadikan aset politik oleh orang-orang yang mengejar jabatan.

Alhamdulillah, setelah berbincang dengan Ibu anak yatim, ada niat untuk kembali berjualan, berdagang karedok dan sayuran. Dengan modal ‘hanya’ Rp 500.000, insyaallah ibunya bisa berjualan kembali; dan tentu saja bisa lebih banyak memperhatikan anaknya.

Wirausaha memang bukan sekedar mencari keuntungan, tetapi memiliki fungsi untuk memecahan masalah kehidupan.

Semangat ibu penjual karedok itu yang ingin kembali berjualan, adalah bagian dari keinginan kuat untuk memberdayakan diri; semoga saja Tuhan membantu.

Soal Kepala Desa tadi? hmmmmm, malaikat lebih tahu buku catatan seperti apa yang dituliskannya dan akan menjadi saksi di akhirat kelak.

 

YatimOnline dan Tiang Listrik

Juni 2010 kami ke PLN Bogor untuk mengajukan permohonan pemasangan listrik Pondok Yatim Menulis. Diterima oleh petugas, tapi data kurang lengkap, diminta menyertakan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) yang dikeluarkan oleh Kantor Desa.

SKTM segera dimintakan ke kelurahan. Langsung diberikan. Besoknya kembali ke PLN, menyampaikan SKTM. Akan tetapim diberitahu lagi, masih kurang, harus ada syarat pembayaran rekening dari rumah terdekat, disertai dengan fotocopi KTP Kepala Keluarga.

Bersabar saja, kembali ke rumah dan meminta pembayaran rekening terakhir dan fotocopi KTP. Kebetulan sekali, rumah terdekat dihuni oleh anak yatim; dan ternyata ayahnya sudah almarhum, kami minta fotocopi KTP-nya. Tanpa diminta, anaknya cerita, ternyata ini fotocopi KTP terakhir, karena KTP aslinya masih ditahan di sebuah rumah sakit besar di Bogor, tak mampu bayar ongkos perawatan jenazah usai meninggal di rumah sakit tersebut. Duh…

Dengan syarat yang lengkap, kami kembali ke PLN. Optimis, listrik segera dipasang, karena sangat perlu sekali. Setelah semua syarat terpenuhi, pengajuan pemasangan dicatat petugas PLN. “Nanti disurvey katanya”. Itu Juni 2010.

Tunggu punya tunggu, ternyata survey tak kunjung datang, PLN tak kunjung memasang listrik. Sehingga, ketika ada acara yang membutuhkan listrik, kami ‘nyantel’ alias nyambung kabel ke tetangga. Pernah suatu kali, sampai harus membeli lampu darurat, karena ada tamu yang datangnya malam-malam.

Cerita selengkapnya ada di blog YatimOnline

Dapatkan cerita bernilai dari Pondok Yatim Menulis
dan Dukung YatimOnline menuju 2 besar Aksi KlikHati…

Klik TWEET/LIKE dan beri COMMENT

Link: www.klikhati.com/blog/yatim-online

Anak Yatim dan Keadilan Sosial bagi Sebagian Rakyat Indonesia

Pak Asep, Ketua RT di lokasi Pondok Yatim Menulis, bertemu dengan saya di depan rumah salah satu anak yatim. Rumahnya hampir rubuh. Atapnya rusak, langit-langitnya bobrok, dinding sampingnya sudah bolong-bolong sekepalan tangan. Tak ada kamar mandi. Selama ini, keluarga Bu Omah beserta 4 anaknya, BAB di selokan.

13285958571253412725Saya bertanya kepada Pak RT, apa yang bisa dilakukan? Apakah sudah dilaporkan kepada Pak Kepala Desa?

Continue reading

Anak Yatim Penjual Asongan

Sebut saja namanya Agus. Anak yatim, yang ditinggalkan ayahnya sejak usia 15 tahun. Tekadnya kuat untuk menempuh pendidikan. Karena yakin bahwa pendidikan adalah jalan keluarnya untuk masa depan yang lebih baik. Shalatnya rajin, karena yakin bahwa sholat adalah alat komunikasi onlinenya kepada Sang Maha Pemberi Rezeki.

Sejak SMA sudah berbisnis serabutan. Berbisnis, bukan bekerja. Agus terbiasa atau terpaksa menjual apa saja, selama halal, untuk melanjutkan kuliahnya dan membiayai ibu dan 2 orang adiknya.

SMA-nya tamat, dengan nilai cukup saja. Karena baginya nilai sekolah tidak setara dengan pengalamannya dalam mendapatkan pendidikan itu sendiri.

Kini ia melanjutkan kuliah, sambil menjual asongan, dari bis ke bis. Usai berjualan, ia melanjutkannya kuliah.

Agus anak yang cerdas, yang pendidikannya ditempa di ruang kuliah dan di jalanan.

Semoga saja setiap rezeki yang didapatkannya menjadi kekuatan berlipat untuk melanjutkan pendidikannya di kampus dan menunjukkan tanggung jawabnya sebagai ‘kepala keluarga’ bagi ibu dan kedua adiknya…