Baban Sarbana

Social Business Coach

Browsing Category:

Cerita Hidup

Nyewain Sarung Jum’atan

Mungkin ada yang kenal dengan Kang Elang Gumilang? Developer Rumah Sederhana Elang Group asal Bogor yang sudah membangun lebih dari 10.000 rumah? Pemenang berbagai penghargaan Wirausaha dan Nominator termuda di dunia untuk Ernst & Young Entreprenuership Award? Tahu gak, kalau karir bisnis pertamanya saat SMP, sebagai Rohis, adalah menyewakan sarung sebelum jum’atan? saat itu siswa SMP masih mengenakan celana pendek biru. #teROHIS.

Tawuran STM vs DKM

Suatu hari, saya jalan depan jl. kantor batu, deket SMAN 1 Bogor. Saat itu bersama dengan teman-teman rohis, sepulang pengajian. Tiba-tiba ada anak-anak STM yang keliatannya lumayan limbung jalannya (entah mabok, entah lapar)….
Mereka nyegat.. nanya dengan ekspresi diteler-telerin… pertanyaannya standar: “anak mane lu?”…
saya yang jawab, maju dengan pede-nya, padahal badan paling kecil.. “kita anak DKM… emang kenapa?”
anak STM itu nanya lagi: “emang DKM itu SMA mana?
saya jawab: “bukan sekolahan, DKM itu Dewan Keluarga Musholla SMAN 1 Bogor”…
oh gitu…
anak STM-nya langsung melipir. Gak jadi ngajak berantem atau malak…bukan takut berantemnya, mungkin lebih takut didoain….
colek Novi Hardian Eko Hardjanto…. saat itu saya barengan mereka… hehehe

Lima Belas

“Pertanyaan terakhir… Man Kaana.?”… belum beres pertanyaan, saya pencet bel sekeras-kerasnya dan temen saya yg jadi juru bicara Tim Cepat Tepat Agama Islam SMANSA Bogor menjawab kalem: “15”…
Semuanya tegang.. karena kalau jawaban kami benar, kami jadi juara satu, kalau jawaban kami salah, kami jadi juara 3. Lawan saat itu adalah MAN 2 dan SMA 5.
Juri melanjutkan pertanyaan: “man kaana dalam bacaan Alqur’an dibaca menjadi mang kaana; dalam ilmu tajwid dikenal dengan hukum ikhfa dalam membaca. Pertanyaannya.. Berapakah jumlah huruf ikhfa?”…
Dan.. juri langsung menyebut…

“Jawaban 15 adalah betuuuul. 100 utk Regu B, Rohis SMA 1 Bogor..”…

Ya pertanyaannya memang tentang jumlah huruf ikhfa dan jawabannya memang 15. Entah darimana ilham yg turun ke juru bicara kami ini. Hehehe… akhirnya mengantarkan Rohis Smansa Bogor mempertahankan gelar kembali.

Itulah sepenggal cerita #anakrohis saat adu cepat tepat agama Islam se-Kota Bogor. Saat itu saya yg memang nekat, kerjaannya memang tukang mijit bel; yg jawab biasanya alumni pesantren diantara kami.. Miftahudin Badru dan Eko Hardjanto yg dikirim sebagai perwakilan Kota Bogor ke Tngkat Jawa Barat.

#teROHIS.

Kalau Marah, Jangan Langsung Pulang

Forsipram (Forum Silaturahmi Pelajar Muslim) se Bogor adalah organisasi Rohis antar SMA/sederajat se Kota Bogor. Saya diamanahi menjadi Ketua I. Ketua Umumnya Kang AM. Ketika itu pertemuan Forsipram (Forum Silaturahmi Pelajar Muslim) di SMAKBO. Karena mengikuti aturan, maka pertemuan dibatasi dengan hijab. Mulailah AM memimpin rapat. Saya yang ada di barisan ikhwan ikut juga. Di seberang, tertutup hijab warna hijau gelap adalah akhwat dari beberapa SMA di Kota Bogor.
Pertemuan dimulai. Diskusi berlangsung lancar. Di beberapa saat ada pembahasan yang lumayan berat.
Hingga akhirnya… kondisi hening. Hening sekali.
Kami para ikhwan juga tidak tahu, dan menduga para akhwat sudah meninggalkan masjid. Setelah berbisik pelan, akhirnya, kami, para ikhwan pun meninggalkan mesjid. Rapat bubar walaupun tidak ditutup seperti semestinya.

Beberapa hari kemudian, ketika ketemu di sekolah, salah satu akhwat yang mengikuti rapat di SMAKBO tersebut ketemu dengan saya, dan menyampaikan pesan.

“Akhi, mohon maaf nih dari para akhwat… saat rapat kemarin, kalau memang ada yang kurang pas, terus marah… mohon jangan ninggalin rapat begitu saja, kita juga jadi tidak enak. Kita nungguin lumayan lama”

Hah….

Jadi, yang ninggalin rapat itu rupanya ikhwan duluan, karena menyangka akhwatnya sudah meninggalkan rapat. Karena ikhwannya sudah meninggalkan mesjid, akhwatnya pun menyusul keluar mesjid. Jedanya cukup lama. Efek dari keheningan waktu itu. Efek dari hijab hijau gelap itu. Efek dari materi diskusi yang berat dan menguras hati. Padahal akhwatnya, masih di dalam Mesjid, walaupun tidak ada respon. Menunggu, mungkin sedang membahas internal.

Hehehe..
Karena saking gak keliatannya, terjadilah miskomunikasi.
#teROHIS

Dari Panah-panahan Jadi Buku

Ada yang pernah baca buku Super Mentoring, sebagai panduan mengisi kegiatan Mentoring Agama Islam di SMA? Begini ceritanya… konten dari buku tersebut mulai dikumpulkan tahun 1991, ketika Mentoring Agama Islam mulai diadakan di SMAN 1 Bogor. Saya saat itu kelas II, bersama Novi HardianEko Hardjanto dan Ahmad Safari (tim Rohis DKM SMANSA Bogor) mulai menyusun buku tersebut, berbekal materi panah-panahan yang disampaikan oleh Mr. H (amniyah nih… hehehehe) serta tambahan dari buku Bimbingan Karir dari Bimbel Nurul Fikri. Karena waktu itu, kami baru pertama kali mengenal materi panah-panahan tersebut, jadilah butuh usaha lebih keras untuk memahami buku tersebut. Beruntunglah, hal ini terbantu karena teman-teman akhwat DKM SMANSA asal Depok, Santi Widhia and the gank, lebih dulu mendapatkan materi dan paham terkait materi-materi mentoring tersebut.
Di Bogor saat itu belum menjamur banyak rental komputer, apalagi digital printing. Printernya masih pake printer gulungan yang brisik (epson), dan Om Bill Gates belum menemukan windows explorer, jadi masih pake wordstar.
Beruntunglah ada yang bisa ngetik pake WS 6, dengan hafalan .pm, .lh, dst… akhirnya tersusunlah materi mentoring berukuran 1/4 quarto. Dan saya beserta Ahmad Safari (yang di rumahnya ada komputer, sehingga saya sering menginap dan jadi basecamp kita di luar sekolah), bolak balik ke rental komputer di Jl Empang (samping mesjid Empang), yang sekarang jadi toko alat pancing ikan. Lumayan jauh juga.

Berikutnya; kalau jaman sekarang, tinggal digital printing dan minta potong ukuran tertentu. Jaman baheula, ya harus nyusun sendiri, mikirin letak halaman, ukuran yang sama, dan demi penghematan, 1 quarto isinya 4 halaman; kemudian digunting manual dan distreples. Beneran dipas-pasin supaya tepat urutannya dan pas digunting juga ngepas bentuknya.

Jadilah buku kecil materi mentoring dengan huruf roman 10 dan jadi buku panduan bagi saya dan mentor-mentor lain untuk menyampaikan 24 materi mentoring untuk satu semester.
Efeknya, saya yang katagori paling dhuafa soal ilmu mentoring, jadi sekalian belajar, sambil ngetik. Lumayan. Dan gaya menulis dari buku ini pula yang mempengaruhi gaya menulis saya di kemudian hari.

Beberapa tahun kemudian, kompilasi materi tersebut dibukukan oleh tim Syahrul Komara dan diterbitkan sehingga bisa menjangkau banyak sekolah di Indonesia, bahkan menjadi bahan penelitian dari seorang mahasiswa S2 dari Jepang.. Yo Nonaka yang konsern dengan pergerakan jilbab di Indonesia (arigato gozaimaska) dan mewawancarai kami.

Buku Mentoring sudah berkembang menjadi buku Game, Panduan Manajemen, sampai ke Mentoring SMP yang dikomandoi oleh Edi Wahid.

Panah-panah materi itu rupanya menjadi panah-panah cinta kepada Sang Pencipta dan Kekasih Sang Pencipta….Semoga jadi ilmu yang bermanfaat.

#Mentoring #teROHIS.
Catatan indahnya:
Penulis materi panah-panahan itu kini menjadi salah satu Gubernur terbaik di Indonesia. Dr. Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat)..

Btw.. ada yang inget gak materinya tentang apa aja?
Colek Kang Muhammad Ruswandi yang ngurusin perbukuan Mentoring…. masih adakah stoknya? Kangen baca lagi nih… dan mau saya pake untuk bahan kurikulum di YatimOnline…

“Kok Pulang?”

Saat aktif di Rohis dulu, saya sering pulang malam. Rumah saya berjarak 15 KM dari SMANSA, di Kampung Ciapus Tamansari. Awal-awal pulang, masih jam 21.00. Saya ditegor Emak: “kok pulangnya malam…?’ lama-lama Emak terbiasa. Makin padat kegiatan, jadwal pulang saya makin malam, menjelang dini hari..
Emak tetap nunggu di teras rumah..
Pertanyaannya berubah.. bukan lagi “kok pulangnya malam-malam?” tapi
“Kok pulang…?”

“nggak nginep di rumah temennya aja?”

Hehehe…
mungkin Emak lelah nungguin saya pulang atau khawatir saya nya kecapean…

Dan itu kemungkinan dialami Ibu-ibunya teman saya yang lain..

#teROHIS

Ikan Mas Dua Kali Mati

Anak Rohis itu kreatif.. uang jajan minim bukan halangan makan enak dan bergizi. buktinya.. sehabis praktek lab numpang ke SMAN 2 Bogor di Jl Veteran (karena SMaNSA belum punya lab), kalau objectnya ikan mas.. setelah dibedah dan dipelajari anatomi tubuhnya; dan mati; maka ikan mas tsb gak dibuang, tapi dikantongi plastik, dibawa ke sekolah; begitu lewat warteg, numpang minta digorengin, dan beli nasi seadanya. Ikan masnya dua kali mati sebelum dimakan. Tapi, hemat khan…. Anak rohis itu kreatif alias kere tapi aktif.. #teROHIS.

Meninggalkan Kemapanan Kota untuk Membangun Desa

Merantau ke kota besar seperti Jakarta dan mendapatkan pekerjaan yang mapan membuat sebagian orang tentu enggan kembali ke kampung halaman. Baban Sarbana, putra asli Desa Tamansari, Ciapus, Kabupaten Bogor ini, berhasil membangun karier yang mapan di ibukota. Tetapi ketika ia kembali untuk berlibur, ia melihat desa tempat kelahirannya itu masih tetap terbelakang dan miskin. Ia lalu berpikir untuk mengubah wajah muram saudara-saudaranya di Tamansari. Apa dan bagaimana sepak terjangnya? SWA Online berkesempatan mewawancarainya saat mengikuti acara Bina Desa yang diadakan PPM Management School, di Desa Tamansari tersebut.

 

 

 

Awalnya bagaimana Anda membangun Yatim Online ini ?

 

Jadi saya ini putra asli dari kampung Desa Tamansari. Masih keturunan dari sesepuh yang membangun kampung ini dari awal. Alhamdulillah, berkat usaha orang tua saya dapat kesempatan kuliah, S1 Ilmu Komputer di Institut Pertanian Bogor (IPB) 1992 – 1997, kemudian saya mendapat beasiswa dari Kementerian Pemuda dan Olah Raga sehingga saya bisa melanjutkan ke pascasarjana, di Magister Ekonomi, Universitas Indonesia.

 

Saya sempat bekerja di sebuah rumah produksi, Triwarsana, saya ikut beberapa program produksinya sebagai Creative Producer seperti Kuis Siapa Berani, Uang Kaget, Penghuni Terakhir, beberapa reality show. Saya bergabung di sana selama 7 tahun. Saya kemudian pindah bekerja sebagai asisten salah satu komisaris di Bakrie Group, tugas saya membuat naskah pidato komisaris.

 

Kemudian tahun 2010 saya pulang kampung, saya melihat kampung saya kok masih begini saja, masih miskin. Menurut saya kemiskinan itu bisa menular ke mana-mana. Jadi tekad saya adalah minimal membangun semangat masyarakat di kampung ini untuk keluar dari kemiskinan, semangat mau berubah lebih baik.

 

 

 

Persisnya seperti apa gambaran kemiskinan di Desa Tamansari saat itu ?

 

Umumnya mereka bekerja sebagai buruh tani atau ke kota jadi buruh kasar. Selain itu para orang tua tidk ada yang memotivasi anak-anaknya agar tidak lagi mengikuti jejak orang tua. Anak-anak tidak dimotvasi agar mau sekolah, berjuang supaya bisa terus sekolah, tidak ada motivasi seperti itu. Ketika anak-anaknya memutuskan berhenti sekolah dan bekerja, orang tua seperti pasrah saja, sudah nasib. Ini yang membuat saya berpikir, anak-anak itu punya potensi dan bakat. Saya yakin mereka bisa dapat masa depan lebih baik kalau didorong.

 

Lalu apa yang pertama kali Anda lakukan untuk memulai gerakan perubahan itu ?

 

Awalnya di tahun 2010 itu saya coba dengan crowdfunding, saya kumpulkan dana untuk santunan anak yatim lewat Facebook, ternyata santunan tidak menyelesaikan masalah, karena santunan banyak yang dipakai untuk konsumtif, jadi ternyata tidak berkesinambungan. Sekali dikasih, habis terpakai, tidak produktif. Akhirnya saya ubah ke pendanaan mikro (microfinance). Modal ini awalnya saya ambil dari kantong sendiri, tetapi kemudian saya publikasikan lewat fFcebook dan beberapa organisasi yang saya ikut, kemudian ada juga kenalanan dan teman-teman yang mau ikut sebagai angel investor.

 

 

 

Masyarakat yang ikut dalam program microfinance itu berapa banyak ?

 

Awalnya ada 20 orang ikut, semuanya ibu-ibu, umumnya single parent dengan pendidikan rata-rata lulusan SD dan SMP. Mereka masing-masing dapat pinjaman modal Rp 500 ribu, nah, itu cicilannya kami sebut Cilawi (cicilan awi) karena dia menabung cicilan dalam celengan bambu, nanti setiap seminggu sekali dia setor, jadi di akhir minggu dia menyetor Rp 25 ribu. Selama 25 minggu. Nah, modal yang sudah kembali itu kami pinjamkan lagi ke anggota baru. Sekarang mereka yang sudah jalan, menambah lagi modal, dengan pinjaman rata-rata Rp 1 – 2 juta per orang.

 

Nah, anak-anak dari para ibu itu juga ketika sudah selesai SMU, mereka mau bekerja, saya kemudian ajak untuk bangun usaha, kami sama-sama bangun CV Sukses Berkah Mandiri. Selain itu ada juga kami ikutkan kursus Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak (PGTK) untuk dapat sertifikat jadi guru PAUD/TK, mereka kemudian mengajar di PAUD An Nahlya yang kami bangun.

 

 

 

Apa lagi kegiatan yang dibangun Yatim Online ?

 

Kami juga mengajak anak-anak yatim yang tergabung dalam yatim Online ini membuat produk-produk kreatif yang bisa di jual. Misalnya membuat mainan puzzle, lalu dijual ke perusahaan – perusahaan, hasilnya bisa terkumpul dana lebih dari Rp 20 juta ditambah juga dana dari donatur, hasilnya mereka bisa bangun bangunan PAUD. Kemudian kami juga mengajak mereka membuat tanaman hias hidrogel, hasilnya mereka bisa meraup untung lebiha dari Rp 25 juta dan dananya digunakan untuk bangun kumbung jamur untuk budidaya jamur tiram. Jadi uangnya terus berproduksi.

 

Ke depan, rencana dan target yang akan dilakukan untuk Yatim Online ini ?

 

Kami akan bangun koperasi yang kelak akan jadi cikal bakal operator kampung wisata Zimba (Gizi Seimbang). Jadi Zimba itu adalah sebuah konsep wisata edukasi dan budaya. Di dalamnya pengunjung belajar mengenai bahan pangan dan kandungan gizinya. Serta bagaimana mengolahnya agar jadi makanan yang enak dan bergizi seimbang. Jadi nanti wisatawan, targetnya anak usia 5 – 12 tahun, mereka belajar mengenai bahan pangan, misalnya memanen sayuran atau ikan di kolam. Lalu sayuran dan ikannya mereka oleh sendiri, hasil olahannya bisa dijadikan oleh-olehnya.

 

Nah, untuk itu kan perlu wahana, seperti di pusat permainan anak-anak yang ada di mal – mal besar. Jadi setiap wahana jadi tempat anak bermain dan belajar membuat sesuatu atau berperan jadi siapa. Nanti di kampung ini, ada 15 rumah yang akan dipakai jadi wahana. Rumah-rumah itu adalah rumah para ibu yang tergabung dalam kelompok microfinance itu tadi. Jadi nanti rumahnya jadi wahana buat anak-anak belajar membuat kripik jamur, itu namanya rumah jamur. Lalu ada rumah cincau, rumah pohpohan, dan lainnya.

 

Jadi nanti kami mau bangun di depan kampung kami ini, sebuah gerbang selamat datang di kampung Zimba, wisata edukasi gizi seimbang. Pengunjung akan beli tiket terusan dan diberi gelang tanda masuk serta sebuah peta berisi jalur ke masing-masing wahana. Nanti disetiap wahana ada games dan petualangannya. Kira-kira seperti itu gambarannya kampung Zimba nantinya.

 

Apa tujuan Anda membangun kampung Wisata Zimba ?

 

Saya ingin mereka jadi tuan di rumahnya sendiri. Sebab begini, di sekitar kampung kami ini banyak berkembang obyek-obyek wisata besar tetapi pengelolanya itu orang dari kota, nah, penduduk disini kalau dilibatkan ya hanya sebatas jadi petugas parkir atau petugas kebersihan. Dengan konsep kampung Zimba ini saya mau mereka jadi “tuan” pengusaha dari aset yang sudah ada.

 

Ada obyek wisata apa saja di sini ?

 

Di sini ada beberapa air terjun, ada Curug Luhur, Curug Cigamea, Curug Nangka, Curug Seribu, sekitar ada 40an air terjun di daerah sini. Kemudian kalau terus ke atas ada Kawah Ratu. Jadi konsep kampung gizi seimbang ini sebenarnya konsep mengembangkan dari yang sudah ada. Jadi sebelumnya kan ibu-ibu di kampung ini sudah memproduksi makanan ringan dan lainnya tetapi maish jalan sendiri, tanpa supervisi. Produknya pun tanpa merek dan kemasan yang baik, lalu mereka juga berusaha memasarkan sendiri. Jadi dari kampung wisata gizi seimbang itu kami sasar targetnya adalah para wisatawan alias orang-orang kota yang berwisata ke sekitar kaki Gunung Salak ini, khususnya di Desa Tamansari ini. Karena desa Tamansari ini oleh pemerintah Kabupaten Bogor ditetapkan sebagai desa wisata.

 

Lalu nanti bagaimana caranya memasarkan paket wisata Kampung Zimba itu ?

 

Saya niatnya akan dipasarkan lewat media sosial, lalu akan ada aplikasi game online Kampung Zimba juga. Kami juga nantinya akan buka showroom mini di Kebun Raya Bogor. Jadi dari show room itu calon pengunjung bisa bereksperimen jika bermain di Kampung Zimba, dari situ jika tertarik mereka bisa memesan paket untuk datang ke Kampung Zimba. (EVA)

 

Sumber: http://swa.co.id/profile/baban-sarbana-tingggalkan-kemapanan-kota-demi-bangun-kampung-halaman

Happy Jump Over Seattle

Seattle adalah kota yang dikenal sebagai Rain City dan Brain City, karena sering diguyur hujan, mengingatkan saya dengan Kota Bogor. Seattle juga Brain City, karena disini berdiri Microsoft-nya Bill Gates dan pabrik pesawat Boeing yang terkenal itu. Menjelajah Seattle berarti mengingat kembali bagaimana kakeknya Obama merintis usaha sebagai penjual furniture, dan ibunya Obama, Ann Dunham menjadi aktivis sosial di Mercer Island. Menarik!