Baban Sarbana

Social Business Coach

Browsing Category:

Social Business

Para Guru Motivasi

Keduanya adalah guru-guru saya. Mas Jamil Azzaini dan Guz Reza Syarief. Mengajarkan banyak hal tentang bagaimana menjadi trainer yang baik dan menginspirasi.

Energi keduanya menjadi bagian dari perkembangan diri saya untuk menjadi trainer, fasilitator, penulis yang berbagi kisah dan inspirasi ke semua orang.

Terima kasih Mas Jamil Azzaini

Terima kasih Guz Reza Syarief

Karya Inovasi Mainan Edukasi

Beberapa karya inovasi yang dihasilkan, utamanya adalah mainan edukasi. Mulai dari Mainan Edukasi Gizi Seimbang, Kartu Edukasi KINARA (Kisah Nabi & Rasul) serta Puzzle Doclang 99 (Dongeng Anak Cemerlang Asmaul Husna).

Geopreneur: Wirausaha Sosial Berbasis Desa

Semudah 1,2,3,4,5:

  1. Dimulai dari CALLING (panggilan)
  2. Lestarikan Alam, Sejahterakan warga
  3. Define (Tujuan), Design (Rancang Strategi), Do it (Lakukan Tindakan)
  4. Kolaborasi Motor, Mitra, Mentor dan Maestro
  5. Sinergi Pemerintah, Komunitas, Media, Akademik. Dunia Bisnis

Putra Daerah Membangun

Membangun jejaring bersama dengan kawan-kawan seperjuangan, para social entrepreneur yang pulang kampung mengabdi untuk kemajuan daerah masing-masing.

Semuanya karena terpanggil (CALLING). Betul-betul dari hati terdalam untuk terlibat lebih banyak memajukan negeri melalui desa.

SDG’s in Action

Menjadi pembicara di SDG’s in Action terkait best practice Edukasi Gizi Seimbang di Desa Tamansari Kecamatan Tamansari Kab. Bogor

Berikut slide presentasinya:

Sociopreneur Camp: Bangun Jiwa Kontributif Generasi Muda Indonesia

SEMARANG – Perkembangan teknologi dan informasi memberikan sentuhan budaya baru di masyarakat, hingga tercipta pola pemberdayaan masyarakat ke arah proses akselerasi dengan cakupan ekspansi lebih luas. Namun, minimnya pengetahuan dalam bidang pemberdayaan masyarakat menyebabkan generasi muda kurang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dalam bidang pemberdayaan. Hal ini menjadi tantangan bagi Indonesia untuk membentuk pemuda berjiwa pemimpin berjiwa kontributif dan mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.

Menjawab tantangan tersebut dan sebagai salah satu solusi membantu Indonesia mewujudkan negara ideal, pada Jumat (03/08) hingga Selasa (07/08), Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa menghelat Sociopreneur Camp (SPC) 2018 yang diadakan di Semarang, Jawa Tengah.

SPC 2018 merupakan perhelatan tahunan yang mengundang beragam tokoh nasional guna membangkitkan keberanian para pemuda dalam menggapai mimpi mereka. Dihadiri 144 mahasiswa Penerima Manfaat (PM) Beastudi Etos dari 17 Perguruan Tingi Negeri (PTN) di seluruh Indonesia, SPC 2018 digadang-gadang menjadi ajang yang tepat untuk menumbuhkan semangat sociopreneur dikalangan para pemuda.

SPC tahun ini mengusung tema ‘The Future Sociopreneur Leaders’ dan mengedepankan beragam kegiatan mumpuni seperti Inspiring Leadership Talk dengan tema “Model Kepemimpinan di Era Milenial”. Sesi ini akan menghadirkan Zulkifli Hassan (ketua MPR RI), Bambang Widjojanto (Wakil ketua KPK 2011-2015 dan pendiri Indonesia Corruption Watch), Bambang Suherman (Direktur Mobilisasi ZIS Dompet Dhuafa) dan Sudirman Said (Menteri ESDM 2014-2016).

Talkshow Gerakan Pemberdayaan di Era Milineal dengan pembicara Fahd Pahdepie (penulis), Wahyu Aji (CEO Good News From Indonesia) dan Hakam el Farizi (CEO bawaberkah.org)Training dan Workshop Inovasi Pemberdayaan oleh Baban Sarbana (CEO & Founder Yatim Online) , Training Karir dan Camp Merencanakan Karir Menghadapi Era Globalisasi oleh Fatchuri Rasidin (GM Human Capital Dompet Dhuafa), Gala Dinner bersama wakil Walikota Salatiga dan Team Building bersama YONIF Banteng Raider Semarang.

“Terdapat tiga tujuan utama yang kami harapkan dengan pelaksanaan SPC tahun ini. yakni Membangun pemahaman dan wawasan generasi muda mengenai optimalisasi pemberdayaan diri melalui kemajuan teknologi dan informasi, mempersiapkan pemimpin masa depan yang berjiwa kontributif , dan membangun serta menguatkan jaringan strategis kepemimpinan sosial”. Ujar Fherdes Setiawan, Manajer Beastudi Etos Dompet Dhuafa Pendidikan.

Selama enam hari para peserta SPC tak hanya akan mendapatkan materi yang dapat menambah pengetahuan mereka tentang sociopreneur. Rangkaian acara SPC juga menjadi ajang membangun dan mempererat jaringan bagi para peserta yang berasal dari berbagai PTN di Indonesia.

“Diharapkan setelah mengikuti SPC 2018 para peserta mampu mengaktualisasikan serta mengimplememntasikan ilmu yang didapat di kehidupan sehari-hari sehingga mampu membangun negeri ini.” Tutup Fherdes. (AR)

Trubus Kusala Swadaya

Penganugerahan Trubus Kusala Swadaya dari Yayasan Bina Swadaya kepada pelaku kewirausahaan sosial muda pada Kamis, 5 November 2015.

Orang-orang muda berikut ini punya sejumlah kesamaan. Mereka tangguh menghadapi cibiran dan cemoohan. Mereka juga teguh menggapai cita-cita dan asa yang menggelora di hati. Mereka mampu melihat peluang di tengah ancaman. Semua aktivitas mereka digerakkan karena kepedulian kepada sesama. Guru Besar Fakultas Ekonomi Univeritas Indonesia dan praktikus wirausaha, Prof Rhenald Kasali, menyebut mereka kebalikan dari generasi wacana yang sekarang ini mewabah. Generasi wacana yakni mereka yang hanya bisa beropini tanpa melakukan tindakan nyata untuk mengubah keadaan.

Para generasi nyata itu adalah Baban Sarbana, pendiri Yatim Online, yang memanfaatkan teknologi internet untuk menggalang bantuan bagi anak yatim melanjutkan sekolah; Heny Sri Sundani menginisiasi Gerakan Anak Tani Cerdas berupa pendidikan anak-anak dengan berbagai kegiatan edukatif; Lasmi pendiri kelompok jamu gendong beranggotakan 1.500 orang; Linus Liarian yang menghijaukan lahan kritis di Nusa Tenggara Timur; Nissa Wargadipura dan Ibang Lukmanurdin, pendiri pondok pesantren ekologi At Thaariq; Regina Sari Febianti membuat aneka produk daur ulang limbah jelantah; Yohanes Ferry dan Audrie Sukoco memproduksi bulu mata palsu di Purbalingga yang melibatkan ribuan tenaga kerja dan mitra sehingga tidak ada lagi anak muda yang migrasi ke kota; Yoseph Budi Santoso, pendiri taman bacaan rakyat yang menyediakan buku-buku bermutu.

Selain itu ada juga kelompok perempuan Muara Tanjung menghidupkan dan mengelola hutan mangrove; kelompok Sapu Upcycle mengolah limbah ban bekas menjadi aneka produk kreatif; kelompok Tunas Muda, inovator budidaya tanaman di lahan marginal di NTT; dan Yayasan Merah Putih yang memberdayakan pendidikan bagi warga suku Taa Wana di Morowali, Sulawesi Tengah.

Penganugerahan Trubus Kusala Swadaya dari Yayasan Bina Swadaya kepada pelaku kewirausahaan sosial muda pada Kamis, 5 November 2015.

Kiprah mereka membuat panitia sepakat menjadikan mereka sebagai nomine peraih Trubus Kusala Swadaya 2015, penghargaan bagi wirausahawan muda yang melakukan upaya peningkatan keberdayaan masyarakat, melalui aktivitas di bidang pertanian, lingkungan, pendidikan, energi terbarukan, dan sosial-ekonomi dengan pendekatan kewirausahaan sosial. Trubus Kusala Swadaya diselenggarakan oleh Yayasan Bina Swadaya, lembaga kewirausahaan sosial yang membawahi Grup Trubus.

Pembaca terhormat, kisah para heroik nomine itu kami sajikan sebagai Laporan Khusus pada edisi Desember 2015, bertepatan dengan Majalah Trubus berulang tahun ke-46. Tulisan itu mendampingi topik utama kami: teknologi hidroponik dari 4 negara. Kami berharap sajian kali ini kian menginspirasi Anda, pembaca tercinta Majalah Trubus. ***

Salam,

Evy Syariefa