Baban Sarbana

Social Business Coach

Browsing Category:

teROHIS

“Kok Pulang?”

Saat aktif di Rohis dulu, saya sering pulang malam. Rumah saya berjarak 15 KM dari SMANSA, di Kampung Ciapus Tamansari. Awal-awal pulang, masih jam 21.00. Saya ditegor Emak: “kok pulangnya malam…?’ lama-lama Emak terbiasa. Makin padat kegiatan, jadwal pulang saya makin malam, menjelang dini hari..
Emak tetap nunggu di teras rumah..
Pertanyaannya berubah.. bukan lagi “kok pulangnya malam-malam?” tapi
“Kok pulang…?”

“nggak nginep di rumah temennya aja?”

Hehehe…
mungkin Emak lelah nungguin saya pulang atau khawatir saya nya kecapean…

Dan itu kemungkinan dialami Ibu-ibunya teman saya yang lain..

#teROHIS

Ikan Mas Dua Kali Mati

Anak Rohis itu kreatif.. uang jajan minim bukan halangan makan enak dan bergizi. buktinya.. sehabis praktek lab numpang ke SMAN 2 Bogor di Jl Veteran (karena SMaNSA belum punya lab), kalau objectnya ikan mas.. setelah dibedah dan dipelajari anatomi tubuhnya; dan mati; maka ikan mas tsb gak dibuang, tapi dikantongi plastik, dibawa ke sekolah; begitu lewat warteg, numpang minta digorengin, dan beli nasi seadanya. Ikan masnya dua kali mati sebelum dimakan. Tapi, hemat khan…. Anak rohis itu kreatif alias kere tapi aktif.. #teROHIS.

Shalatnya Kepagian

Ini cerita waktu mahasiswa IPB dulu, waktu bulan Ramadhan

Ada niat dari beberapa teman sekelas, Zarkasy, Amri, dan Prio. Niatnya mau makan sahur di kaki Gunung Salak.  Teman-teman singgah dulu di rumah, menghangatkan makanan, rencananya melanjutkan perjalanan ke Sukamantri, untuk makan sahur.

Di rumah saya, ada nenek dari Garut yang sedang ke Bogor dan tinggal di rumah.

Continue reading

Kerja di Perusahaan Jepang dan ‘Dimakan’ Teman

Sejak drop-out dari IPB, saya kuliah lagi di Universitas Pakuan dan harus membiayainya sendiri. Mencari kerja ternyata tidak mudah. Saya pun kerja serabutan. Mulai jualan buku di pelataran mesjid, jaga rental komputer hingga jadi pelayan rumah makan cepat saji.

Di tahun kedua kuliah, saya mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan Jepang, Nippon Conveyor namanya. Spesialisasinya adalah membuat cobeyor (ban berjalan); kali ini sepanjang 57 kilometer di Tarjun, Kalimantan Selatan. Nippon Conveyor menerima projek ini dari PT. Bukaka.

Kenapa saya diterima bekerja disana? Karena saya bisa bahasa Inggris lisan. Ternyata, selain pendidikan, kompetensi juga jadi pertimbangan untuk bekerja.

Continue reading

Sedekah yang Dikembalikan

Dulu, saya pernah menjadi marboth (pengurus mesjid) di Universitas Pakuan, Bogor. Tugas pengurus mesjid itu ya mengurusi segala kegiatan yang berpusat di mesjid. Saya di bagian takmir (pemakmuran mesjid), baik dari sisi kegiatan maupun keuangan.

Nah, biasanya, salah satu kegiatan kami yang sering dilakukan bersama-sama dengan pengurus mesjid yang lain adalah menghitung jumlah uang yang dimasukkan oleh para jamaah ke dalam 3 keropak yang kami edarkan. Keropak-keropak itu dibuat seperti truk, beroda, warnanya coklat.

Biasanya, isi dari keropak itu bervariasi antara Rp 1000 hingga Rp 50.000 (jarang banget); maklum mesjid kampus. Suatu hari, usai shalat Jum’at, ada yang sangat berbeda dari uang dalam keropak masjid. Saya menemukan uang Rp 100.000, satu lembar. Dengan bahagianya saya mengabarkan kepada teman-teman yang lain.

“Alhamdulillah ya, ada orang yang memberi uang sebanyak ini… semoga dibalas berlipat-lipat” kata salah seorang kawan saya.

“Iya.. tumben nih, ada uang 100 ribuan nyasar kesini..” timpal yang lain.

Continue reading

Jadi Juru Damai ‘Tawuran’ yang Tidak Saya Lakukan

Ini cerita waktu SMA…

Suatu siang, sekitar jam 10-an, saya shalat dhuha di musholla yang belum jadi alias belum beratap, berdinding dan alasnya masih tembok semen kasar. Usai shalat dhuha, saya didatangi Pak Bachrum, pembina OSIS.

“Ban.. ikut saya yuk ke kantor Depdikbud…?” kata Pak Bachrum

“Mau ngapain Pak…?” tanya saya heran… tumben Pak Bachrum ngajak saya…

“Itu… di Depdikbud ada pertemuan dengan siswa Regina Pacis…” kata Pak Bachrum lagi menjelaskan

“Kok saya yang harus ikut..?” saya mulai curiga nih… takutnya dikaitkan dengan masalah beberapa hari lalu, perkelahian antara anak SMA 1 Bogor dengan SMA Regina Pacis

More...“Kamu khan anak OSIS, sie Rohani Islam, temenin Bapak untuk bertemu dengan perwakilan OSIS dari SMA RP, untuk membuat janji damai…” bujuk Pak Bachrum lagi…

Nah.. bener khan! Ternyata, saya diikut-ikutkan dengan peristiwa beberapa hari yang lalu. Jelasnya peristiwa itu begini (ini dari berbagai versi). Awalnya dari lapangan GOR Pajajaran, ada pertandingan bola basket. Biasa, pertandingan anak SMA, biasanya ‘panas’ dengan perang sorak menyoraki. Salah seorang siswa SMA (kemudian dikeluarkan), melakukan tindakan yang sangat menyinggung pihak SMA RP.

Akan, tetapi, keributannya baru terjadi besok harinya. Kakak kelas saya yang menjadi tokoh utama. Mereka nongkrong di dekat RP, dan ‘menghajar’ anak-anak RP yang keluar sekolah. Sialnya, salah satu mobil milik BAS (sekarang sudah jadi public figur), terkena darah cipratan dari siswa SMA 1 juga, mungkin dia me-lap darahnya ke bagian depan mobil. Jadi, ketika digerebeg, mobil itu pun jadi barang bukti dan dibawa ke kantor Polwil.

Siswa SMA 1 yang terlibat diinterogasi dan bahkan ditelanjangin kantor polisi. Tawuran ngga berhenti, karena malam harinya, penyerbuan dilakukan ke Lia di sukasari pada malam harinya sambil menyapu anak-anak RP.

BEsoknya lagi, Reza Pandit, ketua OSIS RP malah datang ke SMA 1, bawa temennya yang jadi korban, lengkap dengan perban di kepala. Ngga tau darah beneran atau didramatisir sana sini. Yang jelas, Pak Bachrum malah sewot dan marah-marahin Reza Pandit yang dateng kaya minta pertanggung jawaban, sampe bawa bukti hidup pula.

Ada efek positifnya sih, yang pertama pas Reza Pandit yang berambut gondrong itu datang pas razia rambut, jadi yang berambut gondrog selamat hari itu. Yang kedua, sejak itu anak STM swasta menyerang RP demi mendukung SMA 1. Makanya, sejak itu anak RP sering pulang jam 22.00 or jam 23.00; anak-anak SMA 1 juga begitu…

Sebenarnya antara SMA 1 Bogor dan SMA RP, dalam sejarahnya belum pernah berkelahi dengan sekolah mana pun. Artinya, kedua sekolah itu, sekaligus membuat sejarah melakukan perkelahian dan ribut dengan sekolah yang belum pernah ribut.

Suasana yang memanas dari dua sekolah yang terpisah oleh Balaikota Bogor itu memancing kekhawatiran dari pihak sekolah, termasuk guru-guru. Salah seorang guru Biologi kami, bahkan menyuruh siswa untuk memasukkan mobilnya ke dalam gerbang, karena takut dilempari batu. Dia ngga mikir, kalau waktu mindahin mobil itu, bisa aja siswa kena lempar batu.

Upaya perdamaian akhirnya ditempuh oleh kedua belah pihak, dan difasilitasi oleh Depdiknas di Bondongan. Nah, saya yang kebetulan ngga sengaja diajak oleh Pak Bachrum harus mewakili OSIS untuk berdamai dengan Reza Pandit, Ketua OSIS SMA Regina Pacis.

Saya nanya lagi ke Pak BAchrum…

“Emang, anak OSIS lain pada kemana Pak…?”

“Beberapa dari mereka juga ikut berantem….!” jawab Pak Bacrum enteng..

Pantes aja yang diajak saya.

Saya pun bersama Pak Bachrum ke Depdikbud. Disana sudah menunggu Pembina OSIS SMA RP dan Ketua OSISnya, yang juga tidak ikut tawuran. Setelah sambutan sana-sini, akhirnya, simbolisasi perdamaian dilakukan dengan bersalaman dan berpelukan antara saya dengan Reza Pandit; yang memang kami berdua tidak punya masalah sama sekali. Saya dan Reza Pandit menjadi juru damai dari perkelahian yang tidak kami lakukan.

Khotib yang berteriak “He-Man!”

Ini cerita masa SMA, saat saya kelas 2 di SMA 1 Bogor.

Saat itu saya jadi pengurus Dewan Kerja (tanpa) Musholla, karena pengurusnya sudah ada, tapi mushollanya ngga jadi-jadi. Saat itu hari Jum’at, dan kami harus menyiapkan shalat Jum’at. Ketiadaan musholla membuat kami yang hanya bermodal karpet, tikar, sajadah yang agak bagus buat imam, standing mike, speaker dan tali rafia (ini berfungsi untuk membatasi wilayah shalat Jum’at agar  tidak dilewati oleh siswa yang tidak sholat Jum’at).

Continue reading